Filosofi Nyepi diperlukan, bukan hanya menahan diri agar tidak terpancing emosi, melainkan untuk menggerakkan potensi besar terpendam yang tersimpan di dalam diri.
27 Mar 2025 17:00 WIB · Opini
Nyepi tahun 2025 ini mesti dimaknai dengan praksis yang sesungguhnya. Bukan sekadar pemahaman tentang makna empat pantangan, akan tetapi filosofinya sudah seharusnya juga dipraktikkan dalam kehidupan sosial.
Negara dan dunia saat ini sungguh tidak sedang baik-baik saja. Baik kondisi nasional maupun global, berpotensi besar memengaruhi kualitas dan gerak hidup masyarakat.
Di dalam negeri politik efisiensi yang diterapkan pemerintah sudah kentara berpengaruh pada dinamika sosial. Rapat kantor, misalnya, kini tidak dihiasi dengan sajian makanan ringan, apalagi makan siang. Secara sederhana, kegiatan produksi menjadi berkurang di berbagai kantor pemerintah, bahkan swasta, di seluruh Indonesia.
Pada fora internasional, ada perubahan signifikan dalam hubungan antarnegara yang sebelumnya sudah mapan sejak berakhirnya Perang Dunia II. Amerika Serikat dan Eropa hubungannya merenggang, dan China terus-menerus melawan dominasi dagang Amerika Serikat. Minyak dan pembatasan ekspor-impor bisa jadi menjadi bagian dari senjata antar negara itu untuk saling menjegal.
Bayangkan kalau dua kondisi nasional dan internasional itu "bertabrakan" di Indonesia. Rakyat pasti terjepit dengan kondisi krisis: harga tinggi, pengangguran meningkat, kekerasan meluas, dan stabilitas sosial dapat terganggu.
Pada sudut pandang inilah filosofi Nyepi itu diperlukan. Bukan sekadar untuk menahan diri agar tak terpancing emosi, tetapi justru untuk menggerakkan potensi besar terpendam yang tersimpan di dalam diri. Hanya dengan perenungan yang mendalam, potensi-potensi besar itu dapat keluar dan menghasilkan karya-karya baru bahkan monumental.
Perayaan Nyepi selalu diwarnai dengan wacana caturbrata penyepian, yaitu mati geni yang diartikan tidak boleh menyalakan api, mati karya (tidak boleh melaksanakan aktivitas kerja), mati lelungaan (tidak boleh bepergian), dan mati lelanguan (tidak boleh bersenang-senang).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/23/4643c533-e8c4-45f2-a11c-01f7a4f97af8_jpg.jpg)
Sesungguhnya, caturbrata penyepian adalah sebuah prinsip dan metode yang bisa dibaca secara sosial maupun filosofis.
Sebagai prinsip, dia adalah ketetapan hati untuk mencapai tujuan tertentu dalam perjalanan kehidupan sosial, dan sebagai metode ia merupakan sistematika demi mencapai tujuan-tujuan tersebut.
Dalam konteks sosial, masyarakat umumlah yang melaksanakan metode tersebut melalui praktik tidak bersenang-senang tidak melaksanakan kegiatan apapun, tidak bepergian, serta tidak menyalakan api (termasuk api marah di dalam diri). Ini adalah metode sederhana yang bisa dipraktikkan oleh sebagian besar anggota masyarakat.
Manusia bukanlah makhluk super yang mampu mengekang diri untuk merenungkan diri. Sebagian besar dari mereka harus dibantu oleh perintah nilai-nilai itu: tidak boleh menyalakan api, tidak boleh bepergian, tidak boleh bersenang-senang, dan tidak bekerja.
Kerja intelektual sesungguhnya hasil dari penyepian, dan berbagai produk baru dalam dunia industri juga demikian.
Maka, reaksi sosial yang muncul dari prinsip itu adalah diam, tetapi diam dalam kondisi dinamis. Artinya mau tidak mau dalam keadaan fisik diam tanpa kegiatan, justru pikiranlah yang akan bergerak dengan berbagai dinamika diri di masa lalu dan perencanaan di masa depan.
Dengan dukungan lingkungan yang sepi, akan muncul renungan dan bahkan sebuah ledakan dinamika yang justru muncul di dalam kondisi sepi. Ia bergerak menggeliat dari sebuah kesadaran yang kemudian ditopang oleh semangat.
Ledakan itulah yang kemudian mewujudkan berbagai hasil karya. Nyepi selanjutnya terlihat memberikan sebuah wahana dan cara pandang baru pada bidang apa saja.
Namun demikian, mereka yang memahami benar makna filosofis dari prinsip caturbrata itu dapat melakukan dengan cara yang lebih mudah. Tidak perlu melakukannya secara konkret, tetapi justru dapat melaksanakannya berkali-kali dalam sehari dengan hasil yang berlipat-lipat.
Para intelektual, salah satunya adalah mereka yang berpotensi mampu melakukan metode ini. Kerja di laboratorium penuh dengan hasil perenungan, jauh dari kebisingan diri, jauh dari gejolak api (marah diri), termasuk juga mereka yang bekerja di lapangan pada laboratorium sosial.
Sesaat peneliti perlu mengosongkan diri dan berpusat pada alur penelitian, untuk selanjutnya membuat pilihan langkah temuan baru. Disitulah tapa brata secara filosofis muncul.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/03/20/da9ad3fd-6b8c-4ff0-a231-72498c80359b_jpg.jpg)
Kerja intelektual sesungguhnya hasil dari penyepian, dan berbagai produk baru dalam dunia industri juga demikian.
Dan melalui perenungan dan pembelajaran yang terus-menerus, para pendeta Hindu Bali yang benar-benar mengabdikan dirinya untuk dharma (bukan yang ikut berbisnis banten!), akan mampu menyelami sebuah kesadaran baru, misalnya temuan penyederhanaan ritual agar masyarakat mampu berkompetisi secara maksimal.
Jika dilaksanakan secara disiplin dan maksimal, kedua pihak (masyarakat umum dan intelektual serta pendeta itu) akan mampu menghasilkan produk yang hebat.
Pada bidang industri, akan menghasilkan produk baru. Pada bidang sosial, dapat menghasilkan tertib sosial. Pada bidang ilmu, bisa menemukan karya monumental. Pada bidang agama, dapat memberikan penyederhanaan ritual. Dalam konteks pemerintahan, adalah kemajuan negara yang mampu bersaing secara internasional. Demikian pula seterusnya dengan hasil lainnya. Pendek kata, semua pemikiran baru yang menopang dan menghargai kehidupan manusia.
Konsepsi dasar dari prinsip caturbrata penyepian, dengan begitu juga dapat diperluas menjadi mengkaji serta meninjau ulang semua langkah dan keputusan di masa lalu, dan pada akhirnya menghormati kehidupan.
Dengan demikian, sebuah kebijakan apapun baik, di bidang politik, ekonomi, sosial, agama, budaya maupun yang lainnya, dapatlah diubah, diperbarui lagi, demi menghargai kehidupan sosial. Tidak ada yang keliru ketika, misalnya, harus memperbaiki kebijakan politik yang dipandang lebih banyak menghambat dinamika masyarakat.
Ngembak Geni, yaitu perayaan sosial sehari setelah Hari Raya Nyepi, merupakan awal perjalanan praksis perenungan tersebut. Adalah benar jika Ngembak Geni dirayakan sebagai sebuah kemenangan dan keoptimisan karena telah menemukan prinsip baru dalam menjalani kehidupan baru.
Dimulai dengan saling kunjung antar kerabat. Interaksi sosial saat saling kunjung ini justru sangat bermanfaat. Salah satu manfaat interaksi sosial adalah menambah wawasan. Maka, dalam hubungan sosial itulah akan didapat tambahan wawasan untuk meruncingkan konsep perencanaan yang sudah ditetapkan secara mandiri saat Nyepi.
Pada konteks itu, demi menambah wawasan dan meruncingkan perencanaan untuk menaklukkan perjalanan tahun di depan, semua komponen sosial justru harus dipandang sebagai sumber daya yang akan memperkaya khazanah berpikir manusia.
Bukan hanya saat Ngembak Geni saja kita harus saling sapa dengan kerabat, tetapi setiap hari setiap saat kita bisa berdiskusi, bertukar pikiran dengan siapa saja, dengan kelompok mana saja, dengan lembaga mana saja, untuk mepertajam dan memperdalam pengetahuan kita demi cita-cita ke depan.
Semua adalah saudara dan semua adalah sumber daya. Nyepi dengan demikian juga mengantar manusia kepada persaudaraan, mencegah konflik sosial dan memperteguh persatuan.
Itulah yang dipakai untuk menghadapi kesulitan domestik dan internasional yang berpotensi memperlambat gerak masyarakat Indonesia di masa depan.
Selamat merayakan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1947.
GPB Suka Arjawa, Guru Besar Sosiologi Agama FISIP Universitas Udayana
Penulis:
GPB Suka ArjawaEditor:
Sri Hartati Samhadi, Johanes Waskita Utama