Berbagai faktor domestik memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah yang sedang berada dalam tren penguatan.
29 Agt 2025 19:12 WIB · Ekonomi & Bisnis
JAKARTA, KOMPAS — Nilai tukar rupiah mengalami tekanan hingga menyentuh level Rp 16.400 per dollar AS. Tekanan ini berasal dari kombinasi berbagai faktor domestik, seperti pemangkasan suku bunga acuan, faktor musiman, serta gejolak sosial-politik yang akhir-akhir ini terjadi.
Merujuk data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) pada Jumat (29/8/2025), nilai tukar rupiah ditutup di level Rp 16.461 per dollar AS. Dengan demikian, rupiah melemah sebesar 0,64 persen dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya.
Ekonom Global Markets Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, berpendapat, perkembangan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti lonjakan permintaan dollar AS pada akhir bulan untuk pembayaran utang luar negeri, pembayaran impor, serta kebutuhan rutin lainnya.
Pelemahan rupiah juga dipengaruhi aksi ambil untung (profit taking) oleh para investor setelah mereka menikmati periode penguatan di pasar keuangan domestik sebulan terakhir. Aksi tersebut terutama didorong oleh faktor akhir bulan serta tensi sosial-politik dalam negeri yang meningkat.
”Tensi sosial-politik yang meningkat di dalam negeri membuat para investor kurang nyaman untuk investasi lebih lanjut sehingga mereka keluar dulu sambil melihat situasi lebih lanjut,” katanya saat dihubungi dari Jakarta.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/18/0c885edb916dedae30e10a840f3e18a5-20250718TOK13.jpg)
Meski demikian, rupiah masih dalam tren menguat dengan perkiraan pada September 2025 berpotensi menuju ke level di bawah Rp 16.400-Rp 16.300 per dollar AS. Tren tersebut didukung oleh kinerja neraca perdagangan yang konsisten mencatatkan surplus serta terjaganya defisit neraca transaksi berjalan.
Myrdal menambahkan, iklim investasi global saat ini juga cenderung kondusif seiring dengan potensi pemangkasan suku bunga acuan oleh Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed), pada September 2025 sebesar 25 basis poin (bps). Kebijakan ini akan mendorong arah investasi global menuju aset keuangan yang menawarkan imbal hasil yang menarik dan memiliki fundamental yang kuat.
”Ini yang membuat rupiah pada September menguat. Namun, kembali lagi, kalau kondisi dalam negeri berubah menjadi kurang favorable untuk investor, mereka tidak segan-segan untuk melakukan profit taking atau tidak jadi melakukan masif inflow,” tuturnya.
Belum ketahuan mana yang lebih berpengaruh karena demonstrasi ini terjadi bersamaan. Dampak itu baru terlihat kalau kondisi politik dan keamanan domestik stabil.
Berdasarkan data transaksi BI pada 19-21 Agustus 2025, investor asing mencatatkan beli neto sebesar Rp 0,91 triliun di pasar keuangan domestik. Ini terdiri dari beli neto sebesar Rp 2,31 triliun di pasar saham, serta jual neto sebesar Rp 0,62 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Rp 0,78 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Adapun sepanjang 2025, berdasarkan data setelmen hingga 21 Agustus 2025, investor asing masih mencatatkan jual neto sebesar Rp 67,19 triliun di pasar keuangan domestik. Ini terdiri dari jual neto sebesar Rp 52,99 triliun di pasar saham dan Rp 85,83 triliun di SRBI, serta beli neto sebesar Rp 71,63 triliun di pasar SBN.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/23/226251b76e466cfdf2e68b53f4da4e65-20250623TOK12.jpg)
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Telisa Aulia Falianty mengatakan, aksi unjuk rasa yang terjadi belakangan cenderung membuat para investor merasa tidak aman. Kondisi ini mengakibatkan keluarnya aliran modal asing dari pasar keuangan domestik.
Namun, sentimen tersebut cenderung bersifat temporer atau terjadi dalam jangka waktu pendek. Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah di tengah pelemahan indeks dollar AS terhadap mata uang utama (DXY) juga dipengaruhi oleh keputusan pemangkasan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia, beberapa waktu lalu.
”Belum ketahuan mana yang lebih berpengaruh, karena demonstrasi ini terjadi bersamaan. Dampak itu baru terlihat kalau kondisi politik dan keamanan domestik stabil,” kata Telisa.
Sebelumnya, BI memutuskan untuk kembali memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 bps menjadi 5 persen pada 20 Agustus 2025. Ini kali keempat BI menurunkan suku bunga acuannya sejak awal tahun 2025 dengan total pemangkasan sebesar 100 bps.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/20/1dd97b7abd035c399cdb075b7ba46e80-Screenshot_2025_08_20_144654.png)
Sebaliknya, The Fed masih mempertahankan suku bunga acuannya sebesar 4,25-4,5 persen pada akhir Juli 2025. Terakhir kali suku bunga diturunkan oleh The Fed pada Desember 2024 sebesar 25 bps, sehingga selisih suku bunga acuan antara The Fed dan BI kian menipis hingga terpaut 50-75 bps.
Mengutip data Jisdor, rupiah sejak pemangkasan suku bunga acuan pada Agustus 2025 cenderung tertekan. Sebelum diumumkan, nilai tukar rupiah tercatat menguat sebesar 1,29 persen ke level Rp 16.241 per dollar AS dibanding posisi akhir Juli 2025.
Namun, sepekan setelah pemangkasan, rupiah justru cenderung melemah ke kisaran level Rp 16.290-Rp 16.350 per dollar AS. Dengan demikian, nilai tukar rupiah melemah sekitar 0,4 persen dibandingkan posisi penutupan pasar saat pengumuman suku bunga acuan BI.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, BI berkomitmen akan terus berada di pasar keuangan. Langkah ini ditempuh guna memastikan nilai tukar rupiah tetap stabil serta sesuai dengan nilai fundamental dan mekanisme pasar yang berjalan dengan baik.
”Bank Indonesia terus memperkuat respons kebijakan stabilisasi, termasuk intervensi NDF (transaksi berjangka) di pasar off-shore, dan intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, DNDF (transaksi berjangka domestik), dan SBN di pasar sekunder,” katanya saat dihubungi dari Jakarta.
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
Agnes TheodoraPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto