Diversifikasi bisnis Erajaya menyentuh berbagai lini. Dari mendistribusikan gawai dan barang elektronik, Erajaya kini masuk ke bisnis makanan hingga mobil listrik.
27 Mar 2025 17:54 WIB · Ekonomi
Bisnis gaya hidup tidak ada matinya. Bidang ini akan terus hidup, mengikuti keinginan dan kebutuhan konsumen. Konsep inilah yang membuat PT Erajaya Swasembada Tbk mengembangkan diversifikasi bisnis, dari gawai, makanan dan minuman, hingga mobil listrik.
Dinding berwarna oker, lukisan tangan, serta kaftan antik menyambut pengunjung yang datang ke salah satu kedai kopi di Plaza Senayan, Jakarta, petang itu, Selasa (18/3/2025). Lantainya marmer dengan corak khusus layaknya papan catur. Paling khas, aroma dan cita rasa kopinya.
Cara penyajiannya unik, kopi dituangkan dari cerek berwarna emas ke cangkir. Beginilah suasana Bacha Coffee, kedai kopi legendaris yang berdiri sejak 1910 di Maroko. Bacha menawarkan lebih dari 200 jenis kopi arabika dari Semenanjung Arab, Eropa, sampai Asia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/26/19accf45-fe5a-44a0-9556-d428211c7c3e_jpg.jpg)
Menariknya, jenama kopi legendaris nan jauh itu dibawa oleh Erajaya, perusahaan yang dikenal sebagai distributor gadget. ”Bacha ini termasuk pengembangan bisnis kami di bidang makanan dan minuman,” ucap Wakil Direktur Utama Erajaya Hasan Aula kepada awak media, Selasa.
Selain Bacha, bisnis Erajaya di bidang food dan nourishment juga mencakup Paris Baguette, Curry Up, Wetzel Pretzel, GrandLucky Superstore, dan yang terbaru Chagee, yakni merek teh modern asal China. Bahkan, bisnis Erajaya telah ekspansi ke berbagai sektor kehidupan.
Di bidang kecantikan dan kesehatan, Erajaya punya Wellings Pharmacy. Soal gaya hidup aktif, perusahaan ini mengembangkan sejumlah toko di Indonesia, seperti JD Sports, ASICS, Urban Adventure, dan Urban Republic. Erajaya juga menyediakan perangkat internet of things (IoT).
Teranyar, perusahaan yang didirikan pada 1996 atau 29 tahun lalu ini merambah bisnis mobil listrik. Erajaya menjadi agen tunggal pemegang merek XPeng, kendaraan listrik asal China, di Indonesia. Tahun ini, Erajaya akan meluncurkan dua model mobil XPeng, yakni G6 dan X9.
Menurut Hasan, Erajaya kini tidak hanya bergerak di ritel perangkat elektronik, seperti telepon seluler, tablet, dan laptop. Erajaya pun tak sebatas merek-merek ritel semacam Erafone, iBox, dan Samsung Experience Store by NASA. Bisnis perusahaan ini telah menjalar ke berbagai lini.
Diversifikasi bisnis itu, katanya, sudah direncanakan sejak 2020. Ketika itu, basis bisnis gawai begitu besar dan Erajaya sudah khatam di bidang ini. Gerai ritel Erajaya telah mencapai lebih dari 1.000 gerai dan didominasi produk gawai. Gerainya tersebar di berbagai daerah.
Melebarkan sayap usaha pun menjadi pilihan. Apalagi, bisnis gawai sangat relevan dengan gaya hidup konsumen, terutama saat pandemi Covid-19. Misalnya, tren belanja daring untuk makanan, produk kesehatan, serta kecantikan. Konsumen juga kerap membeli sepatu olahraga.
Itu sebabnya, Erajaya membuka apotek, toko produk olahraga, hingga supermarket. ”Memang orang bisa menahan beli baju dan lainnya, tapi groceries (bahan makanan dan minuman) tidak bisa. Erajaya sudah masuk ke industri yang memang dibutuhkan konsumen,” ungkap Hasan.
Patrick Adhiatmadja, Group Chief Strategy Officer Erajaya, mengatakan, meskipun lini bisnis Erajaya beragam, terdapat satu kesamaan. ”Benang merah dalam strategi bisnis ritel Erajaya adalah gaya hidup. Kenapa? Karena ini berhubungan dengan konsumen. Kita dapat masukan dari sana,” ucapnya.
Dengan total lebih dari 2.000 gerai ritel, termasuk 251 gerai di luar negeri, serta lebih dari 10 juta pelanggan, pihaknya bisa memperoleh beragam aspirasi konsumen. Dengan teknologi akal imitasi atau artificial intelligence (AI), pihaknya juga dapat membaca tren perilaku konsumen.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/28/a25663e3-9efb-40c1-a894-142b8a188a1d_png.png)
Pengamatan terhadap tren perilaku konsumen ini jugalah yang mengantar Erajaya masuk ke bisnis mobil listrik. Menurut dia, mobilitas warga tidak terpisahkan dengan gaya hidup. Semakin pendapatan warga meningkat, lanjutnya, pergerakan mereka bakal semakin tinggi atau mobile.
Bagi masyarakat menengah ke atas, mereka ingin kendaraan listrik roda empat premium. ”Segmen premium ini lebih mencerminkan gaya hidup ketimbang kebutuhan dasar transportasi. Tentunya ini sejalan dengan benang merah dan strategi diversifikasi bisnis Erajaya,” ucapnya.
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia, misalnya, mencatat, penjualan mobil listrik di dalam negeri pada 2024 sebanyak 42.889 unit atau tumbuh 151,5 persen secara tahunan. Tidak hanya mobil listrik seharga Rp 300-an juta, harga di atas Rp 600 juta pun laris manis di pasaran.
Segmen pasar kami adalah konsumen urban dan kelas menengah atas yang melek teknologi serta mencari kendaraan yang aman, ramah lingkungan, dan efisien.
Bahkan, menurut Patrick, sekitar 75 persen pelanggan segmen menengah atas membeli mobil seharga lebih dari Rp 600 juta secara kas. Data ini menunjukkan, pasar untuk kelas ini masih terbuka lebar. Ibarat samudra biru, peta persaingan untuk segmen ini masih sangat luas.
Patrick optimistis, diversifikasi usaha Erajaya ke mobil listrik akan tumbuh meski daya beli masyarakat melemah seperti deflasi awal tahun ini. Menurut dia, segmen menengah ke atas tidak terlalu terdampak daya beli. Di sisi lain, kendaraan listrik juga menjadi kebutuhan.
”Segmen pasar kami adalah konsumen urban dan kelas menengah atas yang melek teknologi serta mencari kendaraan yang aman, ramah lingkungan, dan efisien,” ungkapnya. Ia belum memastikan kapan mobil XPeng beredar di Indonesia. Namun, targetnya mulai tahun ini.
Pihaknya juga bakal mengembangkan ekosistem mobil listrik di Indonesia melalui pembangunan stasiun pengisian kendaraan listrik hingga rencana tempat produksinya. ”Kami juga berharap kebijakan pemerintah lebih konsisten guna mendukung industri kendaraan listrik,” ujarnya.
Pengembangan kendaraan listrik juga mendapatkan supervisi langsung dari tim manajemen pusat. Ini seperti lini bisnis lainnya yang menerapkan sistem join venture (aliansi bisnis). Dengan konsep ini, Erajaya tidak lagi khawatir dengan teknologi hingga keahlian sumber daya manusia.
Amelia Allen, Sekretaris Perusahaan Erajaya, mengatakan, strategi diversifikasi bisnis telah membuahkan hasil. Selama 2024, laba bersih Erajaya tercatat Rp 65,3 triliun. Angka ini meningkat 8,5 persen dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 60,1 triliun.
Segmen gawai dan tablet masih menjadi penyumbang terbesar terhadap penjualan bersih, dengan kontribusi sebesar 80,3 persen. Di luar itu, sektor aksesori dan lainnya juga mencatatkan pertumbuhan hingga 23 persen atau berkontribusi 13,1 persen terhadap penjualan bersih.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/26/21a96c2a-8222-4f5f-be09-102120129ede_jpg.jpg)
Meski demikian, Amelia mengakui masih ada tantangan dalam diversifikasi bisnis. ”Tantangan utama dalam menjalankan diversifikasi ini adalah menjaga sinergi antarunit bisnis, terutama dalam membangun pengalaman konsumen yang konsisten dan terpadu,” ungkapnya.
Oleh karena itu, pihaknya mengandalkan kekuatan data dan ekosistem digital. Salah satunya, melalui integrasi data lintas lini bisnis untuk mengidentifikasi pola perilaku belanja konsumen. Data itu bakal dimanfaatkan untuk menyusun program agar menggaet loyalitas pelanggan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/11/17/517683ff-51d9-4451-a297-0f38d096d130.jpeg)
Dalam laporannya akhir 2024, perusahaan sekuritas Stockbit menuliskan, lonjakan pendapatan Erajaya dipengaruhi beberapa hal, seperti ekspansi ritel, penjualan digital, pengoptimalan perputaran barang elektronik dan gaya hidup, serta pengurangan biaya penyimpanan barang.
Meski demikian, masih terdapat sejumlah tantangan bagi pertumbuhan Erajaya, seperti inflasi berkepanjangan, fluktuasi mata uang, peningkatan biaya logistik, dan ketergantungan pada pemasok global. Perbedaan regulasi lokal di Indonesia dan negara lain juga jadi tantangan.
Yuswohady, Managing Partner Inventure, konsultan dan jasa bisnis, menilai, diversifikasi bisnis Erajaya ke kendaraan listrik merupakan upaya menunggangi gelombang tren mobil listrik. Dengan pengalaman di distribusi, Erajaya pun punya peluang untuk menumbuhkan bisnisnya.
”Tetapi, distribusi HP dan mobil berbeda. Erajaya belum punya pengalaman distribusi mobil. Perusahaan lain sudah puluhan tahun di bidang itu. Jadi, peningkatan kompetensinya harus cepat. Begitu juga dengan infrastruktur bisnisnya,” tutur penulis 40 buku tentang pemasaran ini.
Yuswohady mengingatkan agar Erajaya cepat mempelajari diversifikasi bisnis baru, seperti kendaraan listrik. Pembacaan terkait tren gaya hidup konsumen juga harus terus dilakukan agar bisnisnya tetap relevan dengan pengguna.
Penulis:
Abdullah Fikri AshriEditor:
Aloysius Budi Kurniawan