Foto Potret Mahmoud Ajjour Raih ”Photo of the Year” World Press Photo 2025

Perang selalu berdampak kepada banyak generasi. Banyak anak yang menjadi korban dan hidup dalam berbagai keterbatasan. Mahmoud Ajjour (9) salah satunya.

17 Apr 2025 16:01 WIB · Foto

Oleh Demitrius Wisnu Widiantoro

Foto potret Mahmoud Ajjour (9), anak laki-laki asal Palestina, dipilih oleh juri sebagai Foto Tahun Ini (Photo of The Year) dalam ajang bergengsi World Press Photo (WPP) 2025. Pengumuman ini dilakukan di  Amsterdam, Belanda, pada Kamis (17/4/2025) siang waktu setempat.

Potret Mahmoud Ajjour (9) karya fotografer Samar Abu Elouf untuk The New York Times yang memenangi Photo of the Year dalam World Press Photo 2025.

Foto karya fotografer perempuan Palestina yang berbasis di Doha, Qatar, Samar Abu Elouf ini diambil di kompleks apartemen yang menjadi tempat tinggal Mahmoud di Doha, Qatar. Foto ini diabadikan untuk The New York Times.

Potret sederhana ini mengalahkan dua finalis lainnya yang juga diumumkan pada kesempatan yang sama. Dua foto finalis lainnya adalah foto berjudul ”Night Crossing” karya fotografer Amerika Serikat yang bekerja untuk Getty Images, John Moore. Dan foto berjudul ”Droughts in the Amazon” karya Musuk Nolte dari Panos Pictures.

”Night Crossing” karya fotografer Getty Images, John Moore yang menjadi salah satu finalis Photo of the Year World Press Photo 2025.
”Droughts in the Amazon” karya fotografer Panos Pictures, Bertha Foundation, Musuk Nolte yang menjadi salah satu finalis Photo of the Year World Press Photo 2025.

Dalam keterangannya, Direktur Eksekutif World Press Photo, Joumana El Zein Khoury, walaupun tampak sederhana, foto karya Samar Abu Elouf  ini menampilkan cerita yaang sangat dalam. Selain menceritakan kisah hidup Mahmoud, foto ini mampu menceritakan dampak perang yang harus ditanggung bagi banyak generasi. ”Ini adalah foto yang tenang, tetapi berbicara lantang,” tegasnya.

Joumana menambahkan bahwa dalam 70 tahun ini WPP sudah dihadapkan dengan banyaknya foto yang menceritakan dampak perang dan konflik. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada fotografer yang terus merekam kisah-kisah ini untuk memberi kita kesempatan agar memahami, berempati, dan terinspirasi untuk bertindak. ”WPP tetap berdedikasi untuk mendukung para fotografer yang mempertaruhkan segalanya untuk membawa kebenaran kepada kita” imbuhnya.

John Moore
Musuk Nolte

Kisah Mahmoud  

Mahmoud Ajjour adalah anak Palestina yang menjadi salah satu korban serangan militer Israel di Kota Gaza pada Maret 2024. Sebuah ledakan memutuskan tangannya saat ia kembali untuk membantu orang lain untuk terus maju. Ledakan itu juga melukai tangan lainnya yang berujung pada amputasi.

Mahmoud dan keluarganya dievakuasi ke Qatar. Setelah mendapatkan perawatan medis, ia belajar menggunakan kakinya untuk bermain gim di ponsel, menulis, dan membuka pintu. Namun ia membutuhkan bantuan khusus untuk sebagian besar aktivitas sehari-hari, seperti makan dan berpakaian. Saat ini, mimpi Mahmoud sederhana, ia ingin mendapatkan prostetik dan menjalani hidupnya seperti anak-anak lainnya.

Palestinian children gesture as they line up to collect a meal at a free food distribution point in the Nuseirat refugee camp in the central Gaza Strip, on April 3, 2025. International charities working in Gaza warn that its 2.4 million people cannot endure more shortages after many of them were displaced multiple times during the devastating military campaign Israel launched in response to Hamas's October 2023 attack. (Photo by Eyad BABA / AFP)

Mahmoud Ajjour bukanlah satu-satunya anak yang harus mengalami amputasi anggota tubuhnya sebagai dampak dari perang. Badan PBB untuk Pekerjaan dan Pemulihan Pengungsi Palestina di Timur Jauh (UNWRA) memperkirakan bahwa pada Desember 2024, Gaza memiliki lebih banyak anak yang diamputasi daripada di tempat lain di dunia. Sejak awal perang, Qatar, yang telah memprioritaskan dan mengembangkan sistem perawatan kesehatannya, memediasi kesepakatan untuk mengevakuasi orang-orang yang terluka parah untuk mendapatkan perawatan.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada Maret 2025, lebih dari 7.000 pasien telah dievakuasi dari Gaza untuk perawatan medis, tetapi setidaknya 11.000 lainnya masih di sana menunggu evakuasi. Para pengungsi telah dibawa ke negara-negara termasuk Mesir, Jordania, Qatar, dan Turki.

Selain mereka yang dievakuasi ke negara lain karena luka-luka, puluhan ribu orang lainnya telah tewas dan lebih dari 100.000 orang lainnya luka-luka. Saat ini, sistem kesehatan yang hancur akibat perang tidak memiliki peralatan yang memadai untuk merawat mereka. Menurut WHO, pada Maret 2025, hanya 21 dari 36 rumah sakit di Gaza yang masih berfungsi sebagian.

Samar Abu Elouf saat menjalankan tugasnya di Gaza, Palestina

Kisah Samar Abu Elouf

Samar Abu Elouf merupakan fotografer perempuan dari Jalur Gaza, Palestina. Ia belajar sebagai jurnalis foto secara otodidak. Sejak 2010, Abu Elouf telah mendokumentasikan kehidupan sehari-hari, berita, dan dampak mendalam konflik di negaranya. Ia telah bekerja dengan banyak organisasi internasional, termasuk The New York Times, Reuters, NZZ, dan Middle East Eye.

Abu Elouf dievakuasi dan meninggalkan Jalur Gaza pada Desember 2023. Saat ini ia tinggal di kompleks apartemen yang sama yang menjadi tempat tinggal Mahmoud di Doha Qatar. Perempuan fotografer ini sekarang telah menjalin hubungan dengan keluarga-keluarga di sana. Ia mendokumentasikan sebagian dari sedikit warga Jalur Gaza yang terluka parah dan berhasil keluar untuk berobat.


Kerabat Kerja

Penulis:

Demitrius Wisnu Widiantoro
 | 

Editor:

Yuniadhi Agung
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul