Gandeng China dan Temui Putin, Rencana Trump Akhiri Perang Ukraina-Rusia

Berbeda dengan perang Hamas-Israel yang—untuk sementara—bisa dihentikan, Trump mengaku tak mudah menyelesaikan perang Ukraina-Rusia.  Ia mengaku butuh enam bulan.

24 Jan 2025 19:54 WIB · Internasional

Oleh Mahdi Muhammad

WASHINGTON, JUMAT — Presiden Amerika Serikat Donald Trump berupaya merealisasikan janjinya untuk mengakhiri invasi Rusia ke Ukraina yang akan berusia tiga tahun pada Februari mendatang. Menggandeng China adalah salah satu opsi yang tengah dipikirkan sambil secara unilateral mencoba menekan Rusia.

Langkah-langkah itu diharapkan bisa mendorong Moskwa dan Kyiv mau bertemu di meja perundingan.

Keinginan untuk menggandeng China dalam menyelesaikan perang di Ukraina disampaikan Trump saat berpidato melalui video pada Forum Ekonomi Dunia (WEF) yang berlangsung di Davos, Swiss, Kamis (23/1/2025). ”Semoga China bisa membantu kita menghentikan perang,” kata Trump.

Dia menambahkan bahwa China memiliki ”kekuatan” terhadap situasi itu.

Upaya Trump untuk melibatkan China dalam penyelesaian perang di Ukraina bukan pertama kalinya. Seusai bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Paris, Perancis, Desember 2024, Trump juga telah menyatakan keinginannya untuk menggandeng China dalam proses tersebut.

Russia Ukraine Talks Outlook

Trump telah berbincang dengan Presiden China Xi Jinping tentang Ukraina, pekan lalu, melalui sambungan telepon. Tidak ada perincian lebih lanjut mengenai upaya yang mungkin bisa dilakukan kedua negara.

Seperti dilansir laman Kementerian Luar Negeri China, Trump mengatakan, sebagai negara besar di dunia, AS dan China harus menjalin hubungan baik dan bekerja sama untuk perdamaian dunia. Tidak ada perincian lebih lanjut tentang upaya bersama yang bisa dilakukan keduanya soal perang di Ukraina.

Seusai dikukuhkan sebagai presiden, Trump mengatakan ingin membuka peluang berdialog langsung dengan Putin. Dia menyatakan keinginannya untuk bertemu langsung dengan Putin. ”Saya benar-benar ingin bertemu dengan Presiden Putin (Vladimir Putin) untuk mengakhiri perang itu,” katanya.

Trump menjelaskan, keinginannya untuk berdialog bukan semata karena masalah ekonomi, tetapi juga didasari rasa kemanusiaan. ”Dari sudut pandang (kemanusiaan) jutaan nyawa terbuang sia-sia. Itu adalah pembantaian. Kita benar-benar harus menghentikan perang itu,” ujarnya.

Presiden Rusia Vladimir Putin (R) menawarkan bola Piala Dunia 2018 ke Presiden AS Donald Trump selama konferensi pers bersama setelah pertemuan di Istana Presiden di Helsinki, pada 16 Juli 2018.Para pemimpin AS dan Rusia membuka pertemuan bersejarah di Helsinki, dengan Donald Trump menjanjikan "hubungan luar biasa" dan Vladimir Putin mengatakan sudah saatnya untuk menyelesaikan sengketa di seluruh dunia.  /

Memahami keluhan Rusia

Untuk mencoba memikat Putin, Trump mengakui, dirinya memahami posisi Rusia yang menentang rencana Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) memasukkan Ukraina sebagai anggotanya. Rusia telah memperingatkan hal itu sejak lama.

Trump menilai pemerintahan Presiden Joe Biden dan sekutunya di NATO tidak mendengar ”keluhan Rusia”. ”Kemudian Rusia memiliki seseorang (NATO) tepat di depan pintu mereka. Saya dapat memahami perasaan mereka tentang itu,” katanya.

Putin sendiri telah membuka diri untuk berdialog dengan Trump. Bukan hanya hanya jeda pertempuran, melainkan benar-benar penghentian perang. Dia menyambut baik inisiatif Trump.

”Mengenai penyelesaian situasi itu sendiri, saya ingin menekankan bahwa tujuannya bukanlah gencatan senjata singkat, melainkan perdamaian abadi yang didasarkan pada penghormatan terhadap kepentingan sah semua orang,” kata Putin, Senin (20/1/2025).

Russia China

Bila sebelumnya Trump menyatakan dirinya bisa menghentikan perang di Ukraina dalam waktu sehari pasca-pengukuhan sebagai presiden, kini dia sadar bahwa hal itu tidak mudah. Dia mengatakan, ia butuh setidaknya enam bulan untuk mengakhiri perang tersebut. Namun, katanya, lebih cepat lebih baik.

”Saya berharap memiliki waktu enam bulan. Saya kira, saya berharap jauh sebelum enam bulan,” kata Trump.

Posisi tawar Rusia

John Lough, rekanan pada Program Rusia dan Eurasia Chatham House, mengatakan, beberapa tujuan ingin dicapai oleh Rusia dalam proses pembicaraan damai. Pertama adalah netralitas Ukraina, termasuk di dalamnya adalah soal keanggotaan NATO dan dilarangnya penempatan kekuatan militer serta persenjataan asing di negara tersebut.

Kedua adalah konsolidasi wilayah. Rusia saat ini menguasai hampir seperlima wilayah teritorial Ukraina. Mereka tidak akan mengembalikannya kepada Zelenskyy.

Yang terakhir, menurut Lough, adalah penghentian atau setidaknya keringanan sanksi ekonomi yang dijatuhkan AS dan negara-negara anggota NATO kepada Rusia.

Dua anggota militer Ukraina dari Brigade ke-59 berbincang sejenak di tengah latihan di sebuah lokasi yang dirahasiakan di Donetsk, Rabu (22/1/2025).

”Meski ekonomi Rusia berhasil beradaptasi dengan sanksi AS dan mengurangi dampaknya, sanksi tersebut merupakan beban yang signifikan bagi pembangunan negara tersebut,” kata Lough.

Thomas Graham, peneliti pada Council on Foreign Relations, mengatakan bahwa netralitas Ukraina adalah bagian penghentian perluasan pengaruh Barat di zona penyangga. Mendorong masuknya Ukraina, menurut Graham, mengakibatkan rasa ketidakamanan dan mengikis status Rusia sebagai kekuatan besar di panggung global.

Keberlanjutan sanksi

Pada saat yang bersamaan, Trump juga menyatakan bahwa AS akan meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Putin dan Rusia jika Kremlin tidak setuju untuk mengakhiri perang.

”Jika kita tidak membuat kesepakatan, dan segera, saya tidak punya pilihan selain mengenakan pajak, tarif, dan sanksi tingkat tinggi pada apa pun yang dijual oleh Rusia ke Amerika Serikat, dan negara lainnya,” kata Trump melalui platform media sosial miliknya Truth Social.

Trump mengatakan bahwa dia tidak ingin menyakiti Rusia dan selalu memiliki hubungan yang sangat baik dengan Putin, seorang pemimpin yang selama ini dia kagumi.

”Mari kita akhiri perang ini, yang tidak akan pernah terjadi jika saya menjadi Presiden,” kata Trump.

Foto menunjukkan uang kertas 1.000 rubel serta 5.000 rubel dalam acara peluncuran keduanya, di Moskwa, Rusia, Senin (16/10/2023). Operasi militer Rusia di Ukraina tak hanya memberikan tantangan dari segi keamanan, tetap juga tantangan dari sisi ekonomi berupa inflasi akibat gangguan suplai di tengah perang tersebut.

Setengah mengancam, Trump menyatakan, penyelesaian perang Ukraina-Rusia bisa dilakukan dengan dua pilihan cara: cara mudah dan cara yang sulit.

”Cara yang mudah selalu lebih baik. Saatnya untuk ’membuat kesepakatan’,” kata Trump.

Sejak invasi berlangsung pada akhir Februari 2022, Rusia telah dijatuhi sanksi oleh AS dan Uni Eropa, mulai dari sanksi perdagangan hingga sanksi atas sistem keuangannya. Walau begitu, AS masih mengimpor barang senilai 2,9 miliar dollar AS dari Rusia sepanjang periode Januari-November 2024. Nilai impor ini turun tajam dibandingkan periode yang sama tahun 2023 senilai 4,3 miliar dollar AS.

Graham meyakini, mengajak Rusia agar mau duduk dan berunding dengan Ukraina tidak akan mudah. Satu-satunya cara untuk membuat Putin mau duduk berunding secara serius adalah dengan memperlihatkan bahwa AS dan sekutunya serta Ukraina memiliki sarana, baik untuk menghentikan perang maupun sebaliknya, memperpanjangnya. (AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Mahdi Muhammad
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan