Israel menyerang fasilitas pengayaan uranium milik Iran. Iran membalas menyerang kawasan pusat penelitian nuklir Israel.
22 Mar 2026 08:28 WIB · Internasional
AP/Ohad Zwigenberg
TEHERAN, MINGGU — Iran menyerang sasaran di dekat pusat penelitian nuklir utama Israel. Serangan itu sebagai balasan atas serangan terhadap fasilitas pengayaan uranium Iran di Natanz. Meski tidak ada kerusakan, serangan ke target-target nuklir berpotensi menimbulkan bencana nuklir yang berbahaya.
Kantor berita Associated Press, Minggu (22/3/2026), melaporkan, ini pertama kali kawasan pusat penelitian nuklir Israel menjadi sasaran pertempuran. Militer Israel mengatakan, mereka tidak mampu mencegat rudal yang menghantam kota Dimona dan Arad di wilayah selatan pada Sabtu.
Kota itu berada di dekat pusat penelitian di Gurun Negev. Dimona terletak 20 kilometer sebelah barat pusat penelitian, sedangkan Arad berlokasi sekitar 35 kilometer di sebelah utara.
Rekaman dari layanan darurat Israel menunjukkan kawah besar di dekat bangunan hunian yang dinding luarnya hancur. Rudal itu tampaknya menghantam area terbuka.
Israel diyakini sebagai satu-satunya negara di Timur Tengah yang memiliki senjata nuklir. Namun, para pemimpin Israel tidak mengonfirmasi atau menyangkal keberadaannya.
Menyusul serangan di dekat pusat penelitian nuklir Israel, Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), Sabtu, di media sosial X menyebutkan belum menerima laporan kerusakan atau tingkat radiasi yang tidak normal.
Sebelum berita tentang serangan di Dimona dan Arad menyebar, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan, pertempuran memasuki fase baru. ”Jika rezim Israel tidak mampu mencegat rudal di daerah Dimona yang dilindungi ketat, secara operasional, ini tandanya fase baru pertempuran,” kata Ghalibaf di X.
Pada Sabtu, kantor berita Iran, Mizan, melaporkan, fasilitas nuklir Natanz dihantam serangan udara. Tidak ada kebocoran radiasi setelah serangan terhadap fasilitas yang terletak 220 kilometer sebelah tenggara Teheran, ibu kota Iran, itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/03/b67db746-8b1e-4c05-941f-f714b36504a1.jpg)
Fasilitas itu merupakan situs pengayaan uranium utama Iran. Namun, IAEA mengungkapkan, sebagian besar dari 440 kilogram uranium yang diperkaya milik Iran berada di tempat lain, di bawah reruntuhan fasilitas lain di Isfahan. IAEA tengah menyelidiki serangan tersebut.
Israel membantah bertanggung jawab atas serangan terhadap fasilitas nuklir Natanz. Demikian pula Departemen Pertahanan AS (Pentagon) menolak berkomentar soal serangan tersebut.
Sementara Rusia langsung mengecam serangan ke Natanz. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengatakan, serangan itu menimbulkan risiko nyata bencana dahsyat di seluruh Timur Tengah. ”Ini pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional,” katanya dalam pernyataan.
Ini kedua kalinya Natanz diserang sejak AS dan Israel melancarkan agresi ke Iran pada 28 Februari 2026. Pada pekan pertama, Natanz telah menjadi target serangan AS-Israel. Natanz juga menjadi sasaran dalam Perang 12 hari antara Israel dan Iran pada Juni 2025.
Selain fasilitas nuklir Natanz, Iran sebelumnya melaporkan serangan terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr pada Selasa (17/3/2026). Sebuah proyektil diduga menghantam lahan di dekat PLTN tersebut. Tidak dilaporkan adanya pelepasan material radioaktif.
PLTN Bushehr terletak di Iran barat daya, sekitar 750 kilometer dari Teheran. Kota Bushehr menjadi rumah bagi pangkalan Angkatan Laut Iran dan bandara sipil-militer dengan sistem pertahanan udara yang melindungi wilayah tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/05/df03a28d11de6bc3a4b00d6ec31bcb21-20260205_ANU_AFP_Instalasi_Nuklir_Iran_mumed.jpg)
Perusahaan nuklir milik Pemerintah Rusia, Rosatom, langsung mengecam serangan di PLTN Bushehr. Ratusan teknisi Rusia turut mengoperasikan PLTN tersebut, sebagai bagian dari kerja sama dengan Iran.
Serangan-serangan ke fasilitas nuklir mencuatkan kekhawatiran bahwa perang bisa menimbulkan bencana radioaktif yang dahsyat jika terjadi salah perhitungan. Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi menekankan kembali seruannya agar pihak yang berkonflik menahan diri guna menghindari risiko apa pun akibat kecelakaan nuklir.
Kebocoran radiasi nuklir ke Teluk Persia akan menjadi krisis eksistensial bagi negara-negara Arab Teluk. Negara-negara, seperti Kuwait, Arab Saudi, Irak, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Oman, bergantung pada pabrik desalinasi di Teluk Persia untuk pasokan air mereka. (AP/REUTERS)
Penulis:
Fransisca Romana Ninik WEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra