Demi medali pertama Olimpiade dalam 36 tahun, panahan Indonesia mencoba formula yang pernah dipakai Tiga Srikandi.
31 Mar 2024 04:59 WIB · Olahraga
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/30/2f7c0b50-627d-468c-9b1c-6cc1b79f1124_jpg.jpg)
Tidak ada sawah-sawah yang terbentang. Yang ada ialah kolam ikan, pohon-pohon rindang, dan lingkungan ”tereksklusi”. Inilah pemusatan latihan nasional panahan Indonesia menuju Olimpiade Paris 2024 di D’khayangan Archery Center, kawasan Jababeka, Bekasi, Jawa Barat.
Pemandangan sawah-sawah itu masih teringat jelas di benak Lilies Handayani (58). Bagaimana tidak, pemandangan tersebut menemani Lilies menjalani pemusatan latihan di Sukabumi selama delapan bulan lamanya. Di sana, Lilies bersama Nurfitriyana Saiman dan Kusuma Wardhani ditempa oleh pelatih Donald Pandiangan.
Hasil tempaan itu berbuah manis, yakni medali perak nomor recurve beregu putri di Olimpiade Seoul 1988. Medali yang diraih Tiga Srikandi, julukan Lilies, Nurfitriyana, dan Kusuma, itu merupakan medali pertama Indonesia di kancah Olimpiade sejak pertama kali berpartisipasi di Helsinki, Finlandia, 1952.
Kurang lebih prinsipnya sama seperti dulu, kami mencari tempat yang membuat atlet fokus untuk berlatih.
Baca juga: ”Ppalli Ppalli”, Tim Panahan Indonesia
Kini, 36 tahun berlalu, Lilies menatap pemandangan berbeda. Pemandangan kolam ikan dan pohon-pohon rindang menemani Lilies membimbing para penerusnya yang tengah menjalani persiapan menuju Olimpiade Paris 2024, Jumat (29/3/2024).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/30/cc2fe26e-6abc-4b34-8aaa-91937e36a685_jpg.jpg)
”Kurang lebih prinsipnya sama seperti dulu, kami mencari tempat yang membuat atlet fokus untuk berlatih. Mereka tidak akan terganggu hal-hal lain di luar latihan sehingga bisa ditempa maksimal,” ucap Lilies.
Pemindahan pelatnas ke Bekasi, Jawa Barat, dilakukan sejak Juni 2023. Awalnya, para atlet ini berlatih di kawasan Gelora Bung Karno. Untuk menuju tempat latihan dari hotel mereka menginap, para atlet harus menempuh waktu 30 menit hingga dua jam, tergantung kondisi jalanan. Latihan pun sering kali tidak maksimal karena berbenturan dengan jadwal perawatan lapangan.
Wakil Ketua Umum II Bidang Pembinaan dan Prestasi Pengurus Besar Persatuan Panahan Indonesia (PB Perpani) Abdul Razak mengatakan, alasan-alasan itu yang mendasari pihaknya memindahkan pelatnas. Tujuannya agar mes dan lapangan berdekatan, serta fokus para atlet tidak terganggu. Selain itu, angin di kawasan tersebut lebih kencang sehingga lebih menantang bagi atlet.
Baca juga: Ikhtiar Panahan Akhiri Paceklik Medali Tiga Dekade
”Dulu masih banyak distraksi, atlet bisa leluasa bepergian karena dekat mal atau tempat-tempat main lain. Di sisi lain, latihan tidak bisa optimal karena ada gangguan di tempat latihan. Belum lagi jalanan selalu macet, waktu terkuras, istirahat juga terganggu,” tutur Abdul Razak.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/30/dd354f33-aa54-483f-a860-3edadd2aadab_jpg.jpg)
Pemindahan itu awalnya sempat menimbulkan tanda tanya di antara para atlet. Menurut Razak, atlet panahan yang berjumlah delapan orang ini keberatan karena merasa diasingkan ke tempat yang jauh. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka mulai berdamai dengan keadaan.
Hal itu diamini pemanah senior Indonesia, Riau Ega Agata Salsabilla (32), yang tengah berjuang untuk lolos Olimpiade ketiga kalinya. Untuk mengatasi rasa bosan, Ega biasanya menjalani hobi mengurus mobil antik miliknya. Saat waktu latihan tidak padat, Ega dan kawan-kawan juga kerap mencoba bermain mini golf di kawasan D’khayangan Archery Center.
Atlet yang mewakili Indonesia di Olimpiade Rio de Janeiro 2016 dan Olimpiade Tokyo 2020 ini pun bisa fokus berlatih. Dia mengirit banyak tenaga kendati latihan kerap berlangsung hingga malam. Apalagi, jarak antara tempat menginap dan tempat latihan bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih lima menit.
Upaya panahan menduplikasi kisah sukses Tiga Srikandi tak hanya dengan menempatkan para atletnya di ”pengasingan”. Panahan juga merombak tim kepelatihan, termasuk melibatkan Lilies sebagai pelatih kepala dan mendatangkan pelatih dari Korea Selatan, Lee Kyung-chul.
Lilies berkaca pada pengalamannya dilatih Donald Pandiangan, pemanah putra legendaris yang dijuluki ”Robin Hood” Indonesia. Menurut Lilies, Pandiangan merupakan sosok pelatih yang keras dan disiplin. Tak jarang Lilies bersama anggota Tiga Srikandi lain kesal karena metode latihan yang diterapkan Pandiangan.
Baca juga: Lolosnya Arif ke Olimpiade Tumbuhkan Optimisme Panahan
Namun, kata Lilies, tempaan fisik dan mental Pandiangan itulah yang membuat Tiga Srikandi kuat dan lebih kompak. Mereka bahkan mengungguli Korea Selatan, tim ruan rumah Olimpiade Seoul 1988 yang dikenal sebagai raja dan ratu panahan dunia, pada nomor 30 meter babak final.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/30/a77fdf69-c518-4402-8d12-55486c5b6501_jpg.jpg)
”Pelatih Lee mungkin tak sekeras Bang Pandi (Pandiangan), tetapi dia juga tegas dan disiplin. Mudah-mudahan, semua langkah ini turut membantu kita meraih medali lagi,” tutur Lilies.
Sejak medali perak yang diraih Tiga Srikandi, panahan Indonesia mengalami paceklik prestasi di Olimpiade. Padahal, panahan tak pernah absen mengirim wakilnya pada setiap edisi Olimpiade. Di Paris pun, panahan sudah menempatkan Arif Dwi Pangestu dan Diananda Choirunisa.
Kini, formula yang sama yang mengantar Tiga Srikandi ke podium diharapkan dapat menjadi salah satu cara menambah wakil Indonesia di Paris sekaligus mengakhiri paceklik prestasi panahan.
Penulis:
REBIYYAH SALASAH, KELVIN HIANUSA, I GUSTI AGUNG BAGUS ANGGA PUTRAEditor:
WISNU AJI DEWABRATA