Keberhasilan City lolos ke final Piala Liga Inggris menciptakan skenario persaingan paling ideal dengan Arsenal. Kedua tim bisa terus bersaing dalam empat kompetisi.
05 Feb 2026 14:48 WIB · Olahraga
JOHANES WASKITA UTAMA
Fakta menarik tercipta seiring kesuksesan Manchester City melaju ke final Piala Liga Inggris. Kompetisi ini membuka kemungkinan rivalitas paralel antara Pep Guardiola (City) dan Arteta (Arsenal). Selain Piala Liga, kedua tim tersebut juga berpotensi bertemu di Piala FA dan Liga Champions Eropa.
Adapun di Liga Inggris, Arsenal dan City juga masih menempati dua peringkat teratas klasemen sementara. Arsenal saat ini unggul enam poin atas City di peringkat kedua. Persaingan kedua tim itu di puncak klasemen Liga Inggris diyakini masih akan terus berlanjut hingga pekan terakhir liga.
Final Piala Liga Inggris akan mengawali potensi persaingan panjang kedua tim itu pada musim ini. City melaju ke final seusai menyingkirkan Newcastle United, juara bertahan, dengan keunggulan agregat 5-1, Kamis (5/2/2026), di Stadion Etihad, Manchester. Arsenal lebih dulu lolos dengan mengalahkan Chelsea, 4-2, secara agregat dalam semifinal yang berlangsung lewat dua kali pertemuan.
Laga final akan berlangsung di Stadion Wembley, London, pada Minggu (22/3/2026) malam. Sejak menangani Arsenal pada 2019, Manajer Arsenal Mikel Arteta sudah 15 kali bertemu Pep Guardiola yang merupakan mentornya saat masih menjadi asisten manajer di City.
Di Piala Liga, Arteta dan Pep sempat satu kali bertemu pada perempat final 2020. Kala itu, Arteta—yang sedang membangun fondasi Arsenal di awal era kepelatihannya—takluk dengan skor cukup telak, 1-4.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/23/981ed19f-3584-4b52-8b76-8f1df82ddc31.jpg)
”Ini akan menjadi pengalaman yang baik bagi kami. Semoga kami bisa tiba di bulan Maret dengan semua pemain dalam kondisi bugar dan siap sehingga kami bisa memainkan pertandingan yang bagus melawan mereka (Arsenal),” kata Pep seusai laga kontra Newcastle.
Dari sekian banyak mantan pemain yang menjadi muridnya, seperti Xavi Hernandes dan Vincent Kompany, Arteta tergolong yang paling sering berhadapan sekaligus bisa menandingi Pep. Rekor kemenangan Arteta atas Pep memang baru empat kali dari 15 pertemuan.
Jika mampu mempertahankan performa saat ini, titik kulminasi antara Arsenal dan City akan terwujud di final Liga Champions.
Dengan demikian, Arteta sudah tentu sangat ingin mengalahkan gurunya tersebut pada final di panggung megah Wembley. Selain untuk memperbaiki rekor pribadinya setiap kali bertemu Pep, Arteta juga berhasrat mempersembahkan gelar turnamen besar pertama bagi Arsenal semenjak menjuarai Piala FA pada 2020.
”Kami sangat ingin datang ke Wembley. Saya pikir, secara keseluruhan dalam dua kali pertandingan (semifinal kontra Chelsea), tim kami luar biasa. Kami pantas berada di posisi ini dan akan melawan tim yang sangat kompetitif dan sangat sulit,” kata Arteta mengemukakan pandangannya mengenai laga final bulan depan.
Di Piala FA, City dan Arsenal juga punya kemungkinan bertemu di final. Namun, bagan sistem gugur Piala FA belum bisa diketahui lantaran kompetisi masih memasuki putaran keempat. Arsenal akan menjamu Wigan pada putaran keempat, sedangkan City menjamu Salford.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/14/e78c2f3c3e507d7cccebda96cd540508-20251114_ARS_Juara_Liga_Inggris_mumed.png)
Jika mampu mempertahankan performa saat ini, titik kulminasi antara Arsenal dan City akan terwujud di final Liga Champions. Hal itu disebabkan City dan Arsenal berada pada bagan yang berseberangan menurut hasil pengundian fase gugur. Artinya, Arsenal dan City punya kemungkinan mengulangi final Piala Liga di ajang yang berbeda, yaitu final Liga Champions.
Rivalitas paralel dengan Arteta bukanlah satu-satunya pengalaman Pep menghadapi satu pelatih dalam berbagai turnamen pada satu musim. Saat masih menangani Barcelona pada 2011, Pep juga pernah terlibat rivalitas paralel dengan Jose Mourinho.
Kala itu, dalam satu musim, Pep empat kali melawan Mourinho dalam tiga turnamen berbeda, yaitu Liga Spanyol, Piala Raja Spanyol, dan Liga Champions (dua leg).
Pep kalah dalam final Piala Raja Spanyol berkat gol kemenangan Cristiano Ronaldo di babak perpanjangan waktu. Namun, ia membalas dengan memenangi persaingan di Liga Spanyol dan Liga Champions.
Di Liga Champions, Pep mengalahkan Mourinho dalam semifinal yang berlangsung dalam dua laga. Barca melaju ke final dan mengalahkan Manchester United. Dipenuhi dengan ketegangan serta pertikaian, pertandingan-pertandingan itulah yang mengukuhkan Pep melawan Mourinho sebagai salah satu rivalitas manajerial terbesar di Eropa.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/02/01/c69328db-d2b2-4ed7-9082-d6ea9ef448f6.jpg)
Rivalitas Pep dengan mantan anak didiknya, Arteta, jelas tidak akan sesengit dan penuh drama dibandingkan saat berhadapan dengan Mourinho. Namun, pertemuan pada final Piala Liga nanti tetap akan berlangsung seru mengingat musim ini santer disebut-sebut sebagai musim terakhir Pep di City.
Dengan situasi seperti itu, Pep jelas ingin merengkuh gelar Piala Liga kelimanya. Ia tampak sangat bergairah saat City memastikan tiket final, seolah-olah Piala Liga merupakan trofi yang belum pernah diraihnya.
Di sisi sebaliknya, Arteta butuh gelar Piala Liga sebagai validasi terhadap awal era keemasannya di Arsenal. Sudah enam musim berlalu semenjak Arteta terakhir kali mempersembahkan trofi besar terakhir.
Pep adalah simbol omega, analogi yang kerap dipergunakan untuk seseorang yang akan mengakhiri kiprahnya. Sementara Arteta mewakili semangat alpha atau awal era baru seseorang. Final Piala Liga mendapat kehormatan mempertemukan awal rivalitas paralel guru dan murid tersebut. (REUTERS)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase