Foreman yang Pernah Kagumi Sasana Tinju Profesional Indonesia

Kekaguman Foreman diungkapkan saat ia berkunjung ke Sasana Arseto di Jakarta. Kunjungan ke Indonesia dilakukan pada 1995.

22 Mar 2025 13:03 WIB · Foto

Oleh Demitrius Wisnu Widiantoro

 

George Foreman, mantan petinju kelas berat dan meraih gelar juara dunia saat berusia 45 tahun, meninggal pada Jumat (21/3/2025) malam. Foreman meninggal di usia 76 tahun. Informasi ini diumumkan lewat media sosial tanpa menyebutkan penyebab dan di mana Foreman meninggal.

Dalam unggahan di media sosial, keluarga menulis, ”Seorang pendeta yang taat, suami yang berbakti, ayah yang penyayang, dan kakek buyut yang bangga, ia menjalani kehidupan yang ditandai oleh iman, kerendahan hati, dan tujuan yang tak tergoyahkan.”

”Seorang yang humanis, atlet Olimpiade, dan juara kelas berat dunia dua kali, ia sangat dihormati. Seorang yang kuat untuk kebaikan, pria yang disiplin, memiliki keyakinan, dan pelindung warisannya, berjuang tanpa lelah untuk menjaga nama baiknya—demi keluarganya.”

George Foreman tertawa di balik pelindung kepalanya di N'Sele, Zaire, setelah ia berlatih, 15 Oktober 1974.
Petinju kelas berat AS, George Foreman (kiri), saat sesi latihan menjelang pertandingan melawan Joe Frazier pada Januari 1973.
Juara kelas berat George Foreman menanggapi sorak-sorai penonton di stadion di Kinshasa, Zaire, Sabtu (26/10/1974), saat penimbangan untuk mempertahankan gelarnya melawan Muhammad Ali.
George Foreman (tengah) melambaikan tangan pada acara tahunan ke-23 World Boxing Hall of Fame "Banquet of Champions" pada 19 Oktober 2002 di Crowne Plaza Commerce Casino Hotel di Commerce, California, AS.
Juara kelas berat World Boxing Union (WBU) dari AS, George Foreman, memamerkan otot-ototnya dalam konferensi pers di sebuah hotel di Tokyo,  Jepang, 27 Oktober 1996.

Foreman memulai karier tinjunya sebagai peraih medali emas Olimpiade. Ia menjadi petinju yang ditakuti saat mencapai puncak divisi kelas berat dengan menghentikan Joe Frazier pada 1973. Setahun kemudian Foreman kehilangan gelar juara setelah dikalahkan Muhammad Ali dalam pertarungan delapan ronde.

Formen sempat meninggalkan dunia tinju beberapa tahun kemudian. Setelah absen 10 tahun, ia  kembali dan mengalami kebangkitan religius yang ia gambarkan sendiri. Pada 1994, saat berusia 45 tahun, Foreman membuat kejutan dengan merebut dua sabuk juara kelas berat WBA dan IBF dari tangan Michael Moorer. Kemenangan itu menjadi yang paling spektakuler mengingat usia lawannya lebih muda 19 tahun.

Wasit Joe Cortez (kanan) mengangkat tangan George Foreman sebagai tanda kemenangan setelah Foreman menjatuhkan Michael Moorer pada ronde ke-10 dari pertarungan gelar kelas berat IBF/WBA yang dijadwalkan 12 ronde pada 5 November 1994 di Las Vegas, Nevada.

Pada tahun 1995, Foreman yang sudah tidak memegang sabuk juara dunia tinju berkunjung ke Indonesia. Dalam kesempatan saat itu, Foreman berkunjung ke kantor redaksi majalah olahraga, kunjungan ke sasana tinju profesional Arseto, serta acara lain. Kunjungan ke Bola dilakukan saat digelar pertandingan antara Mike Tyson melawan Peter McNeeley. Foreman ogah menonton tayangan langsung pertandingan tersebut sebab, menurut dia, pertandingan yang digelar promotor Don King itu hanya dimaksudkan untuk memulihkan kepercayaan diri Tyson.

Saat pertandingan itu ia malah memilih meninggalkan ruangan untuk menyantap ayam goreng dan spageti yang dihidangkan. Ia juga melakukan rangkaian acara yang telah dipersiapkan untuk dirinya, berkeliling meninjau ruang redaksi, serta tarik tambang melawan wartawati dan karyawati tabloid Bola.

Sementara saat berkunjung ke Sasana Arseto, Jakarta, Senin (21/8/1995), Foreman merasa kagum melihat perkembangan sasana tinju profesional di Indonesia saat itu. Arseto dinilai sudah memiliki sarana pendukung yang lengkap, baik untuk berlatih tinju maupun peralatan pendukung latihan fisik (peralatan fisik). Foreman juga memberikan pengarahan fisik dan teknik kepada petinju di sasana tesebut. ”Saya melihat para petinju di sini cukup memiliki bakat, hanya tinggal berlatih lebih giat dan serius lagi guna dapat menjadi yang terbaik di dunia,” ujar Foreman.

 Juara tinju dunia kelas berat George Foreman (46) di tabloid mingguan "Bola" hari Minggu (20/8/1995). Ia disambut meriah oleh wartawan dan karyawan "Bola" serta masyarakat pencintanya di Palmerah Selatan.
 Petinju kelas berat dunia tertua, George Foreman (46),  saat berkunjungan ke Sasana Arseto, Jakarta, Senin (21/8/1995).
 Kunjungan George Foreman (46) ke Sasana Arseto. Ia didampingi pengelola sasana Arseto, Tourino Tidar (kanan), yang juga Ketua Gabungan Promotor Tinju Indonesia (Gaprotin).
 George Foreman (46) di Sasana Arseto.
Kehadiran juara tinju dunia kelas berat George Foreman (46) hari Minggu (20/8/1995) pagi di tabloid mingguan "Bola" selama kurang lebih satu jam mendapat sambutan meriah dari wartawan dan karyawan "Bola" serta masyarakat pencintanya di Palmerah Selatan.

Pada Jumat (21/3/2025), keluarga mengumumkan George Foreman tutup usia. Dia telah mengakhiri pertandingan di dunia ini dengan gemilang. Selamat jalan, George….


Kerabat Kerja

Penulis:

Demitrius Wisnu Widiantoro
 | 

Editor:

Heru Sri Kumoro