Perjanjian itu merupakan respons terhadap seruan para pekerja film Palestina.
01 Apr 2026 07:19 WIB · Tokoh
AFP/VALERIE MACON
Pemain film Emma Stone (37) bersama lebih dari 5.000 aktor, sutradara, dan pekerja profesional di industri film menyatakan sikap bersama melalui sebuah perjanjian. Melansir dari The Guardian, mereka menegaskan tidak akan bekerja sama dengan lembaga film Israel yang diduga kuat terlibat dalam genosida dan praktik apartheid terhadap rakyat Palestina.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/26/ab00f29d162d6a6e567a09de5dc5359a-063_2247059813.jpg)
Perjanjian ini diinisiasi oleh Film Workers for Palestine, sebuah gerakan yang mewadahi pekerja industri film dalam menyerukan penghentian genosida serta kemerdekaan Palestina.
Pertama kali ditandatangani oleh lebih dari 1.300 pekerja film. Menurut Vanity Fair, Stone menjadi salah satu aktris yang menyusul penandatanganan tersebut pada 10 September 2025. Aktris yang berperan dalam film Bugonia (2025) dan Cruella (2021) itu mengikuti jejak segenap jajaran aktor lain, seperti Mark Ruffalo, Javier Bardem, dan Joaquin Phoenix.
Stone tahun ini masuk nominasi Oscar untuk kategori Perempuan Pemeran Utama Terbaik dari perannya di film Bugonia. Seperti dikutip dari The Hollywood Reporter, Stone merupakan perempuan aktor termuda dalam sejarah Hollywood yang berhasil mendapatkan tujuh nominasi Oscar dalam kariernya.
Dalam pernyataan bersama, Stone bersama para profesional film menegaskan komitmen mereka, ”Sebagai pembuat film, aktor, pekerja industri film, dan lembaga, kami menyadari kekuatan sinema dalam membentuk persepsi. Di tengah krisis yang mendesak ini, ketika pemerintah kami membiarkan pembantaian di Gaza terus berlangsung, kami harus melakukan segala yang kami bisa untuk tidak terlibat dalam kengerian yang tak berkesudahan tersebut.”
Melalui surat itu, dinyatakan juga bahwa perjanjian tersebut merupakan respons terhadap seruan para pekerja film Palestina. ”Kami menjawab seruan para pekerja film Palestina yang telah mendesak industri film internasional untuk menolak bungkam, rasisme, dan dehumanisasi, serta untuk melakukan ’segala upaya yang memungkinkan’ untuk mengakhiri keterlibatan dalam penindasan mereka.”
”Terinspirasi oleh Filmmakers United Against Apartheid yang menolak menayangkan film mereka di Afrika Selatan yang menerapkan apartheid, kami berjanji untuk tidak menayangkan film, tampil di, atau bekerja sama dengan lembaga film Israel—termasuk festival, bioskop, penyiaran, dan perusahaan produksi—yang terlibat dalam genosida dan apartheid terhadap rakyat Palestina,” demikian pernyataan tersebut.
Catatan: Artikel ini disusun oleh peserta magang Harian Kompas, yakni Kania Shiva Adivinna Soedira, mahasiswi Jurusan Sastra Perancis Universitas Indonesia di Depok, Jawa Barat.
Penulis:
Sarie FebrianeEditor:
Sarie FebrianePenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul