Kenaikan Emisi CO2 di Atmosfer pada 2024 Berlangsung Sangat Cepat

Pembakaran bahan bakar fosil, kebakaran hutan, dan melemahnya kemampuan Bumi menyerap karbon secara alami memicu lonjakan kadar karbon dioksida selama 2024.

20 Jan 2025 08:42 WIB · Humaniora

Oleh Ahmad Arif

JAKARTA, KOMPAS — Kadar karbon dioksida di atmosfer pada 2024 bertambah pada tingkat tahunan tercepat yang pernah tercatat. Kenaikan tajam CO2 yang berkontribusi pada rekor tertinggi kenaikan suhu ini didorong oleh pembakaran bahan bakar fosil, kebakaran hutan yang dahsyat, dan melemahnya kemampuan Bumi menyerap karbon secara alami.

Lonjakan kadar karbon dioksida (CO2) di atmosfer ini terekam di Observatorium Mauna Loa di Hawaii yang telah melakukan pengukuran tersebut selama lebih dari 60 tahun. Data yang dirilis akhir pekan ini menunjukkan, kadar CO2 itu telah melonjak sebesar 3,58 bagian per juta (ppm). Angka ini berada di atas prediksi 2,84 ppm dari Kantor Meteorologi Inggris.

Richard Betts, yang memimpin prakiraan cuaca di Kantor Meteorologi Inggris, mengatakan, data menunjukkan, emisi CO2 saat ini meningkat rata-rata 2,5 ppm dalam satu dekade terakhir. Ini berarti, kenaikan emisi pada 2024 jauh lebih tinggi dari rata-ratanya dalam dekade ini.

Menurut Betts, pengukuran satelit juga menunjukkan peningkatan yang sangat besar di seluruh dunia pada tahun 2024. Situasi ini terjadi karena tingginya pembakaran bahan bakar fosil, selain melemahnya penyerapan karbon alami oleh hutan tropis dan kebakaran hutan yang meluas.

Berkurangnya karbon yang diserap oleh hutan dan kebakaran lahan terutama didorong oleh kondisi panas yang terkait dengan pola cuaca El Nino di Pasifik, yang mendorong naiknya suhu global dan perubahan iklim.

Asap membumbung dari cerobong Pembangkit Listrik Tenaga Uap Jawa Barat 2 atau yang dikenal dengan PLTU Pelabuhan Ragu yang terletak Pantai Cipatuguran, Kelurahan Jayanti, Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/1/2023). Pembangkit ini mempunyai kapasitas produksi 3x350 megawatt. Dikutip dari ptba.co.id, PT PLN (Persero) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) melakukan penjajakan dalam pengakhiran lebih awal (early retirement) PLTU Palabuhanratu. Dengan program pengakhiran lebih awal, masa operasional PLTU Palabuhanratu akan terpangkas dari 24 tahun menjadi 15 tahun yang berpotensi memangkas emisi karbondioksida (CO2) ekuivalen sebesar 51 juta ton atau setara Rp 220 miliar. Kompas/wisnu widiantoro 04/1/2023

Proyeksi tahun 2025

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pekan sebelumnya telah mengumumkan bahwa tahun 2024 menjadi tahun terpanas, dengan kenaikan suhu 1,55 derajat celcius di atas suhu rata-rata tahun 1850-1900. Ini berarti bahwa kita baru saja mengalami tahun pertama dengan suhu rata-rata global lebih dari 1,5 derajat celcius.

Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo memperingatkan, kita tidak hanya mengalami satu atau dua tahun panas yang memecahkan rekor, tetapi hal ini sudah terjadi dalam sepuluh tahun penuh. Kenaikan suhu ini juga disertai dengan cuaca yang dahsyat dan ekstrem, naiknya permukaan air laut, dan mencairnya es.

Quote

Kita tidak hanya mengalami satu atau dua tahun panas yang memecahkan rekor, tetapi hal ini sudah terjadi dalam sepuluh tahun penuh.

Tahun 2025 diproyeksinya akan sedikit lebih dingin, dipicu oleh kemunculan La Nina yang menggeser El Nino. Namun, suhu Bumi diperkirakan tetap akan berada dalam tiga tahun terpanas sejak setidaknya tahun 1850 ketika pencatatan modern dimulai.

Betts mengatakan, pergeseran ke fenomena cuaca La Nina memungkinkan penyerap alami seperti hutan menyerap lebih banyak karbon daripada tahun-tahun sebelumnya, sehingga memperlambat kenaikan C02 untuk sementara. "Namun, menghentikan pemanasan global membutuhkan adanya pengurangan emisi gas rumah kaca di udara," katanya.

Upaya mencegah pemanasan global lebih dari 1,5 derajat celsius di atas suhu praindustri merupakan salah satu komitmen utama Perjanjian Paris yang disetujui negara-negara pada tahun 2015 untuk mencegah dampak paling berbahaya dari perubahan iklim.

Karbon dioksida di atmosfer memerangkap panas dan kadar gas yang lebih tinggi memerangkap lebih banyak panas, sehingga mendorong peningkatan suhu global dari waktu ke waktu. Akibatnya, kenaikan permukaan laut, kekeringan yang lebih ekstrem, badai, banjir, serta dampak buruk pada satwa liar dan sistem alam yang kritis.

Untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat celsius, peningkatan CO2 di atmosfer harus melambat hingga 1,8 ppm per tahun dekade ini, sebelum kemudian berhenti atau nol emisi, bahkan mulai menurun di dekade berikutnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ahmad Arif
 | 

Editor:

Adhitya Ramadhan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .