Xi: SCO Punya Modal Atasi Tantangan Dunia

Penguatan kerja sama ini merupakan tindak lanjut Shanghai Spirit. Shanghai Spirit mengacu ke sikap saling percaya, saling menguntungkan, setara, dan pertumbuhan.

01 Sep 2025 18:53 WIB · Internasional

Oleh Sekar Gandhawangi dari Tianjin, China

TIANJIN, KOMPAS — Negara-negara Eurasia yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Shanghai atau SCO sepakat untuk mempererat kerja sama. Penguatan kerja sama akan dilakukan di sektor politik, keamanan, ekonomi dan perdagangan, sains dan teknologi, serta kebudayaan.

Penegasan itu dinyatakan dalam Konferensi Tingkat Tinggi SCO yang berlangsung di Tianjin, China, pada Senin (1/9/2025). KTT berlangsung pada 31 Agustus-1 September 2025.

Menurut Presiden China Xi Jinping, kerja sama adalah salah satu cara menguatkan pembangunan regional yang saling menguntungkan. Hal ini bisa dicapai melalui Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI) yang diresmikan Xi pada 2013. Inisiatif ini adalah upaya menghubungkan Asia dengan Afrika dan Eropa melalui jalur darat serta laut.

”Kita mesti mengungkit kekuatan pasar kita yang berukuran mega dan kondisi ekonomi yang saling melengkapi di antara para anggota, serta meningkatkan perdagangan dan fasilitasi investasi,” ucap Xi.

Penguatan kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari Shanghai Spirit yang diusung SCO. Shanghai Spirit mengacu ke sikap saling percaya, saling menguntungkan, setara, konsultasi, hormat pada perbedaan, serta mengejar pembangunan bersama.

Jurnalis menyimak jalannya Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerja Sama Shanghai (KTT SCO) di Tianjin, China pada Senin (1/9/2025). Ribuan jurnalis dari berbagai negara, termasuk China yang jadi tuan rumah KKT SCO 2025, hadir di Tianjin untuk meliput. Ada lebih dari 20 kepala negara dan 10 organisasi internasional yang hadir di KTT ini, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin. Presiden Indonesia Prabowo Subianto sedianya hadir, namun batal dan digantikan Menteri Luar Negeri Sugiono.

Xi menambahkan, semangat ini mesti dijaga di tengah kondisi global yang penuh tantangan dan perubahan. SCO diyakini punya cukup modal untuk mengatasi itu semua, tetapi seluruh anggota mesti solid.

Adapun SCO adalah organisasi regional terbesar. Organisasi ini mencakup sekitar 60 persen wilayah Eurasia dan sekitar 40 persen populasi global. Xi mengatakan, Output ekonomi gabungan dari negara-negara SCO mencapai 30 triliun dollar AS. Output ekonomi adalah nilai keluaran barang dan jasa.

”Seluruh negara anggota SCO adalah kawan dan mitra. Kita harus menghargai perbedaan, menjaga komunikasi strategis, membangun kesepakatan, serta memperkuat solidaritas dan kolaborasi,” ucap Xi.

Selain itu, Xi juga membahas soal pentingnya SCO untuk mengusung keadilan guna menjaga perdamaian global. Ia berharap SCO dapat mengadvokasi dunia yang multipolar serta inklusif dan menguntungkan.

”Kami selalu berpihak pada keadilan, mengusung inklusi dan pelajaran bersama, serta menolak hegemoni dan kekuatan politik sehingga dapat menjadi daya proaktif untuk perdamaian dunia dan pembangunan,” ucap Xi lagi.

Pernyataan bahwa seluruh anggota SCO adalah mitra ditunjukkan pula lewat interaksi antara China dan India pada Minggu (31/8/2025). Di salah satu pertemuan bilateral pada KTT SCO, Xi bertemu dengan Perdana Menteri India Narendra Modi. Keduanya sepakat bahwa China dan India adalah kawan, bukan lawan. Ini merujuk pada pertikaian keduanya karena isu perbatasan di Himalaya.

Ketimbang ancaman bagi satu sama lain, Xi menilai China dan India sebagai peluang untuk saling berkembang. Selama kedua negara konsisten di jalur ini, ia yakin hubungan bilateral China-India akan stabil dan berkelanjutan.

FILE - In this Oct. 16, 2016, file photo, Indian Prime Minister Narendra Modi, left, talks with Chinese President Xi Jinping at the signing ceremony by foreign ministers during the BRICS summit in Goa, India. India’s Ministry of External Affairs said Wednesday, Oct. 9, 2019, that Xi and Modi would meet for a second informal summit in the southern coast city of Chennai on Oct. 11 and 12 to “exchange views on deepening” the two countries’ development. (AP Photo/Manish Swarup, File)

China dan India adalah dua kekuatan besar di negara-negara selatan atau Global South. Akurnya kedua negara diyakini dapat membawa kesejahteraan, termasuk untuk Asia Tenggara. Kerja sama strategis dan bersifat jangka panjang pun dipertimbangkan oleh China dan India.

Modi menyatakan, india siap mengembangkan hubungan bilateral dengan China secara jangka panjang. Penguatan hubungan India-China dinilai penting karena situasi ekonomi global tak menentu. India pun siap menyepakati penyelesaian terkait perbatasan yang adil, masuk akal, dan bisa diterima kedua pihak.

SCO mengemban tanggung jawab besar akan perdamaian dan stabilitas regional. SCO juga bertanggung jawab untuk meningkatkan pembangunan sejumlah negara di tengah ketidakpastian dan tantangan global saat ini.

KTT terbesar

Ada lebih dari 20 pemimpin negara dan 10 organisasi internasional yang hadir di Tianjin. Ini menjadikan KTT SCO 2025 sebagai KTT terbesar sejak SCO didirikan pada 2001.

Para pemimpin yang hadir, antara lain, datang dari 10 negara anggota SCO. Mereka adalah Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, Perdana Menteri India Narendra Modi, Perdana Menteri Pakistan Shahbaz Sharif, dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Ada pula Presiden Kirgistan Sadyr Japarov, Presiden Belarus Alexander Lukashenko, Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev, Presiden Tajikistan Emomali Rahmon, dan Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev.

Meski bukan negara anggota SCO, Indonesia diundang untuk hadir di KTT. Presiden Prabowo Subianto sedianya dijadwalkan hadir, tapi batal H-1 KTT karena situasi domestik di Indonesia tengah panas. Kehadiran Presiden Prabowo digantikan Menteri Luar Negeri Sugiono.

Suasana ruang pers atau "media center" untuk para peliput Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerja Sama Shanghai (KTT SCO) di Tianjin, China pada Senin (1/9/2025). Ribuan jurnalis dari berbagai negara, termasuk China yang jadi tuan rumah KKT SCO 2025, hadir di Tianjin untuk meliput. Ada lebih dari 20 kepala negara dan 10 organisasi internasional yang hadir di KTT ini, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin. Presiden Indonesia Prabowo Subianto sedianya hadir, namun batal dan digantikan Menteri Luar Negeri Sugiono.

SCO semula dibentuk sebagai forum kerja sama regional oleh enam negara, yakni China, Rusia, Kazakhstan, Kirgistan, Tajikistan, dan Uzbekistan. Negara anggota SCO bertambah jadi 10 dengan bergabungnya India, Pakistan, Iran, dan Belarus. SCO juga memiliki dua negara pengamat, yaitu Mongolia dan Afghanistan, serta 14 negara mitra dialog.

Ada lebih dari 3.000 jurnalis internasional yang meliput KTT ini. Sebanyak 900 orang di antaranya berasal dari luar China, seperti negara-negara Asia Pasifik dan Eropa.

Adapun KTT SCO dilakukan tiap tahun secara bergiliran di negara-negara anggota. Kirgistan bakal jadi tuan rumah KTT SCO tahun depan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Sekar Gandhawangi dari Tianjin, China
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul