The Fed menaikkan suku bunga ke 3,75-4 persen. Dengan prospek inflasi masih bandel, ada kemungkinan The Fed masih akan menaikkan lagi beberapa bulan ke depan.
17 Sep 2026 06:04 WIB · Ekonomi & Bisnis
AFP
JAKARTA, KOMPAS — Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed menaikkan 25 basis poin suku bunga acuan ke 3,75-4 persen, Kamis (17/9/2026) dini hari WIB. Ini adalah kenaikan pertama dalam tiga tahun terakhir. Ada kemungkinan, Fed rate yang menjadi acuan bagi pasar keuangan global akan naik lagi dalam beberapa bulan ke depan.
Komite Kebijakan Moneter Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau FOMC menggelar pertemuan reguler selama dua hari, 15-16 September 2026 di Washington DC. Dalam pertemuan itu, Komite memutuskan suku bunga acuan secara bulat.
”Komite memutuskan untuk menaikkan kisaran target suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75–4,00 persen, sebagai bagian dari upaya mendukung mandat ganda Federal Reserve. Komite melanjutkan kebijakan mempertahankan cadangan yang memadai dalam sistem perbankan,” kata The Fed dalam siaran persnya.
Mandat ganda yang dimaksud tersebut adalah dua mandat The Fed sebagaimana disebutkan dalam Undang-undang The Fed. Intinya, The Fed bertugas menjaga keseimbangan antara inflasi dan pasar tenaga kerja.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/15/74e74ab0037d468de2e1c77f53c9fd33-wires_photo_2_.jpg)
Dalam siaran persnya, The Fed menjelaskan, aktivitas ekonomi terus berkembang dengan solid. Ketidakpastian masih tinggi, antara lain akibat perkembangan geopolitik. Namun, belanja domestik tetap tangguh.
Produktivitas masih tumbuh kuat dan investasi modal tetap kokoh. Pertambahan lapangan kerja masih sejalan dengan pertumbuhan angkatan kerja, sementara tingkat pengangguran hanya mengalami sedikit perubahan.
”Inflasi masih berada pada level yang tinggi. Langkah kebijakan yang diambil hari ini akan mendukung kembalinya inflasi secara lebih tepat waktu menuju sasaran 2 persen yang ditetapkan Komite. Komite akan mewujudkan stabilitas harga,” kata The Fed.
Komite Kebijakan Moneter Bank Sentral AS terdiri atas 12 orang yang memiliki hak suara dalam memutuskan kebijakan moneter. Mereka terdiri dari tujuh anggota Dewan Gubernur Fed dan lima dari 12 presiden Federal Reserve Bank regional secara bergiliran.
Seluruh peserta Komite dalam rapat tersebut berjumlah 18 orang. Hanya 12 orang di antaranya yang memiliki hak suara. Peserta rapat memberikan proyeksi ekonomi dalam Summary of Economy Projections. Sebanyak 18 peserta tersebut terdiri atas tujuh Dewan Gubernur + 11 presiden Fed regional.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/03/2da40efbcecc87eb9f73e5c0482572c8-20251203BAH6.jpg)
Masih mengutip Reuters, SEP triwulanan terbaru menunjukkan bahwa 16 dari 18 peserta rapat memperkirakan, setidaknya masih akan ada satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir 2026. Hanya dua orang yang memperkirakan suku bunga akan tetap pada level saat ini. Kecuali satu orang, seluruh pembuat kebijakan tersebut melihat adanya risiko kenaikan inflasi.
Dalam laporan tersebut, The Fed memperkirakan inflasi akan berada pada level yang lebih tinggi, baik pada 2026 maupun pada tahun-tahun mendatang. Pada 2026, proyeksi median inflasi yang diukur berdasarkan Indeks Harga Konsumsi Pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index yang mencapai 3,7 persen, dibandingkan proyeksi 3,6 persen pada Juni 2026.
The Fed juga memperkirakan inflasi sebesar 2,3 persen pada 2027 dan 2,1 persen pada 2028, dibandingkan proyeksi Juni sebesar 2 persen. Para pejabat memperkirakan inflasi akan kembali ke target inflasi The Fed sebesar 2 persen pada 2029.
”Risiko inflasi mengarah ke atas,” kata Ketua The Fed Kevin Warsh dalam konferensi pers seusai pertemuan.
Penulis:
FX Laksana Agung SaputraEditor:
Muhammad Fajar MartaPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase