Era Baru Final ATP

Final ATP 2024 menghadirkan atmosfer baru. Untuk pertama kalinya dalam 21 tahun terakhir, persaingan delapan petenis putra terbaik tak diikuti "Big Three".

10 Nov 2024 07:00 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani - [email protected]

Turnamen tanpa partisipasi Roger Federer, Rafael Nadal, atau Novak Djokovic sebenarnya telah terbiasa terjadi sejak 2022. Era dominasi tiga petenis putra yang telah melahirkan persaingan terbaik di arena profesional itu mulai berkurang ketika Federer pensiun pada September 2022 dalam usia 41 tahun. Sosok yang dikenal sebagai seniman di lapangan tenis itu bahkan sudah jarang bertanding sejak setahun sebelumnya.

Berselang dua tahun setelah perpisahan Federer, Nadal akan mengucapkan selamat tinggal pada dunia tenis profesional. Direncanakan, petenis berjulukan ”Raja Lapangan Tanah Liat” itu akan menjalani pertandingan terakhir pada babak delapan besar Piala Davis di negaranya, Spanyol, 19-24 November.

Djokovic sebenarnya berstatus lolos ke Final ATP 2024 yang akan berlangsung di Turin, Italia, pada 10-17 November. Dia menempati peringkat delapan besar Daftar Ranking Menuju Turin, tepatnya pada posisi keenam. Namun, petenis berusia 37 tahun itu mengumumkan tak akan berpartisipasi, sejak 6 November, karena cedera.

Ini menjadi momen pertama Djokovic absen di Final ATP meski seharusnya bisa turut bersaing. Sejak debut pada 2007, hanya pada 2017 dia tak lolos karena tak memenuhi syarat untuk menempati ranking delapan besar Final ATP.

Daftar ranking tersebut disusun berdasarkan penampilan petenis pada turnamen ATP sepanjang tahun. Ini berbeda dengan daftar ranking dunia yang dihitung dari turnamen selama 52 pekan ke belakang.

Novak Djokovic of Serbia reacts during the men's singles finals match against Jannik Sinner of Italy in the Shanghai Masters tennis tournament at Qizhong Forest Sports City Tennis Center in Shanghai, China, Sunday, Oct. 13, 2024. (AP Photo/Andy Wong)

Dengan demikian, petenis dengan 24 gelar Grand Slam itu tak mendapatkan gelar juara turnamen ATP untuk pertama kalinya sejak 2005 meski meraih medali emas Olimpiade Paris 2024. Hasil terbaik Djokovic pada ajang ATP adalah final ATP Masters 1000 Shanghai dan Wimbledon, tetapi dia kalah dari dua petenis muda terbaik saat ini, Jannik Sinner dan Carlos Alcaraz.

Absennya Djokovic juga memastikan gelar juara Final ATP akan berpindah ke tangan petenis lain. Petenis Serbia itu menjadi juara dalam dua tahun terakhir. Djokovic bahkan memiliki gelar Final ATP paling banyak, yaitu tujuh gelar, unggul satu gelar dari Federer.

Meski Nadal tak pernah juara, total 13 gelar milik Federer dan Djokovic bisa dikatakan sebagai dominasi ”Big Three” di Final ATP dalam 21 tahun terakhir. Federer, sebagai yang paling senior di antara ketiganya, bermain di arena profesional sejak 1998 dan lolos ke Final ATP untuk pertama kalinya pada 2002.

Saat itu, dia bersaing dengan para senior, seperti Lleyton Hewitt, Andre Agassi, serta dua petenis Spanyol, yaitu Carlos Moya dan Juan Carlos Ferrero, yang masing-masing akhirnya menjadi pelatih Nadal dan Alcaraz. Dalam debutnya itu, Federer mencapai semifinal sebelum kalah dari Hewitt yang kemudian juara.

Sejak Federer tampil pada 2002, sejak saat itu pula, minimal, salah satu di antara ”Big Three” selalu tampil di Final ATP hingga 2023. Nadal pertama kali bermain di 2006, meski sebenarnya lolos juga pada 2005, tetapi absen karena cedera. Total, Nadal enam kali absen karena cedera meski lolos. Sementara, Djokovic memulai penampilan di Final ATP pada 2007.

Final ATP 2024 - 1

Tanpa kehadiran tiga senior yang mendominasi tenis putra dalam dua dekade terakhir itu, Final ATP 2024 akan menjadi persaingan petenis-petenis ”NextGen”. Angkatan paling senior adalah Alexander Zverev, Daniil Medvedev, dan Andrey Rublev yang mulai menjadi kompetitor di Final ATP pada 2017.

Carlos Alcaraz, yang berusia 21 tahun, menjadi peserta termuda, tetapi status debutan ada pada Alex de Minaur. Petenis Australia berusia 25 tahun itu menjalani periode terbaik pada 2024 dengan menjadi perempat finalis di Grand Slam Perancis Terbuka, Wimbledon, dan Amerika Serikat Terbuka.

Di antara delapan petenis tunggal, yang dibagi dalam Grup Ilie Nastase dan John Newcombe pada babak penyisihan, Zverev dan Medvedev pernah merasakan menjadi juara. Zverev menjuarai Final ATP 2018 dan 2021, sementara Medvedev juara pada 2020. Mereka unggul dari Rublev yang lolos untuk kelima kali beruntun, tetapi baru sekali mencapai semifinal, yaitu pada 2022.

Lolosnya Rublev ke Turin pada 2024 bahkan diwarnai keberuntungan. Seusai tersingkir pada babak kedua ATP Masters 1000 Paris, 28 Oktober-3 November, Rublev hanya berada di urutan kesembilan Ranking Final ATP. Dia pun memutuskan bermain di ATP 250 Metz, pada pekan berikutnya, untuk menambah poin ranking dengan meminta wildcard pada panitia turnamen.

Rublev akhirnya beruntung bisa menjadi petenis kedelapan yang lolos ke Final ATP setelah Djokovic mengundurkan diri. Petenis berusia 27 tahun itu pun mundur sebelum menjalani perempat final di Metz.

Russia's Andrey Rublev reacts against Australia's Alex De Minaur during their men's singles match on day eight of the Australian Open tennis tournament in Melbourne on January 21, 2024. (Photo by Martin KEEP / AFP) / -- IMAGE RESTRICTED TO EDITORIAL USE - STRICTLY NO COMMERCIAL USE --

Sejak bersaing di arena tenis profesional pada 2014, performa Rublev tak pernah naik level. Saat bertanding, dia sering kali tak lepas dari masalah yang sama, yaitu ketidakmampuan mengendalikan amarah. Terakhir, pada turnamen Paris Masters, dia melampiaskan emosi dengan memukul-mukulkan raket ke kaki hingga lututnya berdarah.

Petenis lain yang sebenarnya tak tampil baik pada musim ini, tetapi lolos ke Turin adalah Casper Ruud. Petenis Norwegia itu tak bisa menembus final Grand Slam, seperti yang dilakukannya pada Perancis dan AS Terbuka 2022. Pada tahun itu pula, Ruud tampil pada laga puncak Final ATP.

Fritz mencapai masa terbaiknya pada 2024 ketika untuk pertama kalinya menembus final Grand Slam sebelum dikalahkan Sinner di AS Terbuka. Dia juga menjadi petenis nomor satu AS dengan menempati ranking keenam dunia. Namun, level prestasinya jauh di bawah Sinner dan Alcaraz.

Rivalitas Sinner dan Alcaraz

Catatan statistik selama sepuluh bulan persaingan putra di level elite pada 2024 membuat Sinner dan Alcaraz mendapat sorotan di Turin. Sinner akan menghadapi lawan pertama, De Minaur, pada Minggu (10/11/2024), adapun Alcaraz akan melawan Ruud, keesokan harinya.

Sinner pertama kali tampil dalam Final ATP pada 2021 dan mencapai fase final pada 2023, sementara, Alcaraz menjalani debut pada 2023 dan bertahan hingga semifinal. Akan tetapi, persaingan mereka tak seintens pada 2024 ketika keduanya berada pada kemampuan setara.

Sinner menjadi tunggal putra dengan performa terbaik pada 2024, melebihi Alcaraz yang menjadi bintang baru sejak 2022. Konsistensi Sinner diperlihatkan dengan 65 kali menang dari 71 pertandingan. Tujuh gelar juara didapat, dua di antaranya dari Grand Slam Australia dan AS Terbuka, serta tiga dari ATP Masters 1000.

Jannik Sinner (kiri) dan Carlos Alcaraz saat tampil pada acara "Media Day" di Turin, Italia, Jumat (8/11/2024). Keduanya akan bersaing di Final ATP 2024.

Alcaraz, menjuarai dua Grand Slam lainnya, yaitu Perancis Terbuka dan Wimbledon. Dia pun selalu menang dalam tiga pertemuan dengan Sinner pada turnamen ATP dan Grand Slam 2024. Meski demikian, Alcaraz tetap mengakui bahwa Sinner tampil luar biasa pada tahun ini.

Sementara, Sinner tak ingin tenggelam dalam topik rivalitas dia dengan Alcaraz, apalagi, banyak penggemar tenis membandingkan persaingan mereka dengan ”Big Three”. ”Sulit membahas soal rivalitas saat kami masih muda. Kami hanya dua petenis yang menikmati saat harus bersaing,” ujar Sinner.

Berdasarkan performanya dan statistik pertemuan dengan petenis lain yang akan dihadapi pada Grup Ilie Nastase, Sinner seharusnya tak kesulitan menjadi dua petenis peringkat teratas agar lolos ke semifinal. Petenis berusia 23 tahun ini bahkan memiliki peluang besar menjadi juara grup.

Dia unggul 2-1 atas Fritz dan tak terkalahkan dalam tujuh pertandingan melawan De Minaur. Petenis lain, yaitu Medvedev, memiliki statistik menang-kalah imbang, 7-7, dengan Sinner, tetapi tertinggal 1-4 pada tahun ini.

Selain itu, Sinner juga akan memiliki tambahan semangat dan energi karena tampil di depan publik sendiri. ”Bisa tampil di sini terasa sangat spesial. Saya melewatkan Roma Masters pada tahun ini dan itu mengecewakan. Tahun lalu, atmosfernya luar biasa dan saya berharap bisa mendapat hasil baik pada tahun ini,” ujar Sinner.

Pada persaingan Grup Newcombe, Alcaraz dan Zverev memiliki peluang lebih besar untuk lolos ke semifinal dibandingkan Ruud dan Rublev. Alcaraz telah memiliki cita-cita untuk menyandingkan trofi juara dari ajang besar lain dengan trofi juara Final ATP.

”Saya harus bermain dengan sempurna untuk menjadi juara di sini karena lawan yang akan dihadapi adalah para petenis terbaik dunia,” kata Alcaraz yang memiliki empat gelar juara Grand Slam.

TOPSHOT - Germany's Alexander Zverev poses with the trophy after winning the men's singles final match on day seven of the Paris ATP Masters 1000 tennis tournament at the Accor Arena - Palais Omnisports de Paris-Bercy - in Paris on November 3, 2024. (Photo by Dimitar DILKOFF / AFP)

Sementara, Zverev akan membawa semua kenangan baik tentang Italia untuk menjadi motivasi guna menembus dominasi Sinner-Alcaraz. Dia mendapatkan gelar pertama ATP Masters 1000 dari Roma, yaitu pada 2017. Atlet Jerman ini menjuarai Final ATP 2021 ketika untuk pertama kalinya digelar di Turin setelah digelar di London, Inggris, pada 2009-2020.

”Banyak momen indah yang menghubungkan saya dengan Italia. Saya sangat menikmati atmosfer setiap kali bertanding di sini,” ujar Zverev yang menjadi unggulan kedua di bawah Sinner.

Walaupun Sinner dan Alcaraz menjadi yang paling favorit juara, diikuti Zverev, apa pun bisa terjadi di Final ATP. Apalagi, pertandingan berlangsung dengan sistem skor best of three sets dan berlangsung di lapangan keras, jenis lapangan yang dikuasai petenis secara umum.

Persaingan dengan format round robin pada penyisihan grup, juga, membuat persaingan sulit ditebak. Dengan format ini, kekalahan pada laga awal tak langsung membuat petenis tersingkir, tetapi kemenangan pun tak menjadi jaminan lolos ke fase berikutnya.

Maka, hanya ada satu skenario untuk menjadi petenis terbaik di antara yang terbaik, yaitu menang dalam setiap pertandingan. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari