Macron melawat lagi ke China. Ia berkunjung ke Chengdu, ditemani Xi. Perlakuan yang istimewa dan tidak biasa.
04 Des 2025 20:20 WIB · Internasional
AFP
BEIJING, KAMIS — Presiden Perancis Emmanuel Macron berkunjung lagi ke China. Ini lawatan keempat kalinya selama ia menjabat. Ia pun mendapat perlakuan khusus dari Xi.
Macron kembali mengajak Presiden China Xi Jinping untuk membantu mengakhiri perang di Ukraina dan mengatasi defisit perdagangan. Perancis juga mencoba menarik lebih banyak investasi dari China.
”China mendukung segala upaya perdamaian dan berharap semua pihak akan mencapai perdamaian yang adil, langgeng, dan mengikat yang dapat diterima,” kata Xi kepada Macron saat keduanya bertemu di Aula Besar Rakyat di Beijing, Kamis (4/12/2025).
China merupakan mitra dagang utama Rusia. Beijing sudah menyatakan sikap netral terhadap perang di Ukraina dan tidak mengecam invasi Rusia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/04/b2f936b511e3892b064b9826ee2b7619-wires_photo_13.jpg)
Bukan hanya soal perdamaian Rusia-Ukraina. Xi juga menginformasikan, China akan menyediakan 100 juta dollar AS untuk membantu krisis kemanusiaan dan pemulihan serta rekonstruksi di Jalur Gaza.
Dalam pertemuan tertutup, Xi dan Macron sepakat bekerja sama lebih erat dalam sejumlah isu bilateral dan global. Macron berupaya melibatkan China dalam menekan Rusia untuk mencapai gencatan senjata dengan Ukraina.
”Perancis dan China harus bisa mengatasi perbedaan dan berupaya mewujudkan perdamaian dan stabilitas di dunia, Ukraina, dan kawasan lain yang terdampak perang. Kapasitas kita untuk bekerja sama sangat menentukan. Saya mengusulkan tiga agenda untuk hubungan kita, yakni stabilitas geopolitik, penyeimbangan kembali ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan,” ujar Macron.
Sependapat dengan Macron, Xi menyerukan untuk membangun kepercayaan politik yang lebih besar dengan Perancis. Caranya dengan menunjukkan dukungan satu sama lain sekaligus ”kemandirian” masing-masing. ”China dan Perancis harus menunjukkan rasa tanggung jawab, mengedepankan multilateralisme, dan berdiri di sisi sejarah yang benar,” kata Xi.
Selain upaya diplomasi perdamaian, Macron mendorong kerja sama perdagangan. Pada kunjungan kali ini, Macron membawa rombongan besar yang akan membahas isu perdagangan.
Xi menyatakan sepakat dengan Perancis untuk menjalin kerja sama lebih erat di bidang kedirgantaraan, aeronautika, energi nuklir, dan bidang-bidang baru seperti industri hijau dan kecerdasan buatan.
Kedua pemimpin negara menandatangani 12 perjanjian, termasuk kerja sama konservasi panda serta pertukaran di bidang pendidikan tinggi dan penelitian. Xi mengatakan, China berencana memperluas akses pasar dan membuka area investasi.
China punya kepentingan ingin meredakan ketegangan perdagangan dengan 27 negara anggota Uni Eropa terkait industri kendaraan listrik. Beberapa tahun terakhir, hubungan China-UE ditandai oleh sengketa perdagangan di berbagai industri setelah UE menggelar penyelidikan terhadap subsidi kendaraan listrik China. China membalas dengan menyelidiki impor brendi, daging babi, dan produk susu Eropa.
Namun, Perancis berhasil mendapatkan pengecualian bagi mayoritas produsen minuman alkohol cognac pada Juli lalu. ”China berupaya memecah belah UE dengan membuat kesepakatan bilateral dengan setiap negara anggotanya,” kata peneliti kebijakan luar negeri dan keamanan nasional di Asia Society, Lyle Morris.
UE menghadapi defisit perdagangan sebesar 357 miliar dollar AS dengan China. Sementara China ingin menampilkan diri sebagai mitra dagang yang andal dan pasar alternatif bagi Amerika Serikat karena ekonomi global menghadapi risiko resesi akibat tarif Presiden AS Donald Trump.
Macron sebelumnya mendesak UE untuk mengurangi ketergantungan pada China dan meningkatkan kapasitas di sektor teknologi. Menurut dia, akan lebih baik jika Eropa mandiri dan tidak menjadi ”pengikut” perusahaan teknologi AS dan China.
Selain bertemu Xi, Macron dijadwalkan bertemu Ketua Kongres Rakyat Nasional Zhao Leji dan Perdana Menteri China Li Qiang. Macron bersama Xi kemudian bertolak ke Chengdu di Provinsi Sichuan.
Xi memberikan perlakuan istimewa kepada Macron. Selama ini ia jarang bergabung dengan para pemimpin dunia yang berkunjung setelah mereka meninggalkan Beijing.
Di Chengdu terdapat Pusat Konservasi dan Penelitian Panda Raksasa. Di situ tempat Yuan Meng kini tinggal. Yuan Meng adalah panda raksasa pertama yang lahir di Perancis dan diberi nama oleh Ibu Negara Brigitte Macron.
Pada November, Perancis memulangkan beberapa panda raksasa bintang ke China. Mereka telah tinggal di Perancis selama 13 tahun dan melahirkan tiga anak.
Para pengamat menilai, terlepas dari keakraban Xi dan Macron, ada kendala politik yang membebani kemitraan mereka. Xi diperkirakan tidak akan menyetujui pesanan 500 pesawat Airbus yang telah lama dinantikan.
Hal itu dikhawatirkan akan melemahkan Beijing selama perundingan dagang dengan AS yang mendesak komitmen pembelian pesawat Boeing baru. Xi juga kemungkinan besar tidak akan menaikkan harga minimum yang harus dipenuhi mayoritas industri cognac Perancis untuk menjual produknya ke konsumen China.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/06/068d1155-9348-4885-8136-e86eaf59da25_jpg.jpg)
Macron pada masa lalu telah berupaya memproyeksikan kubu Eropa yang kuat dalam berurusan dengan China, sambil berhati-hati agar tidak membuat Beijing marah. Ini karena China merupakan pasar ekspor utama bagi banyak perusahaan terkemuka Perancis.
Para eksekutif puncak dari Airbus, bank terbesar Perancis BNP Paribas, raksasa listrik Schneider, dan produsen kereta api Alstom, bersama para pemimpin kelompok industri susu dan unggas Perancis, ikut dalam kunjungan Macron kali ini ke China.
Rombongan besar ini diharapkan bisa membantu mengurangi defisit perdagangan barang UE dengan China yang membengkak hampir 60 persen sejak 2019. ”Fondasi tata kelola ekonomi harus diseimbangkan kembali. Aturan yang lebih adil dan kuat perlu, alih-alih berdasarkan survival of the fittest,” kata Macron.
Menurut data bea cukai China, nilai pembelian barang China dari Perancis sekitar 35 miliar dollar AS per tahun. Sekitar 10 persen dari produk itu adalah kosmetik. Suku cadang pesawat terbang dan minuman beralkohol menjadi ekspor utama lainnya.
Di sisi lain, Perancis menerima produk China senilai sekitar 45 miliar dollar AS. Mayoritas adalah paket bernilai rendah melalui pelantar daring seperti Shein, berupa pakaian, aksesori, dan gawai murah dari pabrik-pabrik di China. Ini dimungkinkan berkat keringanan bea cukai UE untuk pembelian di bawah 150 euro. (REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase