Per Maret 2025, inflasi emas perhiasan secara tahunan sebesar 41,71 persen. Ini, antara lain, mencerminkan kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi perekonomian.
08 Apr 2025 15:58 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Setelah dua bulan beruntun mengalami deflasi, inflasi pada Maret 2025 tercatat sebesar 1,65 persen secara bulanan. Meski masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia, tingkat inflasi inti merangkak naik, terutama didorong oleh emas perhiasan yang mengalami inflasi hingga 41,71 persen secara tahunan.
Badan Pusat Statistik (BPS), Selasa (8/4/2025), merilis, tingkat inflasi bulanan dan tahunan pada Maret 2025 masing-masing sebesar 1,65 persen secara bulanan dan 1,03 persen secara tahunan. Ini terjadi setelah dua bulan beruntun terjadi deflasi secara bulanan, yakni 0,76 persen pada Januari 2025 dan 0,48 persen pada Februari 2025.
BPS mencatat, komoditas yang berandil besar terhadap tingkat inflasi Maret 2025 antara lain tarif listrik, ikan segar, cabai rawit, dan bawang merah. Selain itu, ada pula komoditas lain yang cukup dominan menyumbang inflasi, meliputi emas perhiasan, tarif air minum, serta nasi dengan lauk.
Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M Habibullah menjelaskan, kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga memberikan andil terbesar terhadap inflasi bulanan Maret 2025. Namun, kelompok pengeluaran ini turut memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan Maret 2025.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/08/764214c52d3ee5292586c7ea62a5d35f-Inflasi_Maret_2025.jpg)
Kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi secara bulanan sebesar 8,45 persen dan memberikan andil 1,18 persen. Secara tahunan, kelompok ini mengalami deflasi 4,68 persen dengan andil 0,74 persen.
”Tarif listrik yang dibayarkan pelanggan listrik PLN prabayar sudah kembali normal atau tanpa diskon pada Maret 2025. Sedangkan untuk pelanggan pascabayar, tarif listrik yang dibayarkan pada Maret 2025 atau atas pemakaian Februari 2025 adalah tarif dengan diskon,” katanya dalam konferensi pers secara hibrida di Jakarta.
Adapun pemerintah memberikan diskon tarif listrik 50 persen kepada pelanggan rumah tangga PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) dengan daya 450-2.200 volt ampere (VA) selama Januari-Februari 2025. Dengan berakhirnya insentif tersebut pada Maret 2025, tarif listrik pun kembali berlaku normal.
Inflasi tahunan (emas perhiasan) pada Maret 2025 sebesar 41,71 persen dan andilnya 0,44 persen. Walaupun dia (emas perhiasan) kenaikannya tinggi, andilnya kecil, perannya terhadap inflasi juga (rendah).
Alhasil, semua komponen mengalami inflasi secara bulanan pada Maret 2025. Komponen harga yang diatur pemerintah menjadi pendorong utama inflasi bulanan, dengan tingkat inflasi 6,53 persen yang berandil 1,16 persen.
Sebaliknya, komponen harga yang diatur pemerintah mengalami deflasi secara tahunan sebesar 3,16 persen dengan andil 0,16 persen. Penyumbang inflasi secara tahunan pada Maret 2025 justru berasal dari komponen inti yang mengalami inflasi 2,48 persen dengan andil 1,58 persen.
Secara tahunan, tren inflasi komponen inti cenderung terus meningkat, dari 1,77 persen pada Maret 2024 menjadi 2,48 persen pada Maret 2025. Demikian pula secara bulanan, inflasi inti dalam setahun terakhir cenderung meningkat, dari 0,23 persen pada Maret 2024 menjadi 0,24 persen pada Maret 2025.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/03/1a0d645061b7a44b9b8694dadcd961f2-20250403PRI9HR.jpg)
Habibullah menambahkan, komoditas dominan yang memberikan andil terbesar terhadap komponen inti ialah emas perhiasan, minyak goreng, kopi bubuk, dan nasi dengan lauk. Komoditas emas perhiasan pun turut menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi tahunan, yakni 0,44 persen.
”Inflasi tahunan (emas perhiasan) pada Maret 2025 sebesar 41,71 persen dan andilnya 0,44 persen. Walaupun dia (emas perhiasan) kenaikannya tinggi, andilnya kecil, perannya terhadap inflasi juga (rendah),” ujarnya.
Adapun emas perhiasan mengalami inflasi secara bulanan 3,77 persen dengan andil 0,05 persen. Secara tahun kalender berjalan, emas perhiasan mengalami inflasi 11,54 persen dengan andil 0,15 persen.
Mengutip data Bank Dunia, harga komoditas emas global akhir Maret 2025 tercatat hampir menembus 3.000 dollar AS per troy ounce. Ini meningkat 38,17 persen dibandingkan Maret 2024 yang masih berada pada level 2.072 dollar AS per troy ounce.
Di Indonesia, harga emas PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau Antam juga terus merangkak naik dalam setahun terakhir. Pada akhir Maret 2025, harga emas tercatat mencapai Rp 1,8 juta per gram atau naik 45,16 persen secara tahunan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/28/e6bdfbef-0bcf-41e2-8cdc-8b4dc7ff75c8_png.png)
Secara terpisah, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan, pembelian emas yang meningkat mengindikasikan masyarakat atau pemilik modal cenderung memilih instrumen yang aman (safe).
”Artinya, ada faktor kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi. Biasanya, itu diindikasikan dengan meningkatnya pembelian emas,” katanya saat dihubungi dari Jakarta.
Kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi ekonomi tersebut tidak lepas dari berbagai faktor makroekonomi, salah satunya harga saham yang turun dalam beberapa waktu terakhir. Dengan demikian, pembelian emas merupakan reaksi dari masyarakat untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk ke depan.
Inflasi Maret 2025 itu banyak dipengaruhi juga oleh faktor ”cost-push inflation” dibandingkan ”demand-pull inflation”. Jadi, itu satu hal. Tapi, ”demand-pull inflation”-nya juga ada karena faktor Ramadhan dan Lebaran yang dipicu oleh tambahan ”income” dari THR (tunjangan hari raya), baik dari kalangan ASN (aparatur sipil negara) maupun swasta.
Faisal menilai, wajar apabila pada Maret 2025 terjadi inflasi, baik secara tahunan maupun secara bulanan, karena Ramadhan dan Lebaran. Secara umum, kedua momentum ini lumrah akan memicu inflasi tertinggi sepanjang tahun.
Di sisi lain, momentum Ramadhan dan Lebaran jatuh bertepatan pada Maret 2025 sehingga semua sentimen inflasi terakumulasi pada satu bulan. Ditambah lagi, ada aspek tambahan berupa inflasi komponen harga yang diatur pemerintah seiring berakhirnya diskon tarif listrik.
”Inflasi Maret 2025 itu banyak dipengaruhi juga oleh faktor cost-push inflation dibandingkan demand-pull inflation. Jadi, itu satu hal. Tapi, demand-pull inflation-nya juga ada karena faktor Ramadhan dan Lebaran yang dipicu oleh tambahan income dari THR (tunjangan hari raya), baik dari kalangan ASN (aparatur sipil negara) maupun swasta,” ujar Faisal.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/07/e8f71cba-091c-4cc6-a38a-aaed6c3b67f3_jpg.jpg)
Senada, ekonom Bank Danamon, Hosianna Evalita Situmorang, berpendapat, tingkat inflasi Maret 2025 cenderung didorong oleh kenaikan harga pangan menjelang Idul Fitri, terutama cabai merah dan cabai rawit. Ini mencerminkan peningkatan permintaan menjelang hari raya dan pasokan yang lebih ketat di beberapa daerah.
Di sisi lain, penurunan inflasi komponen harga bergejolak menjadi 0,37 persen secara tahunan menandai perlambatan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Sementara itu, inflasi inti sebesar 2,48 persen secara tahunan didukung oleh pola konsumsi yang konsisten dan kenaikan harga yang moderat pada komoditas utama, seperti emas perhiasan, minyak goreng, bumbu-bumbu, dan makanan jadi.
”Ke depan, inflasi umum diperkirakan akan tetap berada dalam kisaran target Bank Indonesia (BI) sebesar 1,5-3,5 persen seiring dengan meredanya tekanan harga pangan dan harga minyak dunia yang terus terkoreksi,” kata Hosianna dalam keterangan tertulis.
Kendati demikian, nilai tukar rupiah cenderung masih berada dalam tekanan eksternal sehingga depresiasi kurs berisiko memicu inflasi barang impor (imported inflation). Secara historis, depresiasi rupiah lebih dari 8 persen per tahun telah menambah 1,5-2 persen pada inflasi dalam waktu 6-12 bulan.
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
Aris PrasetyoPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti