BI mempertahankan suku bunga acuannya sebesar 4,75 persen. Tingkat suku bunga ini dipertahankan sejak September 2025 lalu.
19 Feb 2026 15:37 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
JAKARTA, KOMPAS — Bank Indonesia memutuskan untuk kembali mempertahankan suku bunga acuannya di level 4,75 persen. Keputusan ini mempertimbangkan aspek stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.
Kebijakan tersebut diambil berdasarkan hasil asesmen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 18-19 Februari 2026. Selain itu, keputusan RDG juga tetap mempertahankan suku bunga deposit facility sebesar 3,75 persen dan lending facility sebesar 5,5 persen.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan, keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan saat ini pada upaya penguatan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tetap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global guna mendukung pencapaian sasaran inflasi 2026-2027 dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
”Kebijakan moneter Bank Indonesia terus diperkuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dengan tetap menjaga stabilitas perekonomian,” katanya dalam konferensi pers hasil RDG BI Februari 2026, Kamis (19/2/2026), secara daring.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/19/93a4d01c4680971962f8f58643f5ab43-Screenshot_2026_02_19_150917.png)
Dalam RDG Januari 2026 sebelumnya, BI mempertahankan suku bunga acuannya di level 4,75 persen, terendah sejak 2022. Kebijakan tersebut ditempuh setelah BI memangkas suku bunga 150 basis point (bps) sejak September 2024 hingga 2025.
Perry menilai, rupiah berada di bawah nilai wajar (undervalued), yang merujuk pada indikator fundamental ekonomi Indonesia dengan tingkat inflasi masih dalam sasaran. Maka dari itu, BI terus meningkatkan intensitas stabilisasi nilai tukar.
Upaya ini ditempuh dengan intervensi baik di pasar spot, transaksi forward di pasar valuta asing, baik luar negeri (NDF) maupun dalam negeri (DNDF). Selain itu, BI juga membeli surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder.
Kami masih konsisten, kami masih memandang ruang penurunan suku bunga masih terbuka dengan inflasi yang rendah dan pertumbuhan ekonomi yang perlu didorong.
Mengutip data Bloomberg, nilai tukar rupiah di perdagangan spot telah menembus Rp 16.911 per dolar AS. Dengan demikian, rupiah melemah 0,16 persen dibandingkan pada penutupan sebelumnya yang mencapai Rp 16.884 per dolar AS.
Ke depan, BI meyakini rupiah akan stabil dan cenderung menguat seiring langkah-langkah stabilisasi. Selain itu, prospek rupiah juga didukung oleh fundamental ekonomi Indonesia. Hal ini tecermin dari imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, dan prospek pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat.
”Kami masih konsisten, kami masih memandang ruang penurunan suku bunga masih terbuka dengan inflasi yang rendah dan pertumbuhan ekonomi yang perlu didorong,” ujar Perry.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/12/2cbb81f1-3507-40a8-b389-9003a4317bb6.jpg)
Ia menambahkan, BI akan terus memperkuat kebijakan moneter dan kebijakan makroprudensial sembari mencermati ruang penurunan suku bunga. Hal ini sejalan dengan terkendalinya inflasi dalam sasaran 1,5-3,5 persen serta upaya mendorong pertumbuhan pertumbuhan ekonomi lebih tinggi.
Sementara itu, ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Teuku Riefky, mengatakan, BI sebaiknya tetap menahan suku bunga acuannya. Sebaliknya, pemotongan atau bahkan kenaikan suku bunga justru dapat berdampak negatif bagi perekonomian.
”Pemotongan suku bunga berpotensi memperparah arus modal keluar dan kenaikan suku bunga acuan akan berdampak negatif terhadap permintaan, sedangkan berbagai daerah di Indonesia masih dalam tahap pemulihan pasca bencana,” katanya.
Keputusan untuk tetap menahan suku bunga acuan tersebut mempertimbangkan tekanan yang sedang dialami Indonesia. Dari sisi sektor keuangan, risiko kelayakan investasi dan kekhawatiran minat investor di pasar modal Indonesia akan membawa rupiah berada pada posisi yang rentan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/28/b5da8bc1e2d7717164052cecc6c05cdf-20260128_H01_NNN_Indeks_Saham_mumed.png)
Ia mencatat, selama sebulan terakhir, Indonesia secara kumulatif mencatatkan arus modal asing keluar sebesar 1,06 miliar dolar AS. Hengkangnya modal asing tersebut seiring dengan pengumuman MSCI dan perubahan penilaian kondisi Indonesia oleh Moody’s Ratings.
Di sisi lain, laju inflasi pada Januari 2026 melonjak hingga 3,55 persen secara tahunan atau melampaui batas atas target BI. Tekanan ini berisiko berlanjut seiring dengan bencana alam di sejumlah daerah yang dapat mengganggu proses produksi dan pasokan barang.
Bank Indonesia perlu terus membuktikan independensinya, seiring independensi tersebut belakangan ini dipertanyakan, menyusul penunjukan keponakan Presiden sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia yang baru.
Riefky menambahkan, Indonesia juga tengah memasuki periode Ramadhan dan Idul Fitri yang umumnya akan memicu kenaikan permintaan bahan pangan serta transportasi. Dengan kata lain, kondisi tersebut memperpanjang tekanan inflasi pada bulan mendatang.
”Bank Indonesia perlu terus membuktikan independensinya, seiring independensi tersebut belakangan ini dipertanyakan, menyusul penunjukan keponakan Presiden sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia yang baru,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/21/fbfc041d335ea38e021d33a19a79465c-WhatsApp_Image_2026_01_21_at_15.43.06.jpeg)
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
Muhammad Fajar MartaPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti