Empat warga Banyuwangi menjadi korban selamat dalam tragedi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya. Mereka berhasil selamat berkat sekoci yang mereka gunakan.
03 Jul 2025 12:37 WIB · Nasional
JAKARTA, KOMPAS — Kapal Motor Penumpang atau KMP Tunu Pratama Jaya tenggelam di Selat Bali pada Rabu (2/7/2025) malam. Empat penumpang ditemukan selamat di Perairan Cekik, Bali, setelah menumpang sekoci dari kapal yang tenggelam tersebut.
Empat penumpang yang selamat tersebut adalah warga Banyuwangi. Tiga orang di antaranya, yaitu Saroji (47), Mansur (40), dan Romi Alga Hidayat, berasal dari Blimbingsari, Banyuwangi. Adapun satu korban selamat lainnya, Sandi (44), adalah warga Genteng, Banyuwangi.
Informasi tersebut disampaikan Kepala Kantor SAR Surabaya Nanang Sigit yang menjadi SAR Mission Coordinator dalam operasi SAR ini. ”Saat ini, empat penumpang selamat tersebut berada di kantor BPTD Gilimanuk untuk dimintai keterangan,” ujar Nanang dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas, Kamis (3/7/2025) pagi.
Nanang mengatakan, Tim SAR Gabungan masih mencari korban KMP Tunu Pratama Jaya lainnya. Adapun unsur yang berkoordinasi dalam pencarian ini, antara lain, ialah Basarnas Kantor SAR Surabaya, Pos SAR Banyuwangi, Pos SAR Jembrana, Syahbandar Banyuwangi dan Gilimanuk, Korps Kepolisian Perairan dan Udara (Polairud) Banyuwangi, Polair Polres Jembrana, dan Polairud Polda Bali.
Unsur lain yang membantu ialah Satuan Brimob Batalion C Gilimanuk, Pangkalan TN Angkatan Laut (Lanal) Banyuwangi, Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Gilimanuk, Kesatuan Pelaksanaan Pengamanan Pelabuhan (KP3) Banyuwangi, Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) II Gilimanuk, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi. Bantuan juga datang dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Banyuwangi; Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Banyuwangi; dan Taruna Siaga Bencana (Tagana) Banyuwangi; serta potensi SAR lainnya.
”Kami juga mengerahkan KN SAR 249 Permadi. Kapal ini Sudah berangkat dari Surabaya tadi pagi sekitar pukul 05.30 dan diperkirakan akan tiba di Selat Bali pada pukul 14.30. Kapal ini membawa serta 13 orang kru,” ujarnya.
KMP Tunu Pratama Jaya dilaporkan mengalami kebocoran di bagian mesin dan tenggelam di Selat Bali, Rabu (2/7/2025) malam. Kapal membawa 53 penumpang dan tengah dalam pelayaran dari Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi, Jawa Timur, menuju Gilimanuk, Bali.
Hingga Kamis (3/7) pagi, tim pencarian dan pertolongan (SAR) gabungan berupaya mencari korban. Berdasarkan data sementara yang diterima Kompas, kapal memuat 53 penumpang, 12 kru, dan puluhan kendaraan. Adapun jumlah penumpang selamat 23 orang, meninggal 4 orang, dan dalam pencarian 38 orang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/03/4ec2751f4ff93f7ec6d43eee2edc21da-IMG_20250703_WA0040.jpg)
Tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya bukanlah kasus pertama yang terjadi di Selat Bali. Harian Kompas (Kompas.id) pernah meliput tenggelamnya KMP Yunicee 4 tahun yang lalu tepatnya pada Selasa, 29 Juni 2021.
Sejumlah pelaut yang diwawancara saat itu mengakui Selat Bali memang memiliki karakteristik arus dan ombak yang sangat kuat.
Kuatnya arus di Selat Bali diakui oleh Arnoldus Yansen (65), pensiunan pegawai PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (PT ASDP) yang pernah 18 tahun bertugas di penyeberangan Ketapang-Gilimanuk sejak tahun 1987 hingga 2005.
”Saya pernah tugas di Selat Rote, Selat Madura, Selat Sunda, Raja Ampat, Maluku Tenggara dan Kupang. Harus diakui, arus yang paling kencang itu ada di Selat Bali,” ujarnya ketika berbincang dengan Kompas, Rabu (30/6/2021).
Yansen mengatakan, ada sembilan palung besar dan dalam di Selat Bali. Keberadaan palung itu turut membuat arus berubah dengan sangat cepat dan kuat. Kadang arus di atas palung itu seolah menjadi pusaran yang bisa menarik benda di sekitarnya.
Sebagai antisipasi, sejumlah lampu suar ditempatkan di dekat palung-palung itu. ”Kalau kamu menyeberang, melihat ada lampu-lampu merah mengapung di tengah (Selat Bali), itu dekat dengan palung. Kamu lihat saja arusnya sekuat apa,” ujar laki-laki yang pernah menjabat sebagai General Manager PT ASDP cabang Kupang dan cabang Maluku Tenggara itu.
Ia mengisahkan, kapal dengan kecepatan melaju 10 knot bisa terhenti bahkan dipaksa mundur karena terseret arus. Kecepatan 10 knot di laut, setara dengan 18 kilometer per jam. Bila kecepatan 10 knot tidak bisa melaju atau bahkan mundur, berarti kekuatan arus di Selat Bali bisa lebih dari 10 knot.
Kuatnya arus Selat Bali mengharuskan setiap kapal memiliki perwira jaga yang andal, serta memahami pasang surut dan kecepatan air. Awak kapal yang paham karakteristik Selat Bali, lanjut Yansen, pasti mengetahui jalur mana yang aman untuk dilalui.
”Tidak bisa kapal gerak lurus dari Ketapang ke Gilimanuk atau sebaliknya. Kalau arus ke selatan, kapal harus ke utara dulu. Dengan bantuan arus, ia akan masuk ke dermaga. Kalau kapal itu potong kompas, dia bisa kebuang (terseret) sampai Muncar, di Banyuwangi selatan,” tutur Yansen.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/03/25/22d77def-5d7e-4e80-9791-2ca0ce21a8d4.jpg)
Pengalaman terseret arus di Selat Bali pernah dialami Ari Lado (45), seorang Masinis III yang masih aktif melakukan penyeberangan. Kendati tidak lagi melayani penyeberangan Ketapang-Gilimanuk, Selat Bali masih menjadi lintasannya karena ia melakukan pelayaran Ketapang-Lembar.
Kapal tempat Ari bekerja pernah terseret selama 5 jam dari pukul 19.00 hingga pukul 24.00. Kapal yang normal dengan kondisi mesin semua menyala tak mampu menahan kuatnya arus Selat Bali.
”Mesin hidup. Semua normal tanpa ada gangguan apa pun. Kecepatan kapal sekitar 6-7 knot. Akan tetapi, arus sangat kuat, kami terbawa sekitar 40 mil dari jalur semula. Bayangkan saja, 5 jam mesin melawan arus, kami tetap hanyut terbawa sejauh itu,” tuturnya.
Beruntung selama melayani rute Ketapang-Gilimanuk pada 2001-2009 dan 2010-2015, ia tidak pernah mengalami blackout (kelistrikan mati total) saat menyeberang Selat Bali. Ia menyebutkan, kapal dalam kondisi blackout bisa hanyut sejauh 300 meter dalam hitungan 10 menit.
Kondisi geografis Selat Bali yang diapit Laut Jawa dan Samudra Hindia dan menyempit di antara Pulau Jawa dan Bali membuat arus di sana kencang. Kondisi itu ditambah kondisi bawah laut, dengan palung yang dalam. Arus yang kencang itu menabrak bukit-bukit di palung sehingga arus bisa berubah.
”Kondisi yang seperti itu tidak pernah saya temui di tempat lain. Saya pernah tugas di Padangbai-Lembar dan Banjarmasin. Arusnya tidak sesulit dan sekuat Selat Bali,” tutur Ari.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/03/25/20200325GER_Nyepi-Pelabuhan-Ketapang-Ditutup12_1585134492.jpg)
Kompas juga pernah mewawancarai Mohammad Pandu (38) yang pernah menjadi Kapten di KMP Tunu Pratama Jaya 3888. Pandu pun pernah merasakan kuat dan dahsyatnya arus Selat Bali.
Sebagai pelaut yang sudah mengarung sejak 2013, Pandu mengenali ciri-ciri arus, alun, dan ombak. Arus merupakan gerak air, sedangkan alun merupakan gelombang yang tidak disertai angin kencang. Adapun ombak ialah gelombang yang disebabkan angin.
Salah satu yang paling berbahaya di Selat Bali ialah, ombak ”maling”.
Salah satu yang paling berbahaya di Selat Bali ialah, ombak ”maling”. Ini istilah yang digunakan para pelaut di Selat Bali untuk menyebut ombak dengan alun paling kuat. Di Selat Bali, kapal yang masuk ke dalam ”ombak maling” dalam posisi menghadap timur atau tenggara dipastikan berada dalam bahaya.
”Kalau kena ’ombak maling’ saat posisi menghadap timur atau tenggara, itu bahaya. Gelombang itu pasti kena lambung kiri atau lambung kanan. Muatan jangan sampai miring ke satu sisi. Kalau muatan mobil, truk dan bus sudah miring, pasti sulit bagi kapal untuk bisa seimbang lagi,” ungkapnya.
Yansen, Ari dan Pandu juga tidak tahu solusi apa yang bisa digunakan untuk menghadapi kondisi alam seperti itu. Namun ketiganya sepakat, kondisi alam dan tantangan perairan yang sulit dapat dihadapi bila kapal-kapal yang menyeberang Selat Bali ialah kapal-kapal yang tangguh.
“Kalau sudah kapalnya tidak dalam performa terbaik, ABK-nya juga tidak terbiasa dengan karakteristik Selat Bali, saya khawatir dengan keselamatan penyeberangan. Ini bukan kali pertama, kapal ferry tenggelam di Selat Bali,” ujar Yansen berpesan.
Pemahaman pelaut terhadap karakteristik Selat Bali dan kondisi cuaca menjadi krusial untuk mencegah insiden kecelakaan kapal di perairan itu terulang kembali. Begitupun dengan kondisi kapal yang layak untuk mengarungi arus di perairan itu.
Penulis:
Angger PutrantoEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase