ESG Industri Manufaktur, Tak Cukup Hanya Kendaraan Listrik

Jangan lupakan aspek sosial dan tata kelola untuk menuju transisi hijau. Efisiensi energi tak hanya berlaku pada produk semata.

19 Feb 2025 07:00 WIB · Ekonomi

Oleh Dionisius Reynaldo Triwibowo, Abdullah Fikri Ashri

Penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola atau ESG dalam industri manufaktur tak cukup hanya dengan produk ramah lingkungan. Lebih dari itu, ESG juga harus mengedepankan aspek sosial dan manusia untuk mencapai komitmen bisnis berkelanjutan.

Selama ini, industri manufaktur berlomba-lomba unjuk gigi dengan transisi hijau. Komitmen itu ditunjukkan dengan produk-produk futuristik, seperti kendaraan listrik dan ekosistemnya. Ekosistem kendaraan listrik mengandalkan ragam manufaktur produk yang padat teknologi, mulai dari baterai kendaraan, unit kendaraan, hingga sistem pengisian listrik.

Walakin, bisnis berkelanjutan tak selesai dengan aktivitas itu. Transisi hijau perlu dimulai dari aspek sosial dan tata kelola bisnis. Sejauh ini, Indonesia masih cenderung fokus mengembangkan ekosistem kendaraan listrik di hilir.

Diskusi Kompas 100 Outlook "Investasi Berkelanjutan di Dalam Ekosistme Bisnis Global" dengan nara sumber (kiri-kanan) Hamzirwan Hamid (moderator), Direktur Utama BRI Sunarso, Direktur Astra Hamdhani Dzulkarnaen Salim, President Director of Institute for Sustainability and Agility Maria Rosaline Nindita, serta General Manager Litbang Kompas Ignatius Kristanto di Main Hall, Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (17/2/2025).

Problematika prinsip ESG itu muncul dalam acara diskusi Kompas 100 Outlook ”Investasi Berkelanjutan di Dalam Ekosistem Bisnis Global” yang digelar harian Kompas berkolaborasi dengan Bursa Efek Indonesia di Main Hall BEI, Jakarta, Senin (17/2/2025). Acara tersebut dihadiri Pemimpin Redaksi Kompas (Kompas.id) Sutta Dharmasaputra dan Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik.

Diskusi menghadirkan pembicara Direktur Utama BRI Sunarso, Direktur Astra International dan Presiden Direktur Astra Otoparts Hamdhani Dzulkarnaen Salim, Presiden Direktur Institute for Sustainability and Agility Maria Rosaline Nindita, dan General Manager Litbang Kompas Ignatius Kristanto.

Di sela-sela kegiatan itu, Maria mengungkapkan, banyak perusahaan, termasuk di industri manufaktur, berpikir ESG hanya sebatas aspek lingkungan atau huruf E pada ESG. Unsur lingkungan membuat perusahaan fokus pada pengurangan karbon dalam produk yang mereka ciptakan.

Salah satu yang sedang menjadi tren adalah pembuatan mobil listrik dan ribuan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di jalan tol, mal, hingga hotel. Hingga Mei 2024, Kementerian Perindustrian mencatat populasi kendaraan listrik di Tanah Air hampir 150.000 unit.

Mayoritas kendaraan adalah sepeda motor roda dua, diikuti sepeda motor roda tiga, kendaraan penumpang, serta bus dan truk. Menurut Maria, kehadiran ekosistem kendaraan listrik ini penting. ”(Tapi), ESG nggak cukup (dengan mobil listrik). Listrik itu dari mana asalnya? Pakai apa?” ungkap Maria.

Selama ini, listrik di Indonesia masih mengandalkan batubara sebagai bahan bakar. Sebagai penghasil emisi karbon dioksida, batubara dinilai tidak ramah lingkungan. Itu sebabnya, Maria mendorong perusahaan manufaktur untuk melakukan efisiensi dalam konsumsi energi.

Implementasi langkah perusahaan yang berkelanjutan dalam aspek lingkungan tidak terlepas dari peran manusianya atau sosial. ”Harusnya S (sosial) lebih besar perannya. S ini, kan, seperti perilaku karyawan, yang bisa mendukung aspek E dalam ESG,” ujarnya.

Ia memberi contoh sebuah perusahaan dengan jumlah pekerja yang mencapai ribuan atau bahkan puluhan ribu orang dapat menghasilkan limbah makanan di tempat kerja. Hal itu tentu akan memengaruhi lingkungan dengan skala yang lebih besar jika tidak dikelola dengan baik.

”Sisa makanan ini seharusnya bisa jadi pupuk dan sampah anorganiknya bisa kerja sama dengan UMKM untuk diolah,” ujar Maria.

Quote

Kalau Anda tidak melakukan ESG risiko, loh. Pasti ke depannya Anda akan ditinggalkan konsumen. Kedua, akan ditinggalkan investor.

President Director of Institute for Sustainability and Agility Maria Rosaline Nindita menjadi narasumber dalam diskusi Kompas 100 Outlook "Investasi Berkelanjutan di Dalam Ekosistme Bisnis Global" di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (17/2/2025).

KOMPAS/HERU SRI KUMORO
17-02-2025

Penerapan prinsip sosial dalam ESG juga bisa diukur dari loyalitas atau berapa lama karyawan bekerja di perusahaan manufaktur. Semakin lama karyawan bekerja di perusahaan yang mengedepankan konsep ESG, termasuk memenuhi hak pekerja, semakin baik implementasinya.

Dalam tata kelola, industri manufaktur bisa mengukur perwujudan ESG dengan melihat visi-misi perusahaan, apakah terdapat makna keberlanjutan atau tidak. Keberlanjutan ini mencakup lingkungan, sosial, dan tata kelola. Kalau tidak ada, berarti perusahaan itu belum peduli ESG.

Kesadaran perusahaan menjadi tantangan dalam penerapan ESG. Kesadaran itu, kata Maria, seharusnya dimulai dari pimpinan korporasi. ”Kalau Anda tidak melakukan ESG risiko, loh. Pasti ke depannya Anda akan ditinggalkan konsumen. Kedua, akan ditinggalkan investor,” ujarnya.

Sekarang, lanjutnya, banyak investor di industri manufaktur mensyaratkan penyaluran modal untuk edukasi tentang ESG. Investasi untuk ESG mungkin dianggap tidak langsung menghasilkan profit. Namun, sejarah membuktikan, perusahaan berkonsep ESG bisa bertahan.

Toyota, misalnya, didirikan sejak 1937 dan bisa bertahan hingga kini dengan pendapatan 316 miliar dollar AS pada 2023. Perusahaan ini mengembangkan kendaraan berbasis hidrogen dan listrik dengan bertransisi dari manufaktur otomotif ke solusi mobilitas yang lebih berkelanjutan.

”Pemerintah punya peran untuk mengedukasi publik lewat kurikulum pendidikan soal ESG. Itu jangka panjangnya, untuk solusi jangka pendek efisiensi energi,” kata Maria.

Dalam paparannya, Direktur Astra yang merupakan Presiden Direktur Astra Otoparts Hamdhani Dzulkarnaen Salim menjelaskan bagaimana Astra menerapkan prinsip ESG untuk merespons isu global. ASTRA juga mencoba mengikuti tren teknologi listrik pada produk-produk otomotif ramah lingkungan. Mereka memulainya dengan membuat produk hybrid electric vehicle (HEV), battery electric vehicle (BEV), dan banyak lagi.

Selain produk, lanjut Hamdhani, Astra juga berinisiatif untuk mentransisi penggunaan energi ke arah yang lebih ramah lingkungan. Salah satunya adalah menerapkan industri panel surya di semua pabrik yang baru dibangun belakangan.

Ia bahkan mengklaim bahwa Astra lambat laun akan meninggalkan bisnis-bisnis yang dianggap melepas karbon terlalu banyak dan mengganti atau menyiasatinya dengan bisnis yang jauh lebih ramah lingkungan. Astra memiliki 300 perusahaan dan mempekerjakan lebih dari 200.000 karyawan. Sebagian besar berada di PT Astra Otoparts, dengan jumlah lebih dari 30.000 orang. ”Kami punya KPI (key performance indicators) yang mencakup prinsip ESG. ESG bukan lagi pelengkap saja, tetapi ke depan menjadi sebuah keharusan atau kebutuhan,” ujarnya.

Motor Listrik Honda

Teknologi masa depan

Dari gelaran Indonesia International Motor Show (IIMS) 2025, PT Astra Honda Motor (AHM) Indonesia mengenalkan dua sepeda motor listrik dengan desain futuristik, yakni EV Fun Concept dan EV Urban Concept. Marketing Director AHM Octavianus Dwi mengungkapkan, kehadiran dua konsep motor listrik itu sebagai bagian dari upaya Honda mendukung era mobilitas yang lebih canggih dan berkelanjutan.

”Dua konsep motor ini menawarkan pilihan model yang tidak hanya mengedepankan performa dan nyaman, tapi juga teknologi masa depan, termasuk kendaraan listrik yang lebih ramah lingkungan,” kata Dwi.

Dwi menambahkan, EV Urban Concept mencerminkan visi Honda terhadap kendaraan listrik perkotaan di masa depan. Motor ini menggabungkan perangkat keras dan lunak inovatif yang mempermudah penggunaan bagi pengendara pemula ataupun berpengalaman.

”Honda menunjukkan kedua konsep ini sebagai langkah terbaru Honda dalam mencapai netralitas karbon pada tahun 2050, sekaligus menunjukkan kesiapan perusahaan dalam menghadapi era kendaraan listrik,” ujarnya.

Untuk di kelas mobil, Honda juga mengeluarkan mobil listrik pertama mereka dengan nama e:N1. Sales, Marketing, and After Sales Director PT Honda Prospect Motor Yusak Billy di sela-sela IIMS 2025 mengungkapkan, mobil ini belum dijual bebas di pasar Indonesia, tetapi bisa disewa dengan harga Rp 22 juta per bulan dalam masa waktu lima tahun. Honda menyasar pasar perusahaan alias business to business (B to B) untuk memasarkan mobil listrik pertama mereka.

Menurut Yusak, pihaknya tak sekadar berjualan produk, tetapi juga membangun kepercayaan lewat ekosistem energi hijau yang diciptakan sebelum produk mobil listrik keluar. Ada beberapa aspek dalam ekosistem tersebut, yakni produk berkelanjutan lewat mobil listrik, lalu stasiun pengisian energi, dan transisi energi.

”Kami menargetkan pada 2040 akan net zero emission untuk semua produk. Jadi, membangun kepercayaan itu melalui ekosistem, bukan hanya jual produk,” kata Billy.

Jetour X90 yang diluncurkan pada pameran Indonesia Internasional Motor Show (IIMS) 2025 di JI Expo Kemayoran, Jakarta, Kamis (13/2/2025). Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Selain Astra, di IIMS 2025, banyak produsen mobil China juga menunjukkan komitmen mereka terhadap penerapan prinsip ESG. Jetour Indonesia, misalnya, mendapatkan penghargaan program ESG terbaik tahun 2024 dari Forum Komunikasi Citra Merek China.

Direktur Jetour Auto Indonesia Moch Ranggy Radiansyah menuturkan, penghargaan itu diberikan atas upaya konservasi yang dilakukan pihaknya dalam penyelamatan citah di Afrika Selatan. Jetour bekerja sama dengan Cheetah Conservation Fund (CCF) untuk ikut ambil bagian melindungi populasi citah yang kini berada dalam kondisi kritis.

Konservasi citah dipilih lantaran pengenalan produk Jetour pertama dilakukan di Afrika Selatan untuk menunjukkan produk mereka dengan segala lanskap jalan. ”Produk kami didesain juga dengan menunjukkan komitmen keberlanjutan,” ujarnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Dionisius Reynaldo Triwibowo, Abdullah Fikri Ashri
 | 

Editor:

Maria Susy Berindra