Fajar/Fikri mengakhiri debut di Indonesia Terbuka dengan antiklimaks. Mereka tidak berkutik menghadapi pasangan China yang sempat dikalahkan pada dua bulan lalu.
03 Jun 2026 17:33 WIB · Olahraga
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
JAKARTA, KOMPAS — Debut ganda putra andalan tuan rumah, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, di Polytron Indonesia Terbuka 2026 berakhir mengecewakan. Pasangan unggulan ketiga itu tersingkir di babak pertama dengan performa yang sangat buruk, bahkan terburuk sejak mereka berpasangan.
Fajar/Fikri gagal melanjutkan momentum dari Singapura Terbuka 2026. Setelah berhasil mencapai partai puncak pada akhir pekan lalu, mereka langsung tersingir di babak 32 besar Indonesia Terbuka. Mereka ditaklukkan pasangan non-unggulan China, Chen Bo Yang/Liu Yi, 13-21, 14-21 di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Chen/Liu hanya membutuhkan 37 menit untuk mengatasi pasangan tuan rumah yang didukung ribuan penonton. Mereka selalu unggul atas Fajar/Fikri dari poin pertama di gim satu hingga poin terakhir di gim dua. Ganda peringkat ke-10 dunia itu tidak membiarkan permainan lawan berkembang dan selalu mampu mengontrol ritme permainan.
”Yang pasti tadi memang lawan bermain sangat siap sekali. Mereka bermain bertahan lalu berbalik nyerang. Mereka mempunyai pertahanan yang sangat rapat. Serangan kami tidak tembus. Jadi, kami ingin cepat-cepat mematikan malah jadi bumerang buat kami sendiri,” kata Fajar yang masih berpasangan dengan Muhammad Rian Ardianto di Indonesia Terbuka 2025.
Fajar/Fikri mengambil inisiatif untuk menyerang lebih dulu. Masalahnya, tidak ada ”tukang gebuk” dalam pasangan tersebut. Mereka sama-sama pemain depan sehingga tidak ada smes-smes bertenaga yang mampu menyulitkan ganda lawan. Kebetulan juga, pertahanan Chen/Liu sedang berada dalam puncak performa. Serangan Fajar/Fikri justru sering berujung kesalahan sendiri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/03/2ac07068cea42f11636daca66c9ed749-MYE_7212.jpg)
Pola permainan sempat diubah oleh ganda peringkat kedua dunia tersebut. Fajar/Fikri mencoba untuk beradu drive atau pukulan cepat nan datar, untuk memaksa permainan cepat. Namun, Chen/Liu ternyata siap mengantisipasi adu drive. Dengan mengandalkan tinggi badan menjulang, Chen mampu membuat bola selalu turun tajam.
Fikri berkata, pelatih mereka, Antonius Budi, sempat meminta untuk bertahan lebih dulu. Namun, itu tidak banyak berpengaruh. Mereka sudah kehilangan momentum. ”Kami mencoba itu, tetapi serangan lawan juga bagus. Mereka sangat solid. Jadi, kami malah membuat kesalahan sendiri,” ujar pemain 26 tahun tersebut.
Sejak dipasangkan pada pertengahan tahun lalu, Fajar/Fikri belum pernah tersingkir di babak 32 besar. Mereka hampir selalu mampu melangkah jauh di setiap turnamen. Prestasi terburuk itu justru tercipta di Indonesia Terbuka, yaitu saat keduanya diandalkan untuk bisa berjaya di depan dukungan penonton tuan rumah.
”Ini penampilan mungkin bisa dibilang penampilan paling buruk, ya. Semenjak saya partneran sama Fikri, kami tidak pernah bermain seperti itu, tidak bisa keluar dari tekanan lawan. Jadi, menurut saya, inilah permainan terburuk saya sama Fikri,” ujar Fajar yang masih menembus semifinal, bersama Rian, di turnamen edisi sebelumnya.
Isu kelelahan membayangi Fajar/Fikri. Mereka baru saja tampil di final Singapura Terbuka, yaitu saat kalah dari pasangan India Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty, pada Minggu lalu. Mereka hanya memiliki waktu pemulihan sekitar dua hari. Meskipun begitu, mereka enggan menggunakan alasan tersebut sebagai penyebab kekalahan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/25/19811a453835f84f5ecede85e0046e61-20260525_ANU_Tuan_Rumah_Bulutangkis1_mumed.jpg)
Fajar/Fikri dan Chen/Liu sudah pernah bertemu sekali, tepatnya di Kejuaraan Asia 2026 pada April lalu. Ketika itu, pasangan ”Merah Putih” berhasil memenangi pertarungan ketat dalam dua gim 21-17, 25-23. ”Ya, mungkin tadi lawan sudah mempelajar permainan kami. Mereka sudah tahu persis kekurangan kami,” kata Fajar.
Wakil Indonesia lainnya di ganda putra, Ali Faathir Rayhan/Devin Artha Wahyudi, juga harus tersingkir. Ganda debutan itu kalah dari pasangan Taiwan, He Zhi-Wei/Huang Jui-Hsuan, 21-13, 17-21, 11-21. Ali/Devin sempat memulai laga dengan menjanjikan di gim pertama, tetapi tidak mampu mempertahankan konsistensi.
Ganda muda tuan rumah itu kalah mental di gim penentu. Mereka begitu mudah memberikan poin ke lawan dengan rentetan kesalahan. He/Huang sempat unggul 11-2 di interval gim terakhir. Ali/Devin berupaya mengejar, sempat memperkecil ketinggalan hingga dua poin, tetapi kehilangan kontrol lagi setelah itu.
Pencapaian tim ganda putra Indonesia terbilang kurang memuaskan hingga saat ini ini. Ganda tuan rumah Rian/Rahmat Hidayat membuka perjalanan tim pada hari ini dengan kekalahan dari pasangan Jepang Takuro Hoki/Yugo Kobayashi, 8-21, 13-21. Dari tiga ganda yang sudah tampil, semuanya tersingkir di babak awal.
Penulis:
Kelvin Hianusa, Rebiyyah SalasahEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase