Kemenangan Khofifah-Emil ditopang suara pemilih lamanya yang loyal, yaitu nadhliyin pada Pilkada Jatim 2008, dan limpahan pemilih Gus Ipul di Pilkada Jatim 2018.
27 Nov 2024 20:12 WIB · Politik & Hukum
Sebagai wujud komitmen Harian Kompas (Kompas.id) dalam mengawal demokrasi, artikel yang disusun berdasarkan survei independen dan liputan jurnalistik secara mendalam ini kami bebas akseskan selama satu hari, untuk bekal informasi Anda.
Dukung misi besar kami dengan berlangganan Kompas.id 12 bulan di harga promosi Rp 120.000 (normal Rp 600.000). Klaim promonya di https://komp.as/qc120, atau jika Anda membaca tawaran ini di aplikasi, silakan klik https://komp.as/LanggananAplikasi.
=============================
JAKARTA, KOMPAS — Kemenangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak di Pilkada Jawa Timur 2024 ditopang oleh suara dari pemilih loyal dan pemilih Nahdlatul Ulama atau dikenal sebagai nahdliyin. Pemilih tersebut membuat suara Khofifah-Emil mendominasi di hampir semua wilayah di Jatim.
Quick count Litbang Kompas di Pilkada Jawa Timur, Rabu (27/11/2024), sebelumnya memprediksi kemenangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak. Petahana tersebut memperoleh 58,41 persen suara.
Khofifah-Emil unggul jauh dibandingkan dengan Tri Rismaharini-Zahnur Azhar Asumta (Gus Hans) yang memperoleh 33,09 persen suara. Sementara Luluk Nur Hamidah-Lukmanul Khakim mendapatkan 8,50 persen suara.
Data berasal dari 98,50 persen sampel pada pukul 18.27 WIB. Sampel berasal dari 400 TPS di 38 kabupaten/kota di Jatim yang ditentukan menggunakan metode acak sistematis berdasarkan jumlah daftar pemilih tetap di Pilkada Jatim. Adapun margin of error di bawah 1 persen dengan tingkat kepercayaan 99 persen.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/27/2901909b-f7b4-4187-9862-520d23c1e006_jpg.jpg)
Peneliti Litbang Kompas, Yohanes Mega Hendarto, mengatakan, mengacu hasil survei pasca-penclobosan exit poll Litbang Kompas, kemenangan Khofifah-Emil di pilkada kali ini ditopang dari suara para pemilih loyal. Mereka antara lain berasal dari pemilih Khofifah-Emil di Pilkada Jatim 2018. Pemilih tersebut berlatar belakang dari kelompok masyarakat ekonomi rendah dan berpendidikan rendah.
Pemerintahan Khofifah-Emil selama lima tahun terakhir menjadi modal untuk menjaga pemilih loyal.
Sebagian di antaranya bahkan merupakan pemilih Khofifah sejak Pilkada Jatim 2008. Hal itu pun membuat figur Khofifah sudah mengakar kuat di masyarakat Jatim.
”Pemerintahan Khofifah-Emil selama lima tahun terakhir menjadi modal untuk menjaga pemilih loyal,” ujar Hendarto di Menara Kompas, Jakarta, Rabu (27/11/2024).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2018/05/08/a5769406-638e-4c1f-9fe3-6ac31431596b_jpg.jpg)
Selain itu, Khofifah-Emil mendapat limpahan suara dari pemilih Saifullah Yusuf atau akrab disapa Gus Ipul di Pilkada 2018 lalu. Hal ini mengingat Gus Ipul yang tidak ikut kontestasi Pilkada Jatim 2024 memberikan dukungannya kepada Khofifah-Emil. Limpahan suara yang diperoleh petahana itu bahkan mencapai 30 persen dari pemilih Gus Ipul.
Jadi memang pemilih loyal dan segmen pemilih berlatar belakang NU menjadi kunci kemenangan Khofifah-Emil di Pilkada Jatim 2024.
Para pemilih Khofifah-Emil itu beririsan dengan pemilih berlatar belakang Nahdlatul Ulama. Sebab, hampir 80 persen segmen pemilih di Jatim mengaku terafiliasi dengan NU. Apalagi, Khofifah saat ini juga menjadi Ketua Umum Muslimat NU.
”Jadi memang pemilih loyal dan segmen pemilih berlatar belakang NU menjadi kunci kemenangan Khofifah-Emil di Pilkada Jatim 2024,” tutur Hendarto.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/02/11/66e255ae-9b1f-4332-92f1-55af093b4b81_jpeg.jpg)
Sementara dari sebaran pemilih, Khofifah unggul hampir di semua daerah di Jatim. Pasangan nomor urut dua itu unggul di wilayah Tapal Kuda, Mataraman, dan sebagian wilayah Arek. Adapun daerah Surabaya Raya yang menjadi bagian dari wilayah Arek dikuasai oleh pasangan Risma-Gus Hans.
Pemilih baru mendapat kepastian Risma-Gus Hans maju di Pilgub Jatim saat masa pendaftaran. Berbeda dengan Khofifah-Emil yang sudah mengantongi tiket jauh hari sebelum yang lain.
Endar melanjutkan, Risma-Gus Hans terlihat memberikan perlawanan kepada Khofifah-Emil. Hal ini terlihat perolehan suara Risma yang naik dari survei awal November sebesar 20,9 persen menjadi 33,09 persen suara.
Meski demikian, perlawanan mantan Wali Kota Surabaya itu tidak terlalu signifikan. Gempuran Risma juga hanya kuat di wilayah Arek yang meliputi Surabaya Raya dan Malang Raya. Hal itu salah satunya dipengaruhi dari sosialisasi yang kurang akibat ”kalah start”.
”Pemilih baru mendapat kepastian Risma-Gus Hans maju di Pilgub Jatim saat masa pendaftaran. Berbeda dengan Khofifah-Emil yang sudah mengantongi tiket jauh hari sebelum yang lain,” ucap Hendarto.
Penulis:
Iqbal BasyariEditor:
Suhartono .