Meski remnya berfungsi, truk yang terlibat kecelakaan di Jalan Tol Pandaan-Malang ternyata mengalami panas berlebih di bagian mesin.
24 Des 2024 14:21 WIB · Kriminalitas
MALANG, KOMPAS — Sejumlah fakta baru terkait kecelakaan yang melibatkan bus pariwisata dan truk dengan muatan pakan ternak di Jalan Tol Pandaan-Malang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Senin (23/12/2024) sore, mulai terungkap. Dari hasil pemeriksaan, truk yang terlibat kecelakaan itu mengalami panas berlebih pada mesin.
Hal itu terungkap dalam olah tempat kejadian perkara (TKP) yang dipimpin Direktur Lalu Lintas Polda Jawa Timur Komisaris Besar Komarudin, Selasa (24/12/2024), di lokasi kejadian. Dalam olah TKP itu diketahui, truk tersebut berhenti di titik tanjakan Kilometer 78+50.
”Hari ini kami menemukan, titik tanjakan jalur Tol Pandaan-Malang pertama kali pada Km 77+100. Kedua, awal penurunan (dari Malang ke Surabaya) ada di Km 79. Posisi truk berhenti berada di Km 78+50, persis berseberangan dengan jalur darurat tol di jalur B (jalur Malang ke Surabaya). Jalur ini untuk mengantisipasi kendaraan remnya blong. Artinya, truk berhenti pada posisi kemiringan,” kata Komarudin.
Seperti diberitakan, kecelakaan yang melibatkan truk bermuatan pakan ternak dan bus pariwisata terjadi di Jalan Tol Pandaan-Malang, tepatnya di Km 77+200A arah Malang pada Senin (23/12/2024) sekitar pukul 16.00 WIB. Saat itu, truk tersebut diduga tidak kuat menanjak di jalan tol yang memang berkontur sedikit menanjak dan menikung ke kiri.
Saat truk tidak kuat menanjak, sang sopir menghentikan truk di bahu jalan sebelah kiri. Ia lalu turun dan mengganjal ban belakang sisi kanan. Setelah itu, dia bergerak ke sisi kiri untuk mengganjal ban sisi kiri. Sopir itu hanya sendirian mengendalikan truk tersebut.
Namun, truk itu bergerak meluncur mundur dan mengarah ke tengah jalan tol. Dari arah belakang truk, bus wisata Tirto Agung dengan nomor polisi S7607UW melaju dengan cepat sehingga tabrakan tidak bisa dihindari. Akibat kecelakaan ini, empat orang yang berasal dari rombongan bus meninggal, termasuk sopir dan kru bus.
Komarudin memaparkan, dalam olah TKP, polisi menemukan bekas ganjalan di dekat lokasi truk berhenti. Hal ini menguatkan dugaan bahwa sopir truk sempat mengganjal truk tersebut.
”Posisi truk saat itu dalam keadaan rem tangan terpasang. Menurut pengakuan sementara sopir, dia berniat mengganjal truk. Ia turun dari truk dengan posisi mesin hidup dan persneling netral,” katanya.
Berdasarkan penyelidikan polisi, truk dengan muatan pakan ternak itu mengangkut beban seberat 11,2 ton. Polisi masih akan memastikan lagi apakah beban tersebut melebihi kapasitas atau tidak.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/24/06980b6bebed868dc880a42ece8284a1-WhatsApp_Image_2024_12_24_at_12.20.55_PM.jpeg)
Di sisi lain, polisi belum menemukan bukti bus yang terlibat kecelakaan itu melakukan pengereman sebelum bertabrakan dengan truk. Apalagi, sebelumnya bus tersebut melewati jalur menanjak. Dalam posisi itu, kendaraan biasanya menambah kecepatan.
”Kalau dilihat dari kecepatan bus 80 kilometer per jam di tol dan langsung berhenti, bus ini belum sempat mengerem. Awal tanjakan jalur tol ini berada di Km 77+100, di mana sebagian besar pengendara tidak mengerem tetapi justru menambah kecepatan. Sebab, ini jalur menanjak. Kalau untuk angkutan besar, jika mengurangi kecepatan terkadang malah akan menimbulkan kendala,” ungkap Komarudin.
Komarudin menambahkan, polisi juga akan menyelidiki kemungkinan sopir bus tidak melihat adanya truk yang meluncur turun. Sebab, posisi truk saat itu berada di tikungan.
Dia juga menyebut, seusai bertabrakan dengan truk, bus tertahan oleh besi pembatas jalan tol sehingga tidak jatuh terguling ke bawah. ”Kalau bus sampai jatuh ke bawah, korban jiwa sangat mungkin lebih banyak lagi,” tuturnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/23/62526287bf62e4f6c6c758801da24b90-WhatsApp_Image_2024_12_23_at_6.31.19_PM_1_.jpeg)
Hingga saat ini, polisi masih meminta keterangan sopir truk. Sementara itu, anggota rombongan yang menaiki bus tidak banyak tahu kronologi kejadian karena saat itu mereka sedang tertidur.
”Kami akan lakukan persesuaian keterangan dengan keterangan saksi. Apalagi kami minim saksi karena sopir dan kru bus meninggal. Penumpang bus saat kejadian juga dalam posisi tertidur,” ujar Komarudin.
Komarudin menuturkan, polisi melakukan olah TKP dengan metode traffic accident analysis (TAA). Menurut dia, TAA akan memperlihatan pergerakan kendaraan, elevasi dan kemiringan, sudut pandang pengemudi, serta beberapa fakta lain yang berguna untuk memperkuat penyelidikan kasus tersebut.
Posisi truk saat itu dalam keadaan rem tangan terpasang. Menurut pengakuan sementara sopir, dia berniat mengganjal truk. Ia turun dari truk dengan posisi mesin hidup dan persneling netral.
Umar Faruq, tim penguji dari Ikatan Penguji Kendaraan Bermotor Indonesia (IPKBI) Jatim, mengatakan, truk yang terlibat kecelakaan itu mengalami overheating atau panas berlebih karena ada masalah pada sistem pendinginan.
”Saat diperiksa, ditemukan bahwa air radiator habis atau tidak bersisa. Ini sangat berbahaya karena kalau air habis bisa membuat macet dan mesin rusak,” ujarnya.
Sementara itu, berdasarkan pengecekan pada sistem pengereman, rem truk tersebut diketahui masih berfungsi. ”Hanya saat kendaraan mundur, kita tidak tahu apa yang terjadi kemudian,” kata Umar.
Penulis:
Dahlia IrawatiEditor:
Haris FirdausPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan