Fotografer legendaris asal Brasil, Sebastiao Salgado, wafat dalam usia 81 tahun.
24 Mei 2025 12:05 WIB · Klinik Foto
Fotografer dan pencinta lingkungan asal Brazil Sebastiao Salgado meninggal pada usia 81 tahun karena leukemia. , ungkap keluarganya pada hari Jumat. Berita duka ini diumumkan oleh Akademi Seni Rupa Perancis dan Instituto Terra lembaga dimana ia menjadi anggotanya pada Jumat (23/5/2025) waktu setempat tanpa merinci penyebab dan tempat kematiannya.
Namun berdasarkan keterangan dari keluarga, Salgado meninggal karena serangan leukimia. Penyakit kanker darah yang merenggut nyawa Salgado ini muncul sebagai komplikasi dari serangan malaria yang didapatkannya pada 2010 saat berkunjung ke Indonesia. " Lima belas tahun kemudian, komplikasi dari penyakit ini berkembang menjadi leukemia parah, yang akhirnya merenggut nyawanya," imbuh keluarga tersebut.
Kunjungan Salgado ke Indonesia sendiri tidak lepas dari pekerjaannya sebagai fotografer. Ia memang kerap bepergian ke penjuru-penjuru dunia untuk mengerjakan proyek fotonya. Saat ke Indonesia pada 2010 lalu ia sedang mengerjakan proyek “Genesis”.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/24/bf387eb1c857be017259f51c3ae83085-000_47WH3G2.jpg)
Proyek "Genesis" sendiri adalah salah satu karya paling monumental dari Salgado. Proyek ini dikerjakan selama delapan tahun (2004–2012) bersama istrinya, Lélia Wanick Salgado. Proyek ini merupakan perjalanan visual ke bagian-bagian dunia yang masih alami, dengan tujuan utama untuk menunjukkan keindahan dan keragaman planet ini sebelum dampak besar dari peradaban modern.
Sebastião Salgado lahir di Aimorés, Minas Gerais, Brasil pada 1944. Awalnya ia berprofesi sebagai ekonom. Namun pada 1973 ia beralih ke fotografi. Salgado dikenal karena karya dokumenternya yang kuat secara visual dan emosional, terutama dalam hitam putih. Dalam perjalanan karirnya sebagai fotografer karyanya banyak memenangkan penghargaan tentang alam dan kemanusiaan.
Gaya Salgado ditandai oleh citra hitam-putih, nada suara yang kaya, dan skenario yang penuh muatan emosi. Banyak foto terbaiknya diambil di komunitas miskin, terutama di Amazon dan Afrika.
Dalam pernyataannya yang dikutip Kantor Berita Associated Press (AP), Instituto Terra menuliskan bahwa karya Salgado menyingkapkan dunia dan kontradiksinya dan membawa kekuatan tindakan transformatif. Selayaknya Salgado menjadi salah satu fotografer terbaik di zaman ini. “Salgado tanpa lelah terus lelah berjuang untuk dunia yang lebih adil, manusiawi, dan ekologis melalui lensa kameranya” imbuh anggota keluarga Salgado.
Penulis:
Demitrius Wisnu WidiantoroEditor:
Heru Sri KumoroPenyelaras Bahasa:
Nur Adji