Kekaguman Foreman diungkapkan saat ia berkunjung ke Sasana Arseto di Jakarta. Kunjungan ke Indonesia dilakukan pada 1995.
22 Mar 2025 13:03 WIB · Foto
George Foreman, mantan petinju kelas berat dan meraih gelar juara dunia saat berusia 45 tahun, meninggal pada Jumat (21/3/2025) malam. Foreman meninggal di usia 76 tahun. Informasi ini diumumkan lewat media sosial tanpa menyebutkan penyebab dan di mana Foreman meninggal.
Dalam unggahan di media sosial, keluarga menulis, ”Seorang pendeta yang taat, suami yang berbakti, ayah yang penyayang, dan kakek buyut yang bangga, ia menjalani kehidupan yang ditandai oleh iman, kerendahan hati, dan tujuan yang tak tergoyahkan.”
”Seorang yang humanis, atlet Olimpiade, dan juara kelas berat dunia dua kali, ia sangat dihormati. Seorang yang kuat untuk kebaikan, pria yang disiplin, memiliki keyakinan, dan pelindung warisannya, berjuang tanpa lelah untuk menjaga nama baiknya—demi keluarganya.”
Foreman memulai karier tinjunya sebagai peraih medali emas Olimpiade. Ia menjadi petinju yang ditakuti saat mencapai puncak divisi kelas berat dengan menghentikan Joe Frazier pada 1973. Setahun kemudian Foreman kehilangan gelar juara setelah dikalahkan Muhammad Ali dalam pertarungan delapan ronde.
Formen sempat meninggalkan dunia tinju beberapa tahun kemudian. Setelah absen 10 tahun, ia kembali dan mengalami kebangkitan religius yang ia gambarkan sendiri. Pada 1994, saat berusia 45 tahun, Foreman membuat kejutan dengan merebut dua sabuk juara kelas berat WBA dan IBF dari tangan Michael Moorer. Kemenangan itu menjadi yang paling spektakuler mengingat usia lawannya lebih muda 19 tahun.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/22/3440d0391bb8e6809b636fd3d99080be-000_37H939G.jpg)
Pada tahun 1995, Foreman yang sudah tidak memegang sabuk juara dunia tinju berkunjung ke Indonesia. Dalam kesempatan saat itu, Foreman berkunjung ke kantor redaksi majalah olahraga, kunjungan ke sasana tinju profesional Arseto, serta acara lain. Kunjungan ke Bola dilakukan saat digelar pertandingan antara Mike Tyson melawan Peter McNeeley. Foreman ogah menonton tayangan langsung pertandingan tersebut sebab, menurut dia, pertandingan yang digelar promotor Don King itu hanya dimaksudkan untuk memulihkan kepercayaan diri Tyson.
Saat pertandingan itu ia malah memilih meninggalkan ruangan untuk menyantap ayam goreng dan spageti yang dihidangkan. Ia juga melakukan rangkaian acara yang telah dipersiapkan untuk dirinya, berkeliling meninjau ruang redaksi, serta tarik tambang melawan wartawati dan karyawati tabloid Bola.
Sementara saat berkunjung ke Sasana Arseto, Jakarta, Senin (21/8/1995), Foreman merasa kagum melihat perkembangan sasana tinju profesional di Indonesia saat itu. Arseto dinilai sudah memiliki sarana pendukung yang lengkap, baik untuk berlatih tinju maupun peralatan pendukung latihan fisik (peralatan fisik). Foreman juga memberikan pengarahan fisik dan teknik kepada petinju di sasana tesebut. ”Saya melihat para petinju di sini cukup memiliki bakat, hanya tinggal berlatih lebih giat dan serius lagi guna dapat menjadi yang terbaik di dunia,” ujar Foreman.
Pada Jumat (21/3/2025), keluarga mengumumkan George Foreman tutup usia. Dia telah mengakhiri pertandingan di dunia ini dengan gemilang. Selamat jalan, George….
Penulis:
Demitrius Wisnu WidiantoroEditor:
Heru Sri Kumoro