Peanut si tupai, yang dieutanasia karena menggigit petugas konservasi, dijadikan materi kampanye dan kesempatan oleh Partai Republik menyerang Partai Demokrat.
04 Nov 2024 19:00 WIB · Internasional
Oleh Luki Aulia - [email protected]
Dua hari sebelum pemilihan presiden Amerika Serikat, isu kontroversial apa pun bisa jadi materi kampanye. Seperti nasib Peanut, tupai yang dieutanasia petugas satwa liar New York. Calon wakil presiden dari Partai Republik, JD Vance, saat kampanye di Sanford, North Carolina, menyinggung Peanut untuk menyerang pemerintahan Presiden AS Joe Biden.
BBC, Senin (4/11/2024), menyebutkan, Peanut dibunuh setelah menggigit petugas dari Departemen Konservasi Lingkungan (DEC) New York yang menyita dia karena tinggal di rumah yang tidak layak. Sebelum Peanut, ada juga rakun bernama Fred yang dibunuh setelah diambil dari rumah yang sama.
”Pemerintah ini juga tidak peduli dengan ratusan ribu imigran ilegal yang datang ke negara kita. Bukan hanya tak peduli pada hewan peliharaan. Itu gila,” kata Vance.
Pemilik Peanut, Mark Longo, menuding DEC menggunakan kekerasan berlebihan saat mereka mendatangi rumahnya pada 30 Oktober 2024. Dia akan menuntut DEC dan mengampanyekannya di media sosial dengan tagar #JusticeforPeanut. Dia sudah memelihara Peanut selama 7 tahun.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/07/18/3e01689d-7d75-470d-b01c-f9c2abecd769_jpg.jpg)
Peanut dan Longo punya 500.000 pengikut di media sosial Instagram. Longo meluncurkan GoFundMe yang sudah mengumpulkan 140.000 dollar AS.
DEC menerima banyak aduan dari warga tentang rumah Longo yang menjadi rumah satwa liar. Ini berisiko membawa rabies dan dikhawatirkan ada satwa liar yang diperoleh secara ilegal.
Anggota Kongres AS perwakilan New York dari Partai Republik, Nick Langworthy, menilai, prioritas Gubernur Kathy Hochul dari Demokrat salah. ”Di Negara Bagian New York, kami punya tempat pelindungan bagi imigran ilegal. Tetapi, hewan peliharaan yang tidak bersalah dibunuh,” tulisnya di media sosial.
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Fransisca Romana Ninik W