Dari sisi geokultural, kelas ekonomi, hingga tingkat pendidikan, mayoritas memilih Dedi-Erwan. Sebagian besar melihat keduanya karena merakyat dan berpengalaman.
27 Nov 2024 21:08 WIB · Politik & Hukum
JAKARTA, KOMPAS — Prediksi kemenangan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur nomor urut 4 di Pilkada Jawa Barat, Dedi Mulyadi dan Erwan Setiawan, tidak terlepas dari datangnya dukungan yang merata untuk pasangan yang diusung oleh Koalisi Indonesia Maju atau KIM tersebut. Bahkan, mereka berhasil merebut banyak suara dari kantong pemilih yang berasal dari partai pengusung pasangan calon lain.
Hasil quick count atau hitung cepat Litbang Kompas menunjukkan Dedi-Erwan memperoleh 61,26 persen suara. Sementara itu, pasangan nomor urut 1, Acep Adang Ruhiat dan Gitalis Dwi Natarina, mendapatkan 10,23 persen suara; pasangan nomor urut 2, Jeje Wiradinata dan Ronal Surapradja 9,12 persen suara; serta pasangan nomor urut 3, Ahmad Syaikhu dan Ilham Akbar Habibie, 19,39 persen suara.
Data tersebut diperbarui pada pukul 17.57 WIB dengan sampel masuk 97,75 persen. Hitung cepat Litbang Kompas di Pilkada Jabar 2024 menggunakan sampel dari 400 TPS di 38 kabupaten/kota di Jabar. Penentuan sampel menggunakan metode acak sistematis berdasarkan jumlah daftar pemilih tetap di Pilkada Jabar. Adapun margin of error di bawah 1 persen dan tingkat kepercayaan 99 persen.
Peneliti Litbang Kompas, Rangga Eka Sakti, Rabu (27/11/2024), di Jakarta, mengatakan, hasil quick count menunjukkan perolehan suara Dedi-Erwan jauh dari tiga pesaing lainnya. Hasil tersebut serupa dengan survei Litbang Kompas yang diselenggarakan pada 1-9 November 2024. Dari survei dengan metode wawancara tatap muka kepada 630 responden di Provinsi Jabar di awal November itu, pasangan Dedi-Erwan meraih potensi keterpilihan 65 persen.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/12/e3a008e6-cccd-4938-b431-abe24d95dbca_png.png)
”Situasi itu sudah mulai mengkristal. Bahwa pasangan Dedi-Erwan, dukungan yang mereka dapatkan itu relatif merata,” kata Rangga.
Berdasarkan hasil exit poll, ia menjelaskan, hampir semua kelompok pemilih berdasarkan geokultural hingga sosial ekonomi, mayoritas memilih Dedi-Erwan. Dukungan itu mengalir dari berbagai kanal.
Dari sisi geokultural, mayoritas pemilih asal megapolitan, Priangan Timur, Priangan Barat, dan Cirebon memilih Dedi-Erwan. Begitu juga dengan kelas ekonomi bawah, menengah bawah, menengah atas dan atas, itu mayoritas memilih Dedi-Erwan. Pemilih dari tingkat pendidikan dasar, menengah, dan tinggi juga memilih Dedi-Erwan. Jumlah mereka mencapai 60,8 persen.
Pemilih dari partai pengusung tiga pesaingnya juga mengalir ke Dedi-Erwan. Sebagai contoh, 58,6 persen pemilih dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) justru memilih Dedi-Erwan.
Dari sisi partai, muncul dua fenomena. Dedi-Erwan diusung oleh KIM, parpol pengusung Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 yang gemuk. Namun, mereka mampu menjaga basis suaranya. Mayoritas pemilih dari partai pengusung seperti Gerindra dan Golkar mengalir ke Dedi-Erwan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/27/5a727ed83ee93d4670b5fa51e64ae2c5-IMG_2708.JPG)
Pemilih dari partai pengusung tiga pesaingnya juga mengalir ke Dedi-Erwan. Sebagai contoh, 58,6 persen pemilih dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) justru memilih Dedi-Erwan daripada Jeje-Ronal. Begitu juga dengan 57 persen pemilih dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mengalir ke Dedi-Erwan ketimbang ke Acep-Gita yang diusungnya.
Banyak pemilih dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang mengusung Syaikhu-Ilham juga mendukung Dedi-Erwan, yakni 37,9 persen. Padahal, Syaikhu merupakan mantan presiden PKS dan Ilham merupakan putra Presiden ke-3 RI BJ Habibie. PKS juga punya sejarah panjang di Jawa Barat ketika Pelaksana Harian Presiden PKS Ahmad Heryawan menjadi Gubernur Jawa Barat hingga dua periode.
Dalam rentang satu periode pada masa kepemimpinan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum, pengaruh PKS berkurang signifikan. Hal itu terjadi karena beberapa basis suara PKS, terutama di daerah urban, telah dikuasai Dedi-Erwan.
Masyarakat Jabar dari hasil survei juga melihat latar belakang atau rekam jejak setiap pasangan calon. Sebanyak 78,7 persen pemilih melihat Dedi-Erwan merakyat dan 71,3 persen pemilih juga melihat keduanya berpengalaman.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/16/7d3473a1-97cc-4ee9-a18f-ddd11602af77_jpg.jpg)
Dedi cukup berpengalaman sebagai kepala daerah setelah menjadi bupati Purwakarta dua periode. Erwan juga pernah menjadi wakil bupati Sumedang.
Rangga melihat ada pergeseran kultural di Jabar. Selama ini Jabar diasumsikan sebagai basis Muslim, tetapi pada Pilkada 2024 ini menjadi ke arah identitas tradisional yang dibawa oleh Dedi.
Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra tersebut sering mengenakan ikat kepala atau yang disebut iket oleh orang Sunda dalam berbagai kesempatan. Ia juga mencitrakan diri sebagai orang asli Sunda dan sosok yang dekat dengan rakyat. Ketika menjadi bupati Purwakarta, ikat kepala yang juga disebut totopong oleh orang Sunda tersebut sudah lekat dengan sosok Dedi.
Selama ini Jabar diasumsikan sebagai basis Muslim, tetapi pada Pilkada 2024 ini menjadi ke arah identitas tradisional yang dibawa oleh Dedi.
Bagi Dedi, iket memiliki makna cing caringcing pageuh kancing, set saringset pageuh iket, yang berarti memimpin dengan hati dan ketulusan jiwa. Iket sebagai simbol agar pemimpin mengikatkan hati dengan pikiran demi kesejahteraan rakyat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/27/89f48f6637149516576ce763432b55f3-WhatsApp_Image_2024_11_27_at_19.02.09.jpeg)
Pilkada Jabar kali ini berbeda dengan Pilkada 2018 yang relatif kompetitif. Persaingan pada 2018 relatif ketat dengan pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum menjadi pemenang setelah memperoleh suara 32 persen. Selisihnya hanya 4 persen dari raihan suara pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Sudrajat-Ahmad Syaikhu yang berada di urutan kedua.
Jika dibandingkan dengan hasil Pilpres 2024, Rangga melihat mesin dari partai pengusung Dedi dan Ridwan memiliki infrastruktur yang kuat dan matang. Alhasil, siapa pun calon yang diusung tidak akan menjadi persoalan. ”Makanya, kenapa akhirnya suara RK (Ridwan Kamil) itu dengan cukup mudah mengalir ke Dedi-Erwan,” katanya.
Penulis:
Prayogi Dwi SulistyoEditor:
Madina Nusrat