Emas Tak Lagi Eksklusif bagi Si Kaya

Data Susenas 2023 menunjukkan, di setiap lapisan ekonomi selalu ada rumah tangga yang memiliki emas sedikitnya 10 gram.

24 Mar 2025 07:00 WIB · Ekonomi

Oleh Dimas Waraditya Nugraha

Tak semua orang mampu menyisihkan penghasilannya untuk menabung akibat kebutuhan hidup yang setiap tahun terus meningkat. Namun, itu tidak berlaku bagi Sari Indrayati (39), orangtua tunggal dari remaja berusia 16 tahun di Tangerang Selatan, Banten. Menabung emas baginya adalah prioritas bulanan yang tak bisa ditinggalkan.

Sari bukanlah seorang pegawai swasta atau aparatur sipil negara yang setiap bulan mendapat kepastian gaji, bonus, serta tunjangan hari raya (THR) menjelang Idul Fitri.

Untuk menyambung hidup, ia sehari-hari menerima pesanan katering sembari membuka kios kecil di depan rumahnya yang menjual seblak dan bakso aci. Di luar itu, Sari menerima panggilan untuk sejumlah layanan kesehatan tradisional berbasis keterampilan, seperti akupuntur, refleksi, dan bekam.

”Penghasilan saya pas-pasan, apalagi harga kebutuhan pokok terus naik. Tapi, saya tetap menyisihkan sedikit untuk membeli emas setiap bulan, walaupun 0,5 gram atau 0,1 gram,” ujar Sari saat berbincang dengan Kompas, Sabtu (22/3/2025).

Kendati setiap bulan penghasilan bersihnya tak menentu, berkisar antara Rp 4 juta-Rp 6 juta, akses menabung emas yang semakin mudah melalui platform digital justru membuat Sari semakin rajin menabung emas.

Tahun ini menjadi tahun ketujuh Sari mulai menabung emas setiap bulan. Sejak berpisah dengan suaminya, ia bertekad untuk selalu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk berinvestasi, meskipun dalam jumlah kecil.

Keputusannya untuk terus menabung emas bukan tanpa tantangan. Dengan biaya sewa rumah yang meningkat serta harga bahan pokok yang terus naik, menyisihkan uang untuk investasi terasa semakin berat. Namun, Sari memiliki strategi untuk tetap konsisten, yakni mengurangi pengeluaran untuk hal-hal yang bersifat konsumtif.

”Awalnya sulit karena saya juga harus membayar cicilan dan kebutuhan lain, tapi saya anggap ini sebagai keharusan. Daripada uang habis untuk hal-hal yang kurang penting, lebih baik saya beli emas,” katanya.

Infografik ekonomi proporsi rumah tangga di setiap provinsi yang memiliki emas minimal 10 gram di Indonesia

Bagi banyak keluarga kelas menengah atau calon kelas menengah (aspiring middle class), emas tidak dipandang sebagai perhiasan, melainkan sebuah instrumen investasi atau tabungan yang mudah dicairkan ketika dibutuhkan.

Dian Lestari (34), pegawai administrasi di sebuah perusahaan swasta di Bekasi, Jawa Barat, mengatakan rutin membeli emas setiap beberapa bulan sebagai bentuk investasi jangka panjang.

”Dulu saya membeli emas hanya untuk dipakai, tapi sekarang saya sadar ini juga investasi. Kalau butuh dana mendadak, emas lebih mudah dijual daripada aset lain,” ujarnya.

Quote

Semua lapisan ekonomi di Indonesia hingga yang berstatus rentan dan miskin juga menyimpan emas.

Emas cenderung menjadi instrumen investasi favorit lantaran nilainya yang cenderung stabil, tak tergerus inflasi, dan wataknya yang likuid alias mudah dicairkan menjadi uang.

Meski terdapat selisih antara harga jual dan harga beli, emas mudah dijual dengan harga yang transparan. Ini tentu berbeda dengan aset tanah atau properti yang sering kali memerlukan waktu negosiasi panjang.

Infografik ekonomi kelompok penyimpan emas di Indonesia menurut kelas ekonominya

Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang diolah lembaga publikasi riset NEXT Indonesia Center menunjukkan, pada tahun 2023, warga kelas menengah berpenghasilan Rp 1,9 juta hingga Rp 9,4 juta per kapita per bulan menjadi kelompok yang paling banyak menyimpan emas minimal 10 gram.

Dari 15,19 juta rumah tangga kelas menengah di Indonesia, 6,16 juta rumah tangga atau 41 persen menyimpan emas minimal 10 gram. Adapun dari 439.620 rumah tangga kelas atas di Indonesia, 316.417 rumah tangga atau 71 persen menyimpan minimal 10 gram emas.

Berdasarkan hasil survei yang sama, terlihat jelas bahwa emas bukanlah komoditas eksklusif bagi kelompok rumah tangga menengah dan kaya. Semua lapisan ekonomi di Indonesia hingga yang berstatus rentan dan miskin juga menyimpan emas hingga 10 gram.

Dari total 36,83 juta rumah tangga calon kelas menengah, 6 juta rumah tangga atau 16,3 persen menyimpan setidaknya 10 gram emas.

Kelompok rentan dan miskin juga tak ketinggalan. Sebanyak 1 juta rumah tangga atau 7 persen dari total 15 juta rumah tangga rentan menyimpan emas. Adapun 217.789 kelompok rumah tangga atau 3,9 persen dari 5,5 juta rumah tangga miskin juga memiliki 10 gram emas.

Quote

Emas menjadi komoditas paling bersinar pada tahun 2024. Perkembangan harganya lebih moncer dari produk komoditas lainnya.

Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center Christiantoko menjelaskan, memang benar keluarga kelas menengah menjadi kelompok yang paling banyak menyimpan emas. Namun, tidak selamanya pembelian logam mulia emas sejalan dengan pertumbuhan tingkat konsumsi kelas menengah.

”Dalam kondisi ekonomi yang sedang melemah sekalipun, terdapat kecenderungan masyarakat akan mengurangi konsumsinya dan akan menyisihkan sebagian pendapatannya dalam bentuk aset berharga. Salah satunya, dalam bentuk emas atau logam mulia,” ujarnya.

Sementara pada saat ekonomi membaik, masyarakat di berbagai kelas ekonomi akan bersamaan atau secara paralel meningkatkan konsumsi disertai dengan pembelian logam mulia emas untuk meningkatkan jumlah asetnya.

Petugas melayani pengunjung yang melihat perhiasan emas yang ditawarkan di Galeri 24 Pegadaian di Jakarta, Selasa (19/3/2024). Selain logam mulia, perhiasan emas juga menjadi instrumen investasi yang diminati masyarakat.

Selain masalah preferensi, tidak dapat dimungkiri bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia lebih nyaman berinvestasi pada emas ketimbang instrumen investasi seperti saham ataupun obligasi. Kedua instrumen investasi terakhir dinilai lebih berisiko sehingga masyarakat memerlukan akses informasi dan pengetahuan lebih untuk meminimalkan risikonya.

”Ibu-ibu di perdesaan tentu lebih mudah dan lebih percaya untuk langsung membeli emas di toko daripada membeli instrumen investasi lain. Emas juga sangat mudah dicairkan apabila sewaktu-waktu memerlukan uang tunai,” katanya.

Popularitas emas meningkat sejalan dengan kinerja baiknya sebagai komoditas paling bersinar pada 2024. Perkembangan harga emas lebih moncer dari produk komoditas lainnya.

Harga emas Antam selama periode Januari-Desember 2024 naik 32 persen. Berdasarkan data dari harga-emas.org, harga emas Antam pada akhir Januari 2024 masih Rp 1,14 juta per gram.

Fenomena keemasan emas pada 2024, menurut penelitian perusahaan layanan keuangan internasional Goldman Sachs, disebabkan oleh kekhawatiran pasar terhadap ketidakpastian ekonomi dan politik beberapa tahun terakhir.

Pada 2025, harga emas diperkirakan melanjutkan peningkatan meski kecil kemungkinan bisa melampaui pertumbuhan pada 2024. Goldman Sachs memprediksi, logam mulia itu diperkirakan akan naik hingga 3.000 dollar AS per troy ounce pada akhir 2025. Kenaikan harga di level itu diperkirakan membuat pertumbuhan harga tahunan hingga 20 persen.

Emas bukan lagi simbol kemewahan bagi kalangan elite, tetapi telah menjadi investasi yang paling diminati berbagai kelas warga. Kemudahan akses lewat platform digital dengan satuan terkecil hingga 0,01 gram menjadikan emas kian populer sebagai instrumen investasi yang stabil di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini.


Kerabat Kerja

Penulis:

Dimas Waraditya Nugraha
 | 

Editor:

Agnes Theodora
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti