Empat kabupaten dan kota di kawasan pantai utara Jawa Tengah dan Jawa Barat diterjang banjir. Alarm kerusakan lingkungan di pantura terus berbunyi.
28 Des 2025 14:14 WIB · Lingkungan
KOMPAS
Banjir menerjang empat kabupaten dan kota di kawasan pantai utara Jawa Barat dan Jawa Tengah yang mengakibatkan belasan ribu warga terdampak. Salah satu pemicu bencana ialah perubahan alih fungsi kawasan serapan air dan daerah aliran sungai.
Dari pantauan Kompas, banjir menerjang satu kota dan dua kabupaten di kawasan pantura Jateng, yakni Kabupaten Tegal, Kota Semarang, dan Kabupaten Kudus, serta Kabupaten Cirebon di pantura Jabar.
Banjir di Tegal terjadi pada Selasa (23/12/2025), tepatnya di Desa Capar dan Desa Tembok Banjaran. Banjir dipicu luapan air sungai saat terjadi hujan deras dan mengakibatkan 37 keluarga terdampak.
Kemudian, banjir di Kota Semarang dan Kabupaten Kudus terjadi pada Jumat (26/12/2025). Pemicu banjir di Semarang karena tanggul Sungai Plumbon di Kecamatan Tugu dan Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Jateng, jebol di sejumlah titik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/26/45771bae049242d50d966733819e572f-IMG_0009.jpeg)
Jebolnya tanggul-tanggul sungai itu terjadi pada Jumat petang seusai hujan deras mengguyur wilayah Kota Semarang. Dari data sementara, sebanyak 315 keluarga dan 1.200 warga terdampak.
Banjir di Kudus tepatnya di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, dipicu luapan Sungai Piji setelah hujan selama berjam-jam. Data sementara, 130 rumah terendam air setinggi 70 hingga 100 sentimeter. Diduga terjadi pendangkalan di sungai itu.
Sementara di Kabupaten Cirebon, banjir terjadi juga pada Selasa dan Kamis (24/12/2025) di 24 desa yang tersebar di 9 kecamatan. Tercatat sebanyak 4.107 keluarga atau 10.827 jiwa terdampak.
Banjir dipicu hujan dengan intensitas tinggi di wilayah Cirebon dan daerah hulu di Kabupaten Kuningan. Kondisi ini menyebabkan sungai meluap sehingga air masuk ke kawasan permukiman warga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/11/15/76becbf9-b3df-42e3-8593-0aa7e7bc412c_jpg.jpg)
”Mayoritas kecamatan di Cirebon yang terdampak banjir sudah surut. Hanya di Desa Pangerangan, Kecamatan Pangenan, yang masih ada genangan air,” kata Hadi Rahmat Hardjasasmita selaku Pranata Humas Ahli Muda BPBD Jawa Barat, Minggu (28/12/2025).
Adapun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi peningkatan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia menjelang periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
Aktifnya Monsun Asia menjadi pemicu utama meningkatnya suplai massa udara basah yang diprediksi akan berdampak pada mobilitas tinggi masyarakat di akhir tahun.
Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani memaparkan, dalam periode sepekan ke depan hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat berpotensi terjadi di sebagian wilayah Riau, Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selayan, dan Papua Selatan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/28/b75486dd63597671a2b693d91c96c6dd-Screenshot_20251228_133656.jpg)
”Secara klimatologis, wilayah yang perlu diwaspadai meliputi Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Papua Selatan. Peningkatan curah hujan ini diperkirakan terjadi mulai akhir Desember hingga awal Januari 2026,” kata Andri.
Farida Mahri, pegiat lingkungan dan pendidikan di Kabupaten Cirebon, menilai, fenomena banjir yang kerap terjadi di Cirebon bukan hanya dipicu faktor cuaca ekstrem. Menurut dia, faktor lingkungan turut menjadi pemicu utama banjir.
Menurut pendiri Yayasan Wangsakerta ini, terjadi penurunan luasan kawasan serapan air seperti hutan dan daerah persawahan seperti di Desa Dawuan, Kecamatan Tengah Tani.
Selain itu, terjadi pendangkalan akibat sedimentasi lumpur di sungai yang melintasi delapan kecamatan terdampak banjir. Diperkirakan kedalamanan sungai hanya berkisar 2-3 meter saja.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/28/cd063a22dc6ba95285a606332dd5635e-Screenshot_20251228_133601.jpg)
”Areal persawahan di daerah Dawuan telah berubah menjadi kawasan permukiman. Sementara di sungai terjadi pendangkalan karena penumpukan sendimen yang terbawa saat hujan,” ujarnya.
Ia menuturkan, faktor lainnya ialah degradasi di kawasan hutan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Data Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi pada 2014 sudah menunjukkan ada 7.222,05 hektar area ekosistem terdegradasi di TNGC yang direkomendasikan untuk direstorasi.
Data ini berarti sekitar 49 persen total kawasan yang terdegradasi dan memerlukan rehabilitasi. Kondisi ini memicu banjir serta krisis air di wilayah hilir Daerah Aliran Sungai Ciayumajakuning, yang meliputi Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan.
”Diperlukan upaya sinergitas antara pemda di DAS Ciayumajakuning untuk menyelamatkan lingkungan terutama DAS Ciayumajakuning,” tuturnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/26/e3713e20c784e2cd34f1c4a1cb168e27-IMG_0008.jpeg)
Ketua Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Islam Sultan Agung Semarang Mila Karmilah menilai, fenomena curah hujan yang tinggi sudah terjadi berulang kali. Akan tetapi, belum ada perubahan signifikan dalam pengelolaan lingkungan untuk mengatasi banjir.
Menurut di, daerah tangkapan air di wilayah pantura Jawa semakin berkurang baik di hulu maupun hilir. Hal ini berimbas air akan melimpas ke jalan dan pemukiman.
Ia mengungkapkan, perubahan alih fungsi lahan paling masif diduga terjadi di kawasan pesisir menjadi kawasan industri di wilayah Semarang dan Demak. Tercatat sudah berdiri 40 kawasan industri di dua wilayah tersebut.
”Diduga alih fungsi lahan di kawasan hulu semakin masif seperti permukiman dan infrastruktur. Selain itu, pembangunan kawasan industri di pesisir turut memperparah kondisi banjir di pantura,” ucapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/04/06/1beed2d6-0c81-4fee-bcfd-3e3b50085471.jpg)
Selain pesisir, lanjut Mila, hilangnya kawasan resapan di hulu akibat alih fungsi lahan menyebabkan meningkatnya air limpasan yang membawa sedimen ke sungai. Akibatnya, sungai semakin dangkal dan daya tampung air berkurang sehingga memicu banjir.
”Kondisi ini terlihat dari sejumlah DAS di wilayah Semarang dan Demak. Misalnya DAS Tuntang dan DAS Wulan yang memerlukan pemulihan secara menyeluruh,” ujarnya.
Banjir diperkirakan kembali terjadi ketika cuaca ekstrem melanda wilayah pantura Jawa. Pemerintah daerah janganlah terus menutup mata dan menyalahkan faktor cuaca sebagai pemicu banjir.
Saatnya pemerintah setempat di kawasan ini bersinergi mencari solusi demi mencegah kerusakan lingkungan terus meluas dan tidak memicu bencana ekologis berskala besar.
Penulis:
Fabio Maria Lopes CostaEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto