Petugas kerap bertindak agresif, seperti menyemprotkan bahan kimia, memecahkan jendela mobil, dan merekam para pengunjuk rasa. Banyak yang ditahan tanpa dakwaan.
14 Jan 2026 14:47 WIB · Internasional
AP / Adam Gray
WASHINGTON, RABU — Pola kekerasan dan penyalahgunaan kekuasaan oleh para petugas Badan Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE) dinilai semakin kelewatan. Ini memicu kemarahan rakyat AS, termasuk dari kalangan pendukung Presiden Donald Trump.
Sorotan dan kecaman terhadap kinerja ICE makin gencar setelah operasi mereka menewaskan seorang perempuan warga AS di Minneapolis, Negara Bagian Minnesota, dan dua imigran di Portland, Negara Bagian Oregon. Apalagi, muncul laporan bahwa dalam 10 hari pertama 2026, empat migran tewas saat berada dalam tahanan imigrasi.
Kantor berita Associated Press, Rabu (14/1/2026), mengutip cerita dua warga Minneapolis yang ditahan aparat ICE. Brandon Sigüenza dan Patty O’Keefe ditahan ICE pada Minggu saat berunjuk rasa. Mereka mengawasi aparat dengan mengikuti pasukan ICE yang berkeliling dan menangkapi warga yang dicurigai.
Para petugas berhenti di depan mobil O’Keefe. ”Mereka menyemprotkan semprotan merica melalui ventilasi kaca depan mobil dan memecahkan jendela mobil meskipun pintunya tidak terkunci,” kata O’Keefe.
Mereka kemudian ditahan tanpa dakwaan selama beberapa jam dalam kondisi menyedihkan. Keduanya lantas dibawa ke fasilitas federal dengan penjagaan sangat ketat di pinggiran Minneapolis.
Mereka ditempatkan di sel bersebelahan yang diperuntukkan bagi warga negara AS, satu untuk pria dan satu untuk wanita. Di situ, mereka dilarang menelepon. Mereka juga ditekan untuk melaporkan pengunjuk rasa dan orang-orang yang tinggal di wilayah itu secara ilegal.
Sigüenza dan O’Keefe menyatakan, taktik serupa diterapkan Departemen Dalam Negeri AS selama operasi ICE di Los Angeles, Chicago, dan New Orleans. Petugas ICE berpatroli keliling, menangkap tanpa surat perintah, dan bertaktik agresif, seperti menyemprotkan bahan kimia, memecahkan jendela mobil, dan merekam para pengunjuk rasa.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/14/49b0ecb5-465b-4188-865b-4a2a39aeea6a_jpg.jpg)
”Rasanya seperti komunitas kita sedang dikepung oleh pemerintah federal kita sendiri,” ucap anggota parlemen Negara Bagian Minnesota, Michael Howard dari Partai Demokrat, dikutip New York Times. Di distriknya, dua orang ditangkap ICE pada Senin.
Menyusul penanganan kasus tewasnya Renee Good oleh aparat ICE, enam jaksa di kantor Kejaksaan AS Minneapolis mengundurkan diri. Salah satunya ialah Asisten Jaksa Agung AS Pertama Joe Thompson yang selama ini memimpin investigasi dan penuntutan skema penipuan di Minnesota.
Dua sumber yang mengetahui masalah tersebut, kepada CBS News, Selasa, mengatakan, pengunduran diri para jaksa itu berkaitan dengan kekhawatiran akan penyelidikan penembakan Good. Pengunduran diri juga terkait cara kasus itu diperlakukan sebagai penyerangan terhadap petugas federal, bukan sebagai kasus hak sipil.
Kantor Kejaksaan AS di Minneapolis, menurut CBS News, terus mendapatkan tekanan terkait cara penyelidikan kasus penembakan Good. Hal itu menimbulkan ketegangan di kantor kejaksaan.
The New York Times, Selasa, memberitakan, sejumlah orang yang mengetahui keputusan Thompson mengatakan, ia keberatan dengan penolakan para penyelidik federal untuk bekerja sama dengan lembaga-lembaga Negara Bagian Minnesota dalam menyelidiki pembunuhan Good.
Mengutip dua sumber yang mengetahui kasus itu, Associated Press memberitakan, pemerintahan Trump memutuskan untuk memblokir Minnesota dari investigasi penembakan Good. Pengacara pada Divisi Hak Sipil Departemen Kehakiman juga tidak dilibatkan dalam penyelidikan. Biasanya, pengacara pada divisi itu dilibatkan untuk menyelidiki penembakan oleh aparat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/14/3100f3d3-5bc7-48d0-8216-cead889a8403_jpg.jpg)
Pengunduran diri jaksa federal tersebut merupakan gelombang eksodus terbaru para jaksa karier di Departemen Kehakiman AS. Mereka mengundurkan diri atau dipaksa keluar karena kekhawatiran adanya tekanan politik atau perubahan prioritas di bawah pemerintahan Trump. Dengan alasan ini, ratusan pengacara Departemen Kehakiman dipecat atau mengundurkan diri secara sukarela tahun lalu.
Doug Kelley, mantan Asisten Jaksa AS untuk Minnesota, mengatakan, pengunduran diri jaksa federal merupakan pukulan besar bagi kredibilitas kantor kejaksaan ke depan. ”Saya telah berpraktik hukum pidana federal di negara bagian ini selama 51 tahun. Ini hari tergelap dalam 51 tahun sejauh yang saya lihat untuk supremasi hukum di Minnesota,” ujar Kelley, seperti dikutip CBS News.
”Jika mereka merasa perlu mengundurkan diri karena perintah yang mereka terima akan melanggar hati nurani, bagi saya, itu pernyataan yang bagus, bahwa ini tidak dapat mereka toleransi,” ucap Kelley.
Senator Amy Klobuchar, anggota Komite Kehakiman Senat dari Partai Demokrat, menyebut pengunduran diri para jaksa sebagai kerugian bagi negara bagian dan bagi keselamatan publik. ”Para pegawai negeri karier ini telah melayani negara bagian kita melalui berbagai tragedi dan investigasi penting. Kita tidak dapat membiarkan jaksa penuntut didorong oleh politik. Keluarga dan orang-orang terkasih Renee Good berhak mendapatkan keadilan, bukan serangan politik,” tuturnya.
Gubernur Negara Bagian Minnesota Tim Walz menyebutkan, pengunduran diri para jaksa menimbulkan kekhawatiran tentang tekanan politik pada pejabat Departemen Kehakiman. ”Ini juga tanda terbaru bahwa Trump mendorong para profesional karier nonpartisan keluar dari Departemen Kehakiman, menggantikan mereka dengan para penjilatnya,” kata Walz di X.
Departemen Kehakiman, Selasa, menyebutkan, para jaksa tersebut sudah meminta untuk diikutkan dalam program pensiun dini. Permintaan itu disampaikan jauh sebelum peristiwa di Minnesota. Departemen Kehakiman juga menambahkan, setiap anggapan yang bertentangan adalah salah. (AP/REUTERS)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul