Empat Warga Nagekeo Masih Hilang, Banjir Bandang Picu Krisis Air Bersih

Lebih dari 20 desa di Kabupaten Nagekeo, NTT, terdampak banjir bandang dan tanah longsor. Sejumlah warga yang hilang masih dicari.

11 Sep 2025 16:42 WIB · Lingkungan

Oleh Frans Pati Herin

KUPANG, KOMPAS — Empat orang masih hilang akibat banjir bandang di Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Sementara itu, warga terdampak lainnya mengalami krisis air bersih dan terkendala putusnya jaringan telekomunikasi.

Hingga Kamis (11/9/2025) petang, pencarian korban hilang masih dilakukan petugas dan warga setempat. Diduga, korban berada di bawah tumpukan material banjir berupa lumpur, batu, dan kayu. Selain ekskavator, pencarian dilakukan dengan alat seadanya.

Sebelumnya, empat korban meninggal berhasil dievakuasi dan dimakamkan petugas gabungan. Mereka adalah Agustinus Lena, Remigius Sopi Bela, Maria Kondriana Nua, dan Francelina Meli Goa.

Adapun warga yang masih dicari adalah Mariano Tom Busa Jago, Achiles Agustinus Busa Jago, Sebastiana Soo, dan Desiderius Geraldi Jo.

Kepala Pelaksana Badan Penanggungan Bencana Daerah Kabupaten Nagekeo Agustinus Pone melaporkan, korban terbanyak ada di Desa Sawu, Kecamatan Mauponggo. Banjir terjadi akibat luapan Sungai Teodhae.

Di Sawu, tiga orang meninggal dan empat lainnya masih hilang. Ketika banjir bandang, korban berada di satu rumah semipermanen. Korban bersama rumahnya hanyut terbawa banjir.

Penanganan bencana di Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Rabu (10/9/2025).

Masih di desa yang sama, tiga jembatan juga putus dan rubuh. Puluhan hektar sawah rata disapu banjir serta jaringan telekomunikasi lumpuh total. Warga yang selamat mengungsi ke rumah kerabatnya.

Menurut Agustinus, bantuan makanan bagi para korban terus disalurkan. Kebutuhan mendesak, seperti obat-obatan, perlengkapan medis, tenda, tarpal, dan tempat penampungan air, juga diberikan.

Pada Kamis pagi tadi, tim dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sudah datang ke lokasi bencana. Mereka membantu proses penanganan dan pencarian korban.

Selain Sawu, setidaknya 20 desa lain di Kecamatan Mauponggo terdampak. Di Kecamatan Boawae sebanyak satu desa dan di Kecamatan Nangaroro sebanyak lima desa. Sejumlah ruas jalan antarkecamatan putus. Akses transportasi lumpuh.

Sementara itu, Vicko Mudja (38), warga Mauponggo, mengatakan, masyarakat juga mengalami krisis air bersih. Sejumlah mata air tertutup  material longsor.

Banjir juga merusak jaringan perpipaan. Ia berharap bantuan air bersih untuk warga dipercepat.

”Saat ini air bersih didatangkan dari desa lain menggunakan mobil tangki. Waktu tempuh perjalanan lebih dari satu jam. Ada juga yang didatangkan dari kabupaten tetangga. Kami berharap air bersih diutamakan,” kata Mudja.

Kerusakan jaringan perpipaan akibat bencana di Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Rabu (10/9/2025).

Ia menambahkan, akses telekomunikasi, khususnya jaringan internet, di daerah Mauponggo nyaris lumpuh total. Untuk berkomunikasi, mereka harus mencari sinyal di titik tertentu. Beberapa desa bahkan sudah tidak bisa mendapat sinyal telekomunikasi.

Ia juga berharap agar penyaluran bantuan langsung ke masyarakat yang saat ini masih mengungsi di rumah penduduk.

Bantuan yang disalurkan lewat lembaga pemerintah terkadang lambat dalam proses distribusi. Alasannya, petugas yang mengurus penanganan bencana masih minim.

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena di Kantor DPRD NTT pada Senin (8/9/2025).

Menanggapi hal ini, Gubenur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mengatakan, hampir semua wilayah di bagian selatan Flores terkena longsor. Lokasinya mulai dari Ende, Nagekeo, Ngada, sampai Manggarai. Yang paling parah berdasarkan laporan dari tim adalah daerah Mauponggo di Nagekeo.

”BNPB sudah mengirim helikopter. Per hari ini, Wakil Menteri PU (Pekerjaan Umum) sudah masuk Nagekeo. Jadi, dari pusat sudah mulai turun. Dari kami sudah mulai bergerak sejak awal kejadian,” kata Melkiades.


Kerabat Kerja

Penulis:

Frans Pati Herin
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra