Eropa Semakin Kritis terhadap Israel

Aksi brutal militer Israel di Jalur Gaza dan Tepi Barat membuat Eropa semakin kritis terhadap Israel. Akumulasi beragam faktor membuat sikap Eropa berubah.

23 Mei 2025 10:00 WIB · Kolom

Oleh Musthafa Abd. Rahman

Pada bulan Mei 2025, secara siknifikan, terjadi perubahan sikap Eropa terhadap Israel. Kini Eropa jauh lebih kritis. Hal itu terjadi menyusul berlarut-larutnya perang di Gaza, serta Israel yang semakin terang-terangan melakukan genosida dan pembersihan etnis di Jalur Gaza.

Menyikapi itu, bahasa yang dipakai Eropa terhadap Israel semakin keras dan vulgar. Mereka menggunakan frasa seperti, pelanggaran hukum internasional, meninjau kembali hubungan diplomatik dengan Israel, serta membatasi hubungan militer dan ekonomi dengan Israel.

Frasa-frasa itu jelas menunjukkan sikap baru Eropa. Sebagaimana diketahui, selama ini, Eropa dikenal sebagai basis tradisional pendukung Israel yang sangat kuat setelah AS.

Perubahan sikap Eropa itu tentu menunjukkan semakin retaknya basis pendukung Israel di dunia Barat. Pada 7-8 Mei 2025, enam negara Eropa, yaitu Spanyol, Irlandia, Slovenia, Luxemburg, Norwegia dan Islandia, mengeluarkan pernyataan bersama dengan mengecam keras Israel. Kecaman itu mengalir lantaran Israel mencoba melakukan pembersihan etnis di Jalur Gaza, dan melakukan upaya relokasi secara paksa warga Gaza dari tanah air mereka.

Warga Palestina berkumpul untuk menerima makanan panas di titik distribusi makanan di kamp Nuseirat untuk pengungsi di Jalur Gaza tengah pada 21 Mei 2025.

Negara-negara Eropa tersebut menyebut bahwa aksi Israel di Jalur Gaza sebagai pelanggaran hukum internasional dan Jalur Gaza adalah bagian dari tanah Palestina. Negara-negara Eropa itu juga menuduh Israel telah menghalangi bantuan kemanusian ke Jalur Gaza dan mereka meminta Israel segera mengizinkan dibukanya jalur bantuan kemanusian tersebut.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 12 Mei 2025 menyebut, Jalur Gaza sedang menghadapi kelaparan terburuk di dunia saat ini. Banyak anak kecil meninggal dunia akibat tiadanya aliran bantuan kemanusian.

Perubahan sikap Eropa

Pada 19 Mei 2025, sebanyak 22 negara yang sebagian besar dari Eropa, diantaranya Jerman, Inggris dan Perancis, mengeluarkan pernyataan bersama bahwa menolak usulan mekanisme bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza yang diusulkan Israel. Usulan Israel adalah bantuan kemanusian ke Jalur Gaza diatur dan dikontrol sepenuhnya oleh AS dan Israel.

Sebanyak 22 negara itu menyebut, mekanisme baru usulan Israel itu penuh dengan agenda politik dan militer, serta menghilangkan peran PBB. Jika mekanisme baru tentang bantuan kemnausian itu dipaksa diterapkan, maka akan menghilangkan imparsialitas nilai-nilai kemanusian dan sebaliknya akan dipenuhi dengan tendensi politik.

Demonstrators hold flags during a demonstration in support of the Palestinian people in Gaza, in London, Saturday, May 17, 2025. (AP Photo/Alberto Pezzali)

Selanjutnya, Perancis, Italia, Spanyol, Portugal dan Denmark hari Rabu 21 Mei 2025 menarik dubes mereka dari Israel. Langkah itu menjadi ungkapan protes atas aksi Israel melepaskan tembakan peringatan secara masif ketika 35 diplomat asing yang sebagian besar dari Eropa mengunjungi kamp pengungsi Jenin di Tepi Barat. Saat itu, para diplomat asing tersebut berniat melakukan investigasi lapangan di kamp pengungsi Jenin yang dibombardir Israel selama beberapa pekan.

Sebagaimana negara Eropa lain, Belanda yang selama ini dikenal sebagai basis pendukung Israel terkuat di Eropa, mengalami transformasi kebijakan terhadap Israel. Menlu Belanda, Caspar Veildkamp, menegaskan harus ada garis merah dalam hubungan dengan Israel melalui evaluasi hubungan kemitraan dengan Israel.

Ia menyerukan, agar pemerintah negara-negara Eropa tidak memperpanjang hubungan kemitraan dengan Israel. Adapun pemerintah Belanda sejak April 2025 memperketat pengawasan ekspor produk ke Israel yang bisa difungsikan ganda, yakni militer dan sipil.

Parlemen Irlandia pada akhir April 2025 memberi suara untuk menjatuhkan sanksi terhadap Israel dan melarang pesawat-pesawat AS yang mengangkut senjata untuk Israel terbang diatas teritorial udara Irlandia.

A person dressed as Britain's Prime Minister Keir Starmer (C) holds a placard beside British actors and activists, Khalid Abdalla (R) and Juliet Stevenson (L) outside the Royal Courts of Justice alongside other Pro-Palestinian activists and supporters in central London on May 13, 2025. Rights groups and NGOs are taking the UK government to court on May 13, accusing it of breaching international law by supplying fighter jet parts to Israel, the head of Amnesty UK said Britain had failed to uphold its "legal obligation... to prevent genocide" by allowing the export of key parts to Israel amid the war in Gaza. (Photo by Adrian Dennis / AFP)

Perubahan sikap siginifikan juga terjadi pada Inggris. Menlu Inggris, David Lammy dalam sidang parlemen pada 20 Mei 2025 mengumumkan, pembekuan perundingan kesepakatan perdagangan bebas dengan Israel. Selain itu, Inggris juga menjatuhkan sanksi terhadap tiga ektremis pemukim Yahudi di Tepi Barat dan dua organisasi Israel yang terlibat aksi kekerasan di Tepi Barat.

Menlu Inggris itu juga menyebut, apa yang terjadi di Jalur Gaza saat ini tidak bermoral dan tidak bisa dibenarkan. Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer menyerukan, segera ada gencatan senjata di Jalur Gaza dan dibuka jalur untuk mengalirkan bantuan kemanusiaan.

Perubahan sikap Eropa tersebut, tentu merupakan rangkaian dari perubahan sikap Eropa yang terjadi pada tahun 2024 akibat perang Gaza yang terus berkecamuk, ditambah dengan sikap Israel yang terus menolak gencatan senjata.

Seperti diketahui tiga negara Eropa, yaitu Spanyol, Irlandia, dan Norwegia mengakui negara Palestina pada Mei 2024. Kemudian disusul Slovenia yang juga mengakui negara Palestina pada Juni 2024. Perancis juga merencanakan mengakui negara Palestina. Pengakuan itu akan disampaikan dalam forum konferensi internasional tentang Palestina yang bakal digelar di New York pada bulan Juni 2025.

Akumulasi

Mengapa Eropa semakin kritis terhadap Israel ?

Sikap Eropa yang semakin kritis terhadap Israel itu tidak semata karena didorong motif politik dan moral, tetapi faktor yang akumulatif, seperti tekanan publik, media, pegiat HAM dan diplomasi.

Protesters wear jerseys reading "press" as they hold a banner reading "Gaza, stop the massacre of journalists, solidarity with our colleagues" during a demonstration in support of Palestinian journalists in front of the Opera Bastille in Paris, on April 16, 2025, amid the ongoing war between Israel and the militant group Hamas. Media watchdog Reporters without Borders (RSF) said the Israeli army was "already responsible for the deaths of nearly 200 journalists in 15 months, including at least 43 killed while working". (Photo by STEPHANE DE SAKUTIN / AFP)

Aksi unjuk rasa di beberapa ibu kota Eropa, seperti Madrid, Dublin, Oslo, Den Haag dan kota-kota besar lain yang menuntut segera dihentikan perang Gaza dan memberi sanksi terhadap Israel, berandil besar atas terjadinya perubahan atas sikap pemerintah Eropa.

Media Eropa yang semakin sering memberitakan dan merilis video tentang aksi genosida di Jalur Gaza dengan gambar-gambar anak kecil yang tewas berserakan, juga turut mengetuk hati nurani penguasa Eropa.

Pada acara festival film Cannes di Perancis pada tahun 2024, sebanyak 350 aktor dan sutradara menandatangani surat penyataan yang menegaskan bahwa apa yang terjadi di Jalur Gaza adalah pembantaian kolektif.

Faktor yang akumulatif tersebut yang mengubah sikap Eropa.*


Kerabat Kerja

Penulis:

Musthafa Abd. Rahman
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji