Gagal Juara ASEAN, ”Anugerah” Besar Indonesia U-23

Meski perih, Indonesia U-23 mesti lekas melupakan kekalahan dari Vietnam. Kegagalan juara di rumah sendiri setidaknya mengandung pesan penting ajang berikutnya.

30 Jul 2025 12:57 WIB · Olahraga

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

Bangsa Jepang punya pepatah yang sangat mengena terkait kegagalan. Ketika seseorang jatuh tujuh kali, ia hendaknya bangkit delapan kali. Lewat pepatah itu, kita diajarkan untuk tidak pernah kehilangan semangat meski berada pada titik terendah. Kegagalan Indonesia U-23 pada Kejuaraan ASEAN memang menyakitkan. Namun, di dalamnya terselip ”anugerah” besar bagi perjalanan jangka panjang ”Garuda Muda”.

Perasaan suporter Indonesia begitu tersayat saat mengetahui laga final hanya tersisa kurang dari lima menit, sementara di atas lapangan para pemain masih kesulitan menembus barikade pertahanan Vietnam. Satu per satu dari para suporter beranjak dari bangku lalu meninggalkan Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, meski pertandingan belum sepenuhnya usai. Pemandangan itu menunjukkan betapa kecewanya mereka setelah gagal menjadi saksi sejarah Indonesia mengangkat trofi di markas sendiri.

Tidak hanya suporter, para pemain dan staf kepelatihan Indonesia pun merasakan hal yang sama. Saat prosesi penyerahan penghargaan, mayoritas pemain Indonesia terduduk lemas. Tidak banyak kata yang keluar dari mereka. Sepanjang prosesi penyerahan trofi kepada kapten Vietnam, para pemain Indonesia mengamati dari kejauhan dengan tatapan kosong.

Walau perih, kegagalan meruntuhkan dominasi Vietnam bukanlah akhir dari segalanya. Bagaimanapun, gelar juara bukan tujuan satu-satunya pada tim kelompok usia. Hal terpenting adalah bagaimana para pemain bangkit dan terus berkembang hingga matang lalu mendapat kepercayaan dari tim senior.

Ada ”anugerah” besar di balik kegagalan memenangi Kejuaraan ASEAN U-23. Dari sana setidaknya para pemain Garuda Muda tahu cara bermain seperti apa yang harus diterapkan saat menghadapi lawan seperti Vietnam. Jajaran kepelatihan pun mendapat banyak masukan penting untuk menyiapkan tim pada turnamen berikutnya.

Ekspresi para pemain tim sepak bola Indonesia saat meraih peringkat dua di Kejuaraan ASEAN U-23 usai kalah 1-0 dari Vietnam U-23 pada laga final Kejuaraan ASEAN U-23 2025 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (29/7/2025). Indonesia U-23 harus mengakui kekalahan dengan skor 0-1 saat melawan Vietnam U-23. Hasil ini membawa Vietnam hattrick menjadi juara ASEAN U-23.



KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)

Kelemahan dalam mengantisipasi eksekusi bola mati yang berujung gol Nguyen Cong Phuong hanyalah satu dari banyak aspek yang harus diperbaiki tim arahan Gerald Vanenburg. Hal lain yang lebih penting adalah mempertajam penyelesaian akhir.

Produktivitas semu

Indonesia U-23 memang menjadi tim terproduktif di turnamen ini dengan 10 gol. Produktivitas itu nyatanya semu karena delapan gol di antaranya dilesakkan saat menghadapi Brunei Darussalam yang merupakan tim terlemah. Ketika dihadapkan pada lawan yang lebih punya kualitas seperti Thailand, Malaysia, Filipina, dan Vietnam, Garuda Muda kesulitan mencetak gol.

Peningkatan kreativitas lini tengah, termasuk keberanian dalam berduel satu lawan satu dan melepaskan umpan-umpan progresif, menjadi kelemahan lain yang terkuak saat final. Vietnam yang bermain dengan garis pertahanan medium menyulitkan para pemain Indonesia berkreasi dari area tengah lantaran pemain lawan yang menumpuk. Jarak ruang antarlini pun begitu rapat hingga membuat Jens Raven kesulitan menerima bola, apalagi membalikkan badan untuk menghadap gawang.

Saat tertinggal dan butuh gol penyeimbang, para pemain Indonesia justru ragu-ragu melepaskan umpan progresif. Mereka terjebak alur permainan Vietnam sehingga hanya berani mengoper bola ke belakang. Karakter dominasi penguasaan bola yang ditanamkan Vanenburg tidak semestinya diterapkan dengan cara seperti itu.

”Saya kira pertama, jika Anda menyaksikan pertandingan, itu (kebiasaan mengoper ke belakang) sesuatu yang sebenarnya saya kurang senang. Makanya, kami melakukan pergantian (pemain). Bola memang harus dialirkan ke depan pada situasi seperti itu,” kata Vanenburg dalam sesi konferensi pers usai laga, Selasa (29/7/2025).

Pemain Vietnam, Nguyen Nhat Minh (kanan), mencoba menghadang laju pemain Indonesia, Jens Raven, pada laga final Kejuaraan ASEAN U-23 2025 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (29/7/2025). Tim "Garuda Muda"sementara tertinggal 0-1 pada akhir babak pertama.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
29-07-2025

Namun, pencapaian melaju hingga final tetap harus diapresiasi. Tim ini hanya sempat menjalani latihan tanpa diberi peluang menjalani uji coba sebelum pertandingan. Praktis, Vanenburg tidak punya kesempatan menguji seberapa kuat timnya. Ini pula yang menjelaskan mengapa Vanenburg, di awal turnamen, kerap memilih susunan pemain yang berbeda-beda.

Langkah itu ia ambil untuk melihat kemampuan pemain di tiap posisi. Hokky Caraka sempat diturunkan sebagai pemain mula sebelum Jens jadi pilihan utama. Duet bek tengah pun awalnya menjadi milik Brandon Scheunemann dan Muhammad Ferarri sebelum diberikan permanen kepada Kakang Rudianto dan Kadek Arel.

Dengan demikian, Kejuaraan ASEAN U-23 memberikan banyak sekali ”anugerah” berupa pelajaran berharga jelang menjalani tantangan berikutnya, kualifikasi Piala Asia U-23 2026. Untuk lolos, Indonesia bersaing dengan Korea Selatan, Makau, dan Laos pada September mendatang. Kesalahan-kesalahan yang dibuat saat Kejuaraan ASEAN U-23 harus sudah hilang karena hanya juara grup yang akan lolos secara langsung.

Vanenburg masih punya banyak waktu mempersiapkan tim. Selain memantau lebih banyak pemain di Liga Indonesia, ia wajib mempersiapkan minimal satu laga uji coba jelang kualifikasi. ”Untuk SEA Games, saya diberi tahu bahwa itu bukan turnamen yang akan saya tangani. Saya tidak ada masalah dengan itu. Namun, saya akan bertugas pada turnamen (kualifikasi Piala Asia U-23) berikutnya. Saya akan mencoba memenanginya,” kata Vanenburg.


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan