Gajah Sumatera Koridor Sumut-Aceh Ditemukan Mati, Ada Dugaan Diracun

Kematian gajah itu kerugian ekologis sangat besar di tengah populasi yang terus menurun di koridor Sumut-Aceh. Sebelumnya terjadi konflik gajah dengan masyarakat.

07 Apr 2025 18:26 WIB · Nusantara

Oleh Nikson Sinaga

MEDAN, KOMPAS — Seekor gajah sumatera liar ditemukan mati di kebun sawit di dekat Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Kematian gajah jantan itu merupakan kerugian ekologis sangat besar di tengah populasi yang terus menurun di koridor Sumut-Aceh. Konflik gajah dengan masyarakat di kawasan penyangga taman nasional itu terus berulang.

”Kami terus mengupayakan pemantauan populasi gajah yang tersisa di koridor Sumut-Aceh. Interaksi negatif antara satwa dan masyarakat di kawasan itu sangat tinggi,” kata Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara (Sumut) Novita Kusumawardhani, Senin (7/4/2025).

Kematian gajah sumatera (Elephas maximus sumatrae) itu diketahui setelah BBKSDA Sumut mendapat laporan tentang ditemukannya gajah liar yang mati di kebun sawit di Desa Bukit Selamat, Kecamatan Besitang, Langkat. BBKSDA Sumut bersama Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), tim dokter hewan, dan kepolisian setempat mendatangi lokasi tersebut, Sabtu (5/4/2025).

Bangkai gajah liar itu ditemukan di kebun sawit yang dikelola masyarakat dan berdampingan dengan kebun milik PT Rapala. Kebun itu berbatasan langsung dengan TNGL.

Tim dokter hewan dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara melakukan bedah bangkai atau nekropsi terhadap gajah Sumatera liar yang ditemukan mati di Desa Bukit Selamat, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, Sabtu (5/4/2025).

Saat ditemukan, gajah sumatera tersebut sudah membusuk dan diperkirakan sudah mati sekitar satu minggu. Seluruh bagian tubuh gajah lengkap, termasuk dua gading yang panjangnya masing-masing 50 sentimeter. Gajah dengan panjang badan sekitar 2 meter itu diperkirakan berusia 10 tahun.

Tim telah melakukan olah tempat kejadian perkara, nekropsi, pengambilan sampel, dan penguburan bangkai gajah. Gading gajah dibawa ke BBKSDA Sumut. Pemeriksaan bagian tubuh luar menemukan ada luka infeksi di kaki gajah. Infeksi kaki bisa menyebabkan kematian jika membuat gajah tidak bisa bergerak untuk mencari makan.

Tim juga mendalami kemungkinan gajah mati diracun. Tim dokter hewan telah mengambil sampel organ tubuh gajah dan isi lambung untuk uji toksin di laboratorium. Saat ini, sampel tersebut masih proses pengiriman ke laboratorium dan hasilnya bisa diketahui dalam beberapa pekan.

Konflik Manusia dan Satwa di Sumatera Periode 2017-2020 Infografik

Novita mengatakan, konflik satwa dengan manusia di sekitar lokasi tersebut sangat tinggi. Mereka terus melakukan mitigasi interaksi negatif antara satwa liar dan manusia. ”Kami meminta agar masyarakat serta perusahaan pemegang hak guna usaha atau konsesi yang menjadi wilayah jelajah gajah di sekitar TNGL mendukung upaya mitigasi konflik ini,” kata Novita.

Kepala Seksi Konservasi BBKSDA Wilayah III Stabat Bobby Novandry mengatakan, gajah sumatera jantan itu sangat penting di tengah kondisi populasi gajah liar di koridor Sumut-Aceh yang terancam punah. Diperkirakan hanya tersisa tiga kelompok gajah di koridor itu. Gajah jantan biasanya hidup soliter dan akan mengawini gajah betina lintas kelompok.

Salah satu tantangan terbesar konservasi gajah sumatera di koridor Sumut-Aceh adalah konflik dengan masyarakat yang sangat tinggi. ”Apalagi, sebagian homreng atau wilayah jelajah mereka saat ini sudah berubah menjadi kebun sawit,” kata Bobby.

Padahal, gajah akan selalu berputar melewati wilayah jelajah yang sama untuk mencari pakan mereka meskipun tutupan hutan sudah berubah menjadi kebun sawit. Konflik pun terjadi karena masyarakat menganggap gajah masuk ke kebun mereka dan merusak tanaman.

Sebelum kasus kematian gajah itu, konflik satwa dengan manusia terjadi pada Sabtu (22/3/2025). Seorang petani di Desa Mekar Makmur diserang gajah hingga mengalami luka-luka. Desa itu berdekatan dengan desa tempat gajah ditemukan mati.

Saat konflik terjadi, beberapa individu gajah liar melintas di sekitar desa. Gajah bertahan di sekitar desa selama beberapa hari. Petugas dari BBKSDA Sumut bersama masyarakat lalu menghalau gajah terebut agar masuk ke TNGL.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara mengubur bangkai gajah Sumatera liar yang ditemukan mati di Desa Bukit Selamat, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, Sabtu (5/4/2025).

Dalam catatan Kompas, kematian dua gajah betina juga terjadi di kawasan itu di Desa Bukit Mas pada April 2022. Gajah pertama adalah betina dewasa yang ditemukan sekitar 150 meter dari batas TNGL.

Gajah diduga mati akibat kehabisan darah setelah ditusuk benda tumpul di bagian dada dan perut. Caling (sebutan gading untuk betina) sebelah kiri gajah itu hilang. Terdapat bekas sayatan pada otot pengikat caling. Sementara caling sebelah kanan utuh.

Sementara gajah kedua adalah gajah betina remaja. Namun, gajah itu tidak bisa dinekropsi karena tinggal tulang-belulang saja. Gajah itu diduga mati enam bulan sebelumnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Nikson Sinaga
 | 

Editor:

Siwi Yunita Cahyaningrum
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto