Serangan Iran ke Israel menjawab pertanyaan dunia soal kemampuan Iran menembakkan rudal hipersonik.
03 Okt 2024 06:51 WIB · Politik & Hukum
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/10/69559641-d9dd-49ce-b64e-e002caf98912_jpg.jpg)
Serangan beruntun rudal balistik Iran ke Israel, 2 Oktober 2024, membuka sebuah tabir baru yang selama ini menjadi pertanyaan dunia: sejauh mana kemampuan Iran menembakkan rudal hipersoniknya?
Ibarat hujan api dari langit, penampakan serangan dua ratus rudal Iran di langit seluruh kawasan Israel membuat malam hari menjadi terang benderang oleh nyala ledakan dari rudal-rudal Iran yang dicegat rudal sistem Iron Dome Israel. Ini sudah kedua kalinya dalam lima bulan Iran mengirim ratusan rudal ke Israel.
Pada serangan sebelumnya, Iran menyerang seluruh kawasan Israel dengan 350 kombinasi rudal balistik, rudal jelajah, dan drone bunuh diri (kamikaze) yang mengentak kemampuan pertahanan udara Israel.
Tanpa bantuan pertahanan dari sistem aerial defense Angkatan Laut AS, serta negara-negara NATO yang berjaga di seputar perairan Mediterania, niscaya Israel sudah terkena ”bogem mentah” rudal Iran yang lolos dari sergapan Iron Dome.
Namun, pada serangan kali ini ada perbedaan yang menyeruak: Iran benar-benar menggunakan rudal hipersonik canggih Fattah (Parsi: penakluk) yang selama beberapa waktu terakhir sudah menjadi pembahasan di kalangan ahli militer NATO dan militer Israel sendiri.
Kekhawatiran tentang kecanggihan rudal hipersonik Fattah itu tecermin dalam laporan laman militer Eropa defence-industry.eu tanggal 8 Juni 2023 dan dianalisis oleh wartawan pengamat kemiliteran Israel, Arie Egozi.
Berbeda dengan tudingan negara Barat bahwa Iran mendapatkan teknologi rudal dari negara-negara seperti Rusia atau Korea Utara, Iran tampaknya berhasil mengembangkan secara lebih mandiri teknologi rudal, khususnya teknologi hipersonik.
Sejauh ini, baru China dan Rusia yang dianggap telah menerapkan secara mapan teknologi hipersonik dalam arsenal rudal mereka. Rusia membuktikan hal itu dengan meluncurkan berbagai jenis rudal hipersonik mereka dalam perang dengan Ukraina.
Sementara itu, Iran agaknya agak kurang diyakini oleh Barat akan mampu mencapai teknologi hipersonik secara cepat. Faktanya, kini badan penelitian dan pengembangan (R&D) Iran telah menghasilkan rudal hipersonik Fattah adalah asli buatan Iran.
Fattah bukan replika atau salinan dari desain lainnya sebagaimana banyak diduga selama ini, paling tidak pada teknologi roket hipersoniknya. Alih-alih mencontek negara lain, Iran tampaknya telah berhasil mengejar kesenjangan teknologi dengan Rusia ataupun negara Barat.
Tal Inbar, seorang analis senior Israel, telah menganalisis rudal Fattah dan menyimpulkan bahwa rudal hipersonik itu merupakan ”ancaman yang sangat nyata” bagi Israel dan bahkan mungkin menimbulkan ancaman bagi beberapa negara Eropa yang ada dalam jangkauannya hanya dalam waktu 400 detik saja.
Tahap pertama rudal Fattah dikembangkan pada rudal Khaibar Shekan yang kemudian dikembangkan menjadi rudal Khorramshahr dan dianggap sebagai rudal ’generasi baru’ di bidang rudal Iran.
Kheibar Shekan dan Khorramshahr merupakan rudal jarak jauh generasi ketiga Korps Garda Revolusi Islam, yang menggunakan bahan bakar padat dan dalam fase pendaratan, memiliki ’kemampuan manuver’ untuk melewati perisai rudal. Radius operasi Kheibar Shekan lebih dari 1.400 kilometer dengan ”kemampuan manuver sangat tinggi”, sedangkan rudal Khorramshahr memiliki jangkauan 2.000 km.
Rudal Fattah tampaknya telah dikembangkan sehingga memiliki jangkauan setara rudal Khorramshahr, dengan dampak ancaman nyata terhadap Israel hingga wilayah Eropa. Dalam serangan di malam 2 Oktober 2024 kemarin, jelas-jelas bahwa jangkauan rudal Fattah telah mengatasi kendala 1.800 km jarak antara Iran ke Israel.
Baca juga: Hujan Rudal Shahab Vs Iron Dome dalam Serangan Iran ke Israel
Rekaman-rekaman video yang beredar menunjukkan sejumlah lintasan api menghunjam sangat cepat dari langit ke daratan di bawahnya, yang jauh lebih cepat dari rudal lainnya. Demikian pula sejumlah kawah besar yang terbentuk dari hantaman rudal, yang mengena ke sejumlah kawasan di Israel.
Dari bukti-bukti itu makin terang benderang bahwa sistem iron dome maupun sistem pertahanan udara negara Barat yang ada di sekeliling Israel tak mampu mencegat rudal itu. Tak ada cara lain, Israel harus meningkatkan sistem pertahanan rudal, baik iron dome maupun sistem pertahanan berlapis lainnya, untuk melawan ancaman nyata dari rudal hipersonik Iran.
Korps Pengawal Revolusioner Islam (IRGC) Iran sebenarnya telah menunjukkan rudal balistik hipersonik Fattah pertama kali pada 6 Juni 2023. Saat itu, rudal Fattah yang memiliki desain sangat futuristik cenderung berbeda dengan pada bentuk tip/ujung rudal hipersonik China Dongfeng ”DZ-SF”, tetapi cukup mirip rudal hipersonik Rusia KH-47M2 ”Kinzhal”.
Rudal tersebut memiliki diameter sekitar 1 meter dan panjang sekitar 15,3 meter. Pada saat itu oleh para ahli rudal Israel, Fattah diklasifikasikan sebagai rudal hipersonik karena dengan kemampuan melesat di atas kecepatan 5 mach (6500 kpj), bahkan disebut-sebut mencapai 15 mach saat di lapisan stratosfer.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/04/16/aef50c6c-3628-4fe7-af5e-43eb0e71fb92_jpg.jpg)
Rudal Fattah memiliki berat lepas landas sekitar 12 ton, termasuk di dalamnya hampir 9 ton propelan/bahan bakar. Di tahap masuk kembali ke atmosfer dari lapisan stratosfer, rudal akan melepaskan bagian ujungnya yang runcing dan berfungsi sebagai ”kendaraan masuk kembali”/(reentry vehicle-RV) berbobot 1 ton, dan hulu ledak berbobot antara 350 hingga 450 kg. Hulu ledak seberat itu sudah cukup untuk diberi berbagai jenis peledak, termasuk peledak nuklir.
Rudal Fattah masuk kembali ke atmosfer/trophosphere menggunakan sistem panduan dan navigasi berdasarkan Inertial Navigation Unit (INU) dan Global Navigation Satellite System (GNSS), yang mencakup GPS dan GLONASS.
Circular Error Probable (CEP)/Akurasi bidikan yang dicapai dengan panduan navigasi itu adalah antara 10 hingga 25 meter, dengan kondisi hulu ledak jenis High Explosive Fragmentation (HEF).
Reentry Vehicle (RV) dilengkapi dengan motor roket yang kokoh mirip dengan motor tendangan yang digunakan pada peluncur satelit, khususnya Arash-24. RV mencakup empat sirip kemudi untuk mengendalikan rudal selama fase dorongan dan masuk kembali.
Baca juga: Dampak Serangan Rudal Iran ke Israel
Pada tahap pertama peluncuran rudal Fattah terjadi pembakaran pada motor roket, boost, dan meluncur keluar atmosfer diikuti pemisahan RV. Pada tahap kedua, rudal memasuki penerbangan balistik (melengkung sesuai permukaan bumi), diikuti dengan penyalaan penopang RV di luar atmosfer. RV kemudian melakukan manuver tiga dimensi masuk kembali ke atmosfer menggunakan empat sirip kemudi.
Pada fase ketiga, dilakukan manuver pitch-down (menukik) menggunakan keempat sirip, dan terus meluncur hingga target didekati dengan sudut serang yang direncanakan. Roket pendorong RV memiliki waktu pembakaran yang cukup lama, dimulai di luar atmosfer dan berlanjut hingga hampir terjadi benturan/impak.
Motor roket yang terbakar lama ini efektif untuk meminimalkan kehilangan gravitasi, dengan rudal terbang pada sudut serang (gamma) yang kecil.
Sudut yang curam itu meminimalkan guncangan dan hanya menjadi kecepatan supersonik saat mendekati tumbukan. Para ahli senior Israel mencatat bahwa Iran kemungkinan besar adalah negara pertama yang menerapkan sistem motor roket dalam RV hipersonik.
Gawatnya, perangkat luar angkasa AS (al. satelit2 pertahanan) dapat mendeteksi peluncuran rudal, tetapi tidak dapat memberikan prediksi titik dampak/sasaran dari rudal. Sepanjang seluruh fase penerbangan, termasuk pembakaran roket RV dan manuver 3D RV, berpotensi menyimpangi kemampuan pertahanan sistem pertahanan antirudal balistik Barat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/04/14/e00c8ae0-0f68-4970-a4e3-81ab7e552187_png.png)
Selama fase balistik, rudal ”Fattah” diperkirakan akan menggunakan lintasan ketinggian rendah, yang akan membatasi jangkauan radar darat dan sensor elektro-optik karena geometri garis pandang (LOS).
Pada fase manuver pull-up (tahap rudal menanjak tinggi sebelum menghunjam), RV mencapai ketinggian sekitar 15 km, sebagian besar sensor yang tidak berada di dekat titik obyek mungkin kehilangan garis pandang ke target RV. Manuver pull-down (turun tajam dari ketinggian secara cepat), yang melibatkan manuver high-G (gravitasi), juga dapat mengecoh kemampuan pelacakan oleh iron dome.
Keseluruhan kemampuan rudal Fattah dengan kemampuan hipersoniknya yang unik ini kembali mengejutkan Israel dan Barat sehingga memaksa skenario pertahanan udara harus disesuaikan.
Sistem iron dome dan sistem patriot harus mengembangkan software dan kemampuan pelacakan-penyergapan, atau secara agresif membumihanguskan Fattah di tempatnya sesaat diluncurkan. Dan rencana yang terakhir itulah yang tampaknya sedang dalam pertimbangan serius Israel dan AS. (LITBANG KOMPAS)
Baca juga: Perang Iran-Israel Merontokkan Pasar
Penulis:
M TOTO SURYANINGTYASEditor:
YOHAN WAHYU