Ajang dengan banyak kursi kosong bukan pertanda biasa, melainkan identik dengan petaka. Strategi janggal FIFA menyebabkan Piala Dunia Antarklub kurang diminati.
15 Jun 2025 15:30 WIB · Olahraga
Pemandangan ironis tersaji pada laga pembuka Piala Dunia Antarklub yang mempertemukan tuan rumah Inter Miami dengan wakil Afrika, Al Ahly. Tidak banyak penonton yang hadir pada laga yang dihelat di Stadion Hard Rock, Florida, Amerika Serikat, Minggu (15/6/2025) pagi WIB.
Pemandangan itu kontras dengan klaim FIFA yang mengatakan bahwa Piala Dunia Antarklub adalah turnamen di mana pemain hebat dari klub terbaik saling mengalahkan.
“Kami memperkenalkan banyak klub baru yang sukses dari seluruh dunia melalui turnamen yang diselenggarakan di 11 kota di seluruh Amerika Serikat ini. Secara keseluruhan, kami mengantisipasi kehadiran (penonton) yang besar di seluruh kompetisi untuk edisi perdana sebuah turnamen yang kami yakini akan berkembang dari edisi ke edisi,” tulis FIFA dalam pernyataan resmi sebelum pembukaan.
Jika menganut pemahaman FIFA, laga pembuka turnamen di mana pemain hebat dari klub terbaik saling beradu, seharusnya kursi-kursi di stadion sudah penuh terisi akibat antusiasme besar dari penggemar sepak bola. Dalam pengumuman resmi, disebutkan bahwa jumlah penonton mencapai 60.927 orang. Jumlah itu hampir memenuhi kapasitas Stadion Hard Rock yang mencapai 65.000 tempat duduk.
Akan tetapi, jumlah yang diumumkan panitia merujuk pada tiket yang terjual dan bukan kehadiran penonton. Dari siaran langsung terlihat beberapa bagian stadion tidak terisi penuh.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/15/420ca75351b1d13e83b4123215588594-wires_photo_2025_06_15T144944.452.jpg)
Acara pembukaan ajang sekelas Piala Dunia biasanya menyedot perhatian banyak orang. Tetapi situasi yang terjadi di Stadion Hard Rock berjalan kebalikannya. Padahal lokasi stadion di Florida merupakan basis para penggemar Inter Miami.
Indikasi Piala Dunia Antarklub akan kurang begitu diminati sudah terasa beberapa bulan sebelumnya. Dugaan semakin kuat setelah melihat langkah FIFA menurunkan harga tiket pertandingan. Pada Desember 2024, harga tiket termurah pertandingan dihargai 349 dollar AS.
Sebulan kemudian harga tiket diturunkan lagi menjadi 230 dollar AS. Beberapa hari jelang pembukaan, laporan The Athletic menyebutkan harga tiket termurah dipangkas menjadi 20 dollar AS untuk empat tiket, atau sekitar 4 dollar per tiketnya. FIFA menawarkan sejumlah sekolah dan kampus di Florida tiket murah tersebut dengan harapan stadion bisa terisi penuh.
Stadion yang tidak terisi penuh semestinya bukanlah masalah besar. Pada sejumlah ajang yang lebih besar, seperti Piala Dunia pun tidak menjamin selalu bisa menyedot banyak penonton. Akan ada ruang-ruang di dalam stadion yang tidak selalu terisi.
Konteksnya menjadi berbeda di Piala Dunia Antarklub. Bagi FIFA, kursi kosong tidak bisa diartikan sebagai hal biasa, tetapi justru sebuah petaka. Apalagi kursi kosong banyak terlihat pada acara pembukaan yang biasanya merupakan momen nomor dua paling ditunggu-tunggu penonton selain laga final.
Selain akan menuai banyak cemooh, pemandangan kursi kosong pada laga pembuka dikhawatirkan akan merusak narasi atau citra yang susah payah ingin dibentuk FIFA. Jauh-jauh hari sebelumnya, FIFA gencar mengampanyekan bahwa ajang sepak bola akan mencapai puncak popularitasnya di AS jelang Piala Dunia 2026. Piala Dunia Antarklub dipersiapkan sebagai gong awal kemeriahan itu.
Pemandangan kursi kosong tentu akan merusak citra yang hendak FIFA bangun. Kekhawatiran terbesar adalah hal itu dapat memengaruhi promosi FIFA kepada para calon sponsor jelang Piala Dunia tahun depan. Dengan kata lain, kursi kosong dapat menurunkan kepercayaan kepada FIFA yang mengklaim warga AS sedang dilanda demam sepak bola.
Ada beberapa penyebab mengapa Piala Dunia Antarklub kurang begitu diminati, selain karena faktor sepak bola memang kurang populer di AS. Penyebab paling mula atau dasar sudah muncul dari klaim FIFA sendiri.
Sejak awal, FIFA menyebut Piala Dunia Antarklub adalah turnamen di aman pemain hebat dari klub terbaik saling mengalahkan. Namun, klaim itu tidak sesuai melihat komposisi tim-tim peserta.
Dari 32 tim peserta tidak ada satu pun juara dari Liga Inggris, Liga Spanyol, dan Liga Italia musim ini yang merupakan tiga liga top Eropa. Napoli, Liverpool, dan Barcelona yang merupakan juara dari masing-masing tiga liga top Eropa tidak berpartisipasi karena syarat kualifikasi yang ditentukan FIFA.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/15/6c0d1c3964ddbf1fe54e256efa2e3aa7-wires_photo_35_.jpg)
Para wakil Eropa di Piala Dunia Antarklub adalah juara Liga Champions dalam empat edisi terakhir dan juga sembilan tim dengan nilai ranking UEFA tertinggi empat tahun terakhir.
Ketiadaan klub-klub juara bertahan dari tiga liga top Eropa turut mengurangi antusiasme penonton. Liga Inggris hanya diwakili Chelsea dan Manchester City. Adapun Liga Spanyol mengutus Real Madrid dan Atletico Madrid.
Ceritanya tentu berbeda bila Liverpool dan Barcelona turut andil di Piala Dunia Antarklub. Tanpa Liverpool, Napoli, dan Barca, klaim tim terbaik yang dilontarkan FIFA menjadi tidak terbukti sepenuhnya.
Di sisi lain, keberadaan Lionel Messi rupanya tidak begitu menjadi faktor penarik penonton. Warga AS tidak ingin menghamburkan uang untuk menonton Messi yang bisa mereka saksikan setiap waktu di Liga Sepak Bola Utama (Major League Soccer/MLS). Messi baru bisa menarik penonton lebih banyak di wilayah yang jarang ia singgahi seperti Asia.
Faktor jam pertandingan yang mayoritas berlangsung sore hari juga turut mengurangi minat warga AS menyaksikan Piala Dunia Antarklub. Turnamen ini tidak didesain setiap akhir pekan layaknya liga reguler, melainkan nyaris setiap hari seperti Piala Dunia.
Akibatnya, ada kemungkinan warga masih bekerja saat pertandingan berlangsung. Kondisi itu diperparah dengan fakta bahwa masih banyak warga AS yang kurang familiar dengan klub-klub selain Real Madrid.
Penyebab selanjutnya adalah pasar AS yang sudah jenuh. Selain Piala Dunia Antarklub, pada saat bersamaan di AS juga digelar turnamen Piala Emas Concacaf. Ajang Piala Emas diikuti timnas AS dan Meksiko yang turun dengan kekuatan penuh. Di samping itu, ada pula sejumlah klub liga top Eropa yang melakukan tur pramusim di AS, salah satunya Manchester United.
Melihat begitu banyaknya ajang sepak bola yang berlangsung pada satu waktu, bisa dipahami mengapa antusiasme publik AS terhadap Piala Dunia Antarklub tidak sebesar yang diharapkan.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase