Masyarakat menempati zona merah, tetapi belum ada perintah evakuasi sebelum kenaikan status gunung ke level Awas.
08 Nov 2024 11:52 WIB · Lingkungan
Sebelum terjadi erupsi besar yang memakan korban di kaki Gunung Lewotobi Laki-laki, status gunung berada pada Level III atau Siaga. Seharusnya langsung dilakukan evakuasi terhadap warga, tetapi itu tidak terjadi. Warga tetap tinggal di sana tanpa menduga akan terjadi erupsi besar.
1. Kapan pertama kali erupsi yang terekam sejarah?
2. Seperti apa cerita erupsi masyarakat lokal?
3. Mengapa warga menetap di zona merah?
4. Seperti apa mitigasi bencana di sana?
5. Apa perlu dilakukan relokasi?
Gunung Lewotobi Laki-laki terletak di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Puncak gunung itu berketinggian 1.584 meter di atas permukaan laut. Erupsi gunung ini pertama kali tercatat dalam sejarah manusia terjadi pada tahun 1861.
Gunung Lewotobi Laki-laki memiliki kembaran bernama Gunung Lewotobi Perempuan yang memiliki ketinggian 1.708 meter di atas permukaan laut. Puncak kedua gunung itu terpisah jarak lebih kurang 2 kilometer.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/07/2960293f-f8c6-4c12-8227-406da6f56f0e_jpeg.jpg)
Pelana yang memisahkan kedua puncak itu berketinggian 1.232 meter di atas permukaan laut. Adapun erupsi Gunung Lewotobi Perempuan yang pertama kali tercatat adalah pada tahun 1921. Gunung Lewotobi Laki-laki lebih banyak erupsi daripada Gunung Lewotobi Perempuan.
Berdasarkan cerita masyarakat setempat, erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki sudah sering terjadi. Erupsi yang lalu-lalu tidak begitu mengancam. Warga tidak perlu harus mengungsi. Jika sampai mengungsi pun, tak akan lama. Erupsi berlangsung singkat, tidak sampai berminggu-minggu lamanya.
Bahkan, di kalangan tertentu, ada yang ”merindukan” erupsi manakala hasil panen tanaman mereka mengecewakan atau terjadi serangan hama pada tanaman cokelat yang menjadi komoditas unggulan setempat. Menurut kebiasaan mereka secara turun-temurun, tanaman itu butuh abu vulkanik untuk menyuburkan tanah dan mengusir hama.
Setelah selesai erupsi, tanaman di kaki Gunung Lewotobi Laki-laki subur dan memberikan banyak hasil untuk kesejahteraan mereka. Bencana dan berkah beriringan memberi warna bagi peradaban di kaki gunung itu.
Namun, erupsi kali ini dianggap terdahsyat sebagaimana cerita turun-temurun yang pernah mereka dengar. Seperti pada Kamis (7/11/2024), tinggi kolom erupsi mencapai 8.000 meter. Erupsi kali ini juga merupakan yang terlama, kelanjutan dari erupsi pada 23 Desember 2023.
”Sudah hampir satu tahun kami hidup dalam bayangan rasa takut. Erupsi ini sudah terlalu lama. Belum pernah ada cerita leluhur kami yang mengalami erupsi sedahsyat ini,” kata Kepala Desa Pululera Paulus Tukan.
Erupsi kali ini merupakan lanjutan dari erupsi 23 Desember 2023. Saat itu, warga di kaki gunung sempat mengungsi ke tempat yang aman. Tidak ada korban jiwa. Warga dipulangkan dari lokasi pengungsian pada akhir Januari 2024. Mereka menetap di rumah mereka yang masuk dalam zona merah.
Zona merah meliputi Desa Klatanlo, Hokeng, dan Dulipali. Ketika terjadi erupsi pada 3 November 2024, desa itu terdampak paling parah. Korban meninggal dan luka kebanyakan berasal dari sana. Sembilan orang dilaporkan meninggal, 31 orang luka berat, 32 orang luka ringan, dan korban yang dirujuk ke rumah sakit 3 orang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/06/43086daf-4ce8-402b-85e4-5ea034bfdc5c_jpg.jpg)
Batu api yang dimuntahkan ke udara sejauh ribuan meter itu kemudian ditarik oleh gravitasi sehingga menghujani permukiman penduduk; kemudian menggelinding bak bola api, menabrak apa saja yang ada di lintasannya. Batu api menerjang sejumlah bangunan, lalu meledak. Begitu juga di luar ruangan, banyak lahan terbakar akibat batu api.
Di salah satu rumah, terjangan batu api meninggalkan lubang besar dengan kedalaman 3 meter dan diameter atas mencapai 4 meter. Sebanyak enam orang meninggal di tempat. Setelah dievakuasi, mereka dimakamkan dekat situ. ”Seperti bekas serangan rudal saat perang di luar (negeri),” kata Alex (30), warga setempat.
Sebelum erupsi, status gunung Level III atau Siaga. Seharusnya dilakukan evakuasi warga, tetapi itu tidak terjadi. Warga tetap tinggal tanpa menduga terjadi erupsi sebesar itu.
”Kami pikir biasa saja. Kami kaget sampai ada lontaran batu api yang memakan korban. Kami tak pernah menduga. Apalagi, tidak ada perintah evakuasi dari pemerintah,” kata Alex.
Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), pada 1 November Lewotobi Laki-laki meletus dengan tinggi kolom erupsi 1.500-2.000 meter dari puncak. Pada periode ini terekam gempa getaran banjir di daerah Dulipali. Erupsi berupa strombolian atau mengalir perlahan. Terlihat adanya api memancar saat erupsi.
Pada 3 November 2024 pukul 18.00, petugas pengamat Lewotobi Laki-laki mencatat kenaikan aktivitas yang sangat signifikan. Periode sebelumnya, rata-rata tinggi kolom erupsi 100-1.000 meter, pada 3 November rata-rata tinggi kolom 500-1.000 meter. Pada pukul 24.00, status gunung dinaikkan dari Siaga ke Awas atau Level IV. Radius tanpa aktivitas warga pun diperluas menjadi 7 km.
Kepala PVMBG Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Hadi Wijaya, seperti yang dikutip dari kantor berita Antara, menyatakan, karakteristik letusan Lewotobi Laki-laki saat ini adalah eksplosif karena ditandai lontaran material. Pihaknya masih meneliti fenomena ini.
Ketua Pemuda Katolik NTT Komisariat Daerah Yuven Tukung yang datang lokasi bencana mengatakan, mitigasi erupsi sangat lemah. Padahal, dari gejala kenaikan status gunung, pemerintah sudah harus mengambil keputusan.
Selama beberapa hari sejak erupsi, Kepala Pelaksanaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Flores Timur Fredy M Aeng tidak bisa dihubungi. Sekretaris Daerah Flores Petrus Maran yang ditemui dua hari setelah bencana memberi respons mengagetkan. ”Dia (Fredy) terkejut,” katanya.
Maksud Petrus, Fredy terkejut menghadapi kondisi itu. Ferdy belum lama dilantik Penjabat Bupati Flores Timur Sulastri H Rasyid. Sebelumnya, Fredy seorang camat.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana kini sedang menyiapkan opsi relokasi bagi warga yang tinggal di zona merah Gunung Lewotobi Laki-laki. Rencana relokasi nantinya akan dibicarakan di level kementerian dan lembaga.
Relokasi dilakukan untuk mencegah dampak yang lebih besar jika terjadi erupsi di masa mendatang. Namun, di sisi lain, banyak masyarakat menolak relokasi. Mereka ingin tetap tinggal di sana.
Penulis:
Fransiskus Pati Herin, Siwi Yunita CahyaningrumEditor:
Irma TambunanPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra