Sejumlah klub sepak bola Indonesia berganti nama dan pindah kota. Terbaru, Persikas Subang menjadi Sumsel United. Ada cerita panjang soal identitas yang hilang.
13 Jul 2025 10:01 WIB · Olahraga
Perubahan nama Persikas Subang menjadi Sumsel United ini menjadi salah satu keputusan kongres Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia atau PSSI di Jakarta, 4 Juni 2025. Tak hanya berubah nama, domisili klub asal Subang tersebut otomatis ikut pindah ke Palembang. Dengan demikian, Sumsel United resmi berdiri setelah mengakuisisi Persikas Subang, tim yang telah menjadi bagian dari sejarah sepak bola Subang sejak 1951.
Selain Persikas Subang, kongres biasa PSSI juga memutuskan enam klub lain yang juga berganti nama dan pindah domisili. Dikutip dari laman Bola Sport, keenam klub tersebut ialah Bhayangkara Presisi FC (Surabaya) menjadi Bhayangkara Presisi Lampung FC (Bandar Lampung), Tornado FC Pekanbaru (Pekanbaru) menjadi Kendal Tornado FC (Kendal), PS Maluku (Ambon) berganti nama menjadi Kediri United (Kediri), Sumut United (Medan) berubah menjadi Pesikad (Depok), NZR Sumbersari (Malang) menjadi Persikutim United (Kutai Timur), serta PSKC Cimahi (Cimahi) berganti baju menjadi Garudayaksa FC (Bekasi).
Jika menilik ke belakang, praktik jual beli klub sepak bola di Indonesia telah dilakukan oleh banyak tim yang memiliki sejarah panjang. Salah satu praktik jual beli yang sempat ramai dibahas penggemar sepak bola nasional adalah perpindahan Persijatim Solo FC ke Palembang pada 2004. Klub ini kemudian berganti nama menjadi Persijatim Sriwijaya FC sebelum akhirnya berubah nama menjadi Sriwijaya FC.
Persijatim Solo FC saat itu dibeli oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan pada 2004 dengan nilai Rp 6 miliar, salah satu jual beli dengan nilai tertinggi dalam sejarah sepak bola Tanah Air. Transaksi ini menandakan kepindahan klub Persijatim untuk kedua kalinya. Klub yang berdiri sejak tahun 1976 ini pernah bermarkas di Jakarta sebelum akhirnya pindah ke Solo sejak tahun 2001.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2018/02/12/35c791e4-ed6d-48f0-a245-6fc696aa3ffb_jpeg.jpg)
Jejak ini kemudian banyak diikuti oleh tim lain yang saat itu dituntut profesional dan mandiri secara keuangan tanpa mengandalkan APBD. Bali United, tim yang mencatatkan diri berhasil menjuarai Liga 1 pada tahun 2019 dan 2021/2022, merupakan salah satu tim yang terbentuk akibat akuisisi klub. Bali United sebelumnya merupakan tim Persisam Samarinda. Pada tahun 2015, tim ini beralih kepemilikan hingga menjadi klub yang kini dikenal sebagai Bali United.
Kondisi serupa dilakukan Madura United. Tim yang menempati peringkat kedua Liga 1 musim 2023/2024 ini sebelumnya dikenal sebagai Pelita Bandung Raya. Klub ini juga pernah bergabung dengan Persipasi Bekasi hingga menjadi Persipasi Bandung Raya. Namun, karena persoalan keuangan, klub ini akhirnya dijual pada 2016 dan berganti nama menjadi Madura United.
Klub yang sempat mencuri perhatian karena tiba-tiba muncul di kasta tertinggi Liga Indonesia adalah PS TNI dan Bhayangkara FC. PS TNI merupakan kelanjutan dari Persiram Raja Ampat yang diakuisisi pada tahun 2016.
Sementara Bhayangkara FC memiliki catatan sejarah yang berliku. Sebelumnya, tim ini bernama Persikubar Kutai Barat. Saat dualisme Liga Indonesia 2011-2012, Persikubar berganti nama menjadi Persebaya. Namun, karena persoalan penamaan klub, tim ini berganti nama menjadi Bonek FC pada tahun 2015, hingga akhirnya menjadi Bhayangkara Surabaya United pada tahun 2016. Kini, tim ini dikenal dengan nama Bhayangkara FC dan pernah meraih gelar juara Liga 1 pada tahun 2017.
Terakhir, klub papan atas yang juga merupakan hasil akuisisi adalah Malut United. Klub ini lebih dulu dikenal sebagai Putra Delta Sidoarjo dan kemudian berubah kepemilikan pada tahun 2023 menjadi Malut United. Pada musim 2024/2025, Malut United memberikan kejutan karena berhasil menduduki peringkat ketiga Liga 1 dengan status sebagai tim promosi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/03/f819dbac-e60a-423a-a1fa-e34a23e90d69_png.png)
Penyebab utama praktik jual beli lisensi klub di Indonesia adalah persoalan finansial. Sejak dilarang menggunakan APBD melalui Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2011, banyak klub yang mengalami persoalan keuangan. Minimnya dukungan sponsor di daerah menjadi salah satu faktor mendasar yang menyebabkan masalah keuangan. Akibatnya, sebagai jalan pintas menyelesaikan persoalan keuangan, jual beli klub menjadi solusi.
Terbaru, persoalan keuangan ini dialami oleh Persikas Subang. Klub yang begitu melekat dalam benak masyarakat dan telah menjadi identitas daerah Subang ini memiliki utang sebesar Rp 9 miliar. Guna melunasi utang tersebut, manajemen akhirnya terpaksa menjual klub ini hingga berganti nama menjadi Sumsel United. Tim ini akan berlaga di Liga 2 musim 2025/2026.
Persoalan keuangan juga dialami oleh tim-tim lainnya, salah satunya Perseru Serui. Tim yang pernah menjadi perwakilan Papua di kasta tertinggi sepak bola Indonesia ini pernah mengalami persoalan finansial sebelum akhirnya dijual dan berganti nama menjadi Badak Lampung FC pada tahun 2019.
Khususnya pada tim-tim di luar kota besar, hidup mandiri mengandalkan sponsor dan penjualan suvenir memang sulit dilakukan. Itulah sebabnya tim-tim ini akhirnya mengalami persoalan keuangan hingga menunggak utang hingga miliaran rupiah.
Di satu sisi, akuisisi atau jual beli klub ini memberikan dampak positif karena berhasil menyelamatkan tim-tim yang terancam tidak bisa berlaga pada kompetisi profesional. Beberapa klub hasil akuisisi pun tampak sukses setelah menerima suntikan dana dalam struktur kepemilikan baru, seperti Sriwijaya FC, Bhayangkara FC, Borneo FC, dan Malut United.
Di sisi lain, kondisi ini turut mengancam identitas sepak bola di Indonesia jika terus terjadi tanpa terkendali. Klub-klub baru yang memiliki modal besar dapat mencari kesempatan berlaga di Liga Indonesia tanpa harus melalui kompetisi bertingkat dari kasta bawah. Dampak lain ialah klub dapat kehilangan identitas sejarah dan basis dukungan seiring pergantian identitas klub.
Kondisi ini sudah dirasakan oleh beberapa klub, seperti Bhayangkara FC dan PS TNI, yang tidak memiliki basis dukungan. Klub sepak bola tanpa basis dukungan potensial berdampak pada kondisi finansial klub di masa yang akan datang mengingat pendukung sepak bola memiliki peran penting dalam mendapatkan sponsor dan pemasukan klub.
Praktik jual beli klub di Indonesia masih terjadi hingga tahun ini. Kondisi inilah yang memantik perhatian pencinta sepak bola Tanah Air mengingat satu demi satu klub yang memiliki sejarah panjang berganti kepemilikan, berganti nama, hingga berganti basis wilayah.
(Litbang, Kompas)
Baca selanjutnya: Lisensi Klub Sepak Bola, antara Profesionalisme dan Celah Bisnis
Penulis:
Andreas Yoga PrasetyoEditor:
Yohan WahyuInfografik:
Dicky IndratnoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar