ESG, Pedoman Adaptasi Perusahaan dalam Transisi Energi

Penerapan ESG selayaknya bukan sekadar jargon, melainkan menjadi bagian dari strategi bisnis demi mencapai keberlanjutan.

14 Jan 2025 10:00 WIB · Ekonomi

Oleh Aditya Putra Perdana

Lingkungan, sosial, dan tata kelola atau environment, social, and governance/ESG semakin melekat dan menjadi salah satu fokus perusahaan dalam pengembangan bisnis serta investasi. Implementasi ESG juga telah dianggap sebagai salah satu pedoman menuju keberlangsungan dan keberlanjutan suatu bisnis di tengah berbagai tantangan di tingkat global.

Hal ini telah diterapkan oleh perusahaan-perusahaan dari berbagai sektor, termasuk energi serta pengangkutan energi (pelayaran) seperti yang dilakukan PT Pertamina International Shipping (PIS), subholding integrated marine logistics PT Pertamina (Persero). Kendati bisnis utama PIS terkait distribusi bahan bakar minyak (BBM) dan elpiji di dalam negeri, PIS juga memiliki sejumlah rute pelayaran internasional.

Pada aspek lingkungan, contohnya, saat masuk ke wilayah Eropa, ada pengenaan tambahan biaya jika kapal mengeluarkan emisi di atas batas toleransi yang ditetapkan. Sejumlah wilayah lain juga mulai memberlakukan dan bersiap menerapkan kebijakan pajak karbon (carbon tax) yang akan berdampak pada kapal-kapal yang melayani rute pelayaran internasional.

Penerapan ESG, termasuk di dalamnya pengurangan emisi untuk tujuan lingkungan, pun menjadi krusial. "Jika ingin terus menjalankan bisnis tanpa terkena sanksi atau biaya tambahan yang signifikan, kami harus beradaptasi. Ini juga menjadi bagian dari strategi kami untuk bertahan dan bersaing," ujar Direktur Perencanaan Bisnis PIS Eka Suhendra, Jumat (10/1/2025).

Saat ini, mayoritas kapal berbasis fosil sehingga menghasilkan emisi saat berlayar. Upaya yang dilakukan PIS adalah dengan mulai menggunakan kapal-kapal yang lebih modern dan efisien sehingga lebih hemat bahan bakar. Adapun penggantian kapal dilakukan bertahap. Di samping itu, juga ada penerapan sistem pengolahan air ballast (water ballast system).

”Menciptakan ekosistem yang ramah lingkungan memang menimbulkan tantangan besar, terutama dari sisi biaya. Sebab, teknologi baru masih lebih mahal dibandingkan bahan bakar konvensional. Namun, dengan adanya regulasi internasional dan kemajuan teknologi, kami optimistis dapat mencapai efisiensi yang lebih baik, secara ekonomi dan lingkungan,” kata Eka.

Direktur Perencanaan Bisnis PT Pertamina International Shipping Eka Suhendra.

Tanpa merinci angka, Eka menyebut investasi PIS untuk ESG relatif besar. Terlebih, di Pertamina, kini ada program sustainability budgeting. Ada anggaran khusus yang dialokasikan untuk program-program keberlanjutan. Dengan demikian, ia memastikan, pelaksanaan program keberlanjutan terus dipantau, baik dari sisi keuangan maupun efektivitas.

Sementara itu, dalam aspek community relations, PIS memiliki program tanggung jawab sosial perusahaan yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat pesisir serta literasi kelautan bagi anak-anak di usia sekolah. Adapun pada aspek tata kelola, PIS mendorong kepatuhan korporasi pada regulasi, pemenuhan transparansi, hingga penegakan perilaku antikorupsi.

Melalui berbagai upaya itu, beberapa waktu lalu, PIS meraih skor ESG BBB dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). MSCI adalah lembaga penyedia global indeks, salah satunya ESG. Dengan mengukur pengelolaan risiko ESG, penilaian menggunakan skala AAA (tertinggi) hingga CCC (terendah). Adapun PIS masuk dalam kategori oil and gas refining, marketing, transportation, and storage.

Keberlanjutan proses bisnis

Sejauh ini, sejumlah perusahaan BUMN relatif agresif dalam menerapkan ESG untuk program yang keberlanjutan. Pada September 2024, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) mendapat penghargaan dalam ESG Business Award 2024 yang digelar di Singapura. Penghargaan itu, antara lain, diberikan atas kontribusi dalam menurunkan emisi dalam proses bisnis serta menciptakan iklim kerja nyaman bagi pegawai.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menuturkan, pihaknya mengedepankan aspek berkelanjutan dalam proses bisnis perusahaan. ”Sebagai lokomotif transisi energi, tugas PLN tak hanya mengalirkan listrik semata. Lebih dari itu, tugas kami ialah ikut menjaga Bumi dari ancaman perubahan iklim lewat penyaluran listrik andal, ramah lingkungan, dan terjangkau,” ujarnya melalu siaran pers.

Quote

Konsistensi perusahaan dalam menerapkan ESG juga akan menentukan keberlanjutan bisnis ke depan. Artinya, bukan sekadar mengikuti tren atau memenuhi kebutuhan jangka pendek. Juga bukan sekadar jargon atau (cara) mempermanis laporan kinerja perusahaan.

Hal sama juga dilakukan PT Geo Dipa Energi (Persero) yang mendorong penerapan prinsip-prinsip ESG di seluruh lapisan perusahaan. Salah satu upaya yang dilakukan ialah melalui lokakarya terkait ESG yang diikuti para pemimpin perusahaan. Dengan demikian, ESG diharapkan dapat diintegrasikan ke dalam strategi perusahaan sehingga memberi nilai tambah signifikan.

Direktur Utama Geo Dipa Energi Yudistian Yunis menyampaikan, ESG bukan sekadar tren, melainkan fondasi kokoh bagi keberlangsungan bisnis. ”Dengan mengadopsi praktik-praktik ESG yang baik, kami tidak hanya berkontribusi pada pelestarian lingkungan, tetapi juga memperkuat hubungan dengan masyarakat dan meningkatkan reputasi perusahaan,” ujar Yunis dalam keterangannya, Agustus 2024.

Pemanfaatan panas bumi di Kecamatan Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah, untuk pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), Jumat (1/8/2023). Kawasan dataran tinggi Dieng diyakini memiliki potensi menghasilkan listrik hingga 400 MW dan saat ini pemanfaatannya dikelola oleh PT Geo Dipa Energi.

Jangan sekadar seremoni

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menuturkan, secara umum, perusahaan-perusahaan energi sudah menunjukkan komitmennya dalam ESG. Namun, lantaran berkaitan dengan biaya tambahan (additional cost), perlu dipastikan bagaimana setiap perusahaan secara konsistem menerapkan hal tersebut sebagai bagian dari strategi jangka panjang.

”Kesadaran sebenarnya sudah ada. Namun, additional cost terkait ESG ini belum tentu linier (dengan bisnis) saat itu juga. Sebab, panennya kan jangka panjang. Di situ tantangannya,” ujar Komaidi.

Dalam bisnis terkait energi, khususnya pada minyak dan gas bumi, ia melihat prospek masih cerah di tengah transisi energi. Menurut dia, migas masih akan dibutuhkan dalam memenuhi kebutuhan energi di dunia. Untuk jangka panjang, menuju era energi terbarukan pun, migas dapat dialihkan, salah satunya dengan menjadi produk-produk petrokimia. ESG pun akan melekat dalam transisi ke depan.

Menurut Komaidi, sokongan pemerintah dalam mendukung praktik-praktik ESG di Indonesia tak kalah penting, termasuk pada bidang energi. ”Paling utama ialah bagaimana agar (ESG) tidak sekadar seremoni atau administrasi, tetapi menjadi bagian dari keseharian. Dalam hal ini, sinergi lintas sektor, termasuk antarkementerian, menjadi krusial. Tidak terpisah-pisah,” lanjutnya.

Petani menuju ladang melewati jaringan pipa Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang dioperasikan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Kamojang di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (21/3). Potensi energi panas bumi di Indonesia diketahui mencapai 28.000 megawatt atau sekitar 40 persen dari total cadangan energi panas bumi dunia. Pemanfaatan panas bumi sebagai pembangkit tenaga listrik akan mengurangi emisi gas rumah kaca yang masih dilepaskan pembangkit listrik berbasis bahan bakar fosil.---------------------- (AGS)21-03-2015

Praktisi sekaligus pemerhati ESG pertambangan dan energi Andi Erwin Syarif berpendapat, penerapan ESG di Indonesia mulai menunjukkan kemajuan berarti, terutama di sektor-sektor besar seperti pertambangan dan energi yang mulai beradaptasi dengan tuntutan keberlanjutan. Sebab, salah satu fokus utama ESG ialah penurunan emisi untuk mengantisipasi perubahan iklim.

Sebagaimana diketahui, Indonesia telah menetapkan enhanced nationally determined contribution/ENDC untuk pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) melalui Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Perubahan Iklim (UNFCCC). Target pengurangan emisi tersebut adalah sebesar 31,89 persen dengan usaha sendiri dan 43,2 persen dengan dukungan internasional (bersyarat) pada tahun 2030.

Menurut dia, untuk strategi jangka panjang, soft-landing energy transition dari fosil ke energi terbarukan penting. Pada pertambangan batubara, misalnya, di mana beberapa perusahaan mulai berinvestasi dalam teknologi ramah lingkungan dengan penerapan clean coal technology. Namun, itu masih membutuhkan analisis teknis yang mendalam terkait efisiensi produksi, dengan mengurangi konsumsi energi ”fosil” per unit produksi, misalnya.

”Penerapan ESG di Industri berbasis energi fosil, tidak hanya bertujuan untuk memenuhi ekspektasi pemangku kepentingan dalam mendukung investasi berkelanjutan, tetapi juga guna meningkatkan daya saing di era transisi energi. Semua dilakukan dengan tetap memperhatikan kondisi nyata daya saing industri nasional, agar kemudian dapat selaras dengan standar ESG global,” kata Andi.

Dalam konteks nasional, imbuh Andi, transisi energi diharapkan tidak mengganggu perekonomian serta tetap menjaga stabilitas lapangan kerja. Dengan target pertumbuhan ekonomi sekitar 8 persen oleh pemerintah, konsumsi energi nasional juga meningkat berkisar 7-9 persen per tahun. Regulasi yang tepat dan relevan untuk mendukung target-target itu pun diperlukan.

Pada akhirnya, konsistensi perusahaan dalam menerapkan ESG juga akan menentukan keberlanjutan bisnis ke depan. Artinya, bukan sekadar mengikuti tren atau memenuhi kebutuhan jangka pendek. Juga bukan sekadar jargon atau (cara) mempermanis laporan kinerja perusahaan. Implementasi prinsip-prinsip ESG juga bagian dari upaya bersama mencapai target emisi nol bersih (NZE) Indonesia 2060.


Kerabat Kerja

Penulis:

Aditya Putra Perdana
 | 

Editor:

Aloysius Budi Kurniawan