Penumpang rute Asia-Eropa mencari penerbangan langsung. Harga tiket pun melambung tinggi hingga tiga kali lipat dan kursi kelas ekonomi habis.
05 Mar 2026 08:00 WIB · Internasional
AFP/Patrick T. Fallon
Tak hanya infrastruktur energi atau sasaran strategis yang rusak parah, serangan Israel-Amerika Serikat atas Iran dan balasan Teheran berimbas pula pada lonjakan harga tiket pesawat. Harga tiket penerbangan dari Asia Tenggara ke Eropa naik tiga hingga empat kali lipat.
Dalam kondisi normal, penerbangan dari Asia Tenggara ke Eropa berkisar 700 dolar AS (Rp 11,8 juta) hingga 1.000 dolar AS (Rp 16,8 juta) untuk kelas ekonomi sekali jalan. Penerbangan pun sudah penuh sampai setidaknya dua pekan ke depan.
Lonjakan harga tiket pesawat antara lain dipicu penutupan bandara dan pembatalan penerbangan yang melintasi negara-negara Teluk. Bandara Dubai di Uni Emirat Arab yang menangani 1.000 penerbangan internasional sudah empat hari ditutup. Penutupan memangkas kapasitas layanan penerbangan ke Australia dan Eropa yang biasa didominasi maskapai dari negara Teluk, seperti Emirates dan Qatar Airways.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/04/225adf69031bb9cf0c20ad6c294a7737-US_IRAN_ISRAEL_WAR_AIR_TRAVEL_136604116.jpg)
Kantor berita Reuters, Selasa (2/3/2026), mengecek laman sejumlah maskapai alternatif. Dalam pengecekan itu didapati lonjakan harga penerbangan langsung dari kawasan Asia ke Inggris.
Maskapai nasional Thailand, Thai Airways, mengalami pesanan penuh untuk penerbangan ke Eropa. Menurut Menteri Perhubungan Thailand Phiphat Ratchakitprakarn, wisatawan Eropa memilih penerbangan pulang langsung ke Eropa daripada transit di Timur Tengah.
Penelusuran di situs pemesanan Thai Airways memperlihatkan, hingga Minggu (15/3/2026), kursi penerbangan Bangkok-London telah habis terjual. Untuk kelas ekonomi, tiket sekali jalan dihargai hingga 71.190 baht (Rp 38 juta) per orang. Harga tiket baru turun ke harga 27.045 baht (Rp 14,4 juta) untuk penerbangan pada Rabu (18/3/2026).
Untuk penerbangan Sydney-London, Qatar Airways tidak menawarkan tiket ekonomi. Tiket sekali jalan untuk penerbangan hingga Selasa (17/3/2026) dihargai hingga Rp 42 juta. Kalaupun ada tiket yang tersedia sebelum Rabu (11/3/2026), harganya jauh lebih mahal.
Itu pun penumpang harus transit di bandara yang tidak lazim, seperti Los Angeles di AS atau Johannesburg di Afrika Selatan. Tentu saja waktu penerbangan menjadi lebih lama.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/04/b483d4a633f55c53da788ae6698e4658-AUSTRALIA_IRAN_US_ISRAEL_WAR_TRANSPORT_136629346.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/04/1d2a7f25c4b6cceb8855d6b04468120e-INDIA_SAUDI_IRAN_US_ISRAEL_POLITICS_WAR_136616854.jpg)
Maskapai Taiwan, EVA Airways, menyatakan, pemesanan penerbangan ke Eropa sudah penuh karena banyak maskapai mencari jalur alternatif menghindari Timur Tengah. Beberapa maskapai di China juga mengalami lonjakan pesanan untuk rute dari China ke Inggris di atas situasi normal.
Kursi kelas ekonomi nyaris tidak tersedia untuk penerbangan dalam beberapa hari ke depan. Tiket pergi pulang Beijing-London untuk maskapai Air China biasanya di bawah 10.000 yuan (Rp 24,4 juta) kini hanya tersedia untuk kelas bisnis dengan tiket sekali jalan 50.490 yuan (Rp 123,5 juta).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/19/8c99fb87c4342b778a2dd69ba7e80a6e-IMG_20250420_WA0031.jpg)
Charlotte Kennard dan ayahnya, Richard, seharusnya terbang dari Birmingham, Inggris, ke Sydney, Australia, via Dubai dengan maskapai Emirates, Minggu (1/3/2026). Namun, mereka terjebak dalam kekacauan yang terjadi akibat perang di Timur Tengah.
Maskapai menyatakan memantau situasi dan memberi kabar 24 jam sebelum jadwal penerbangan. Namun, hingga saatnya terbang, tidak ada kabar. Mereka pun datang ke Bandara Birmingham dan mendapati informasi bahwa penerbangan Birmingham-Sydney via Dubai dibatalkan.
Kennard kemudian membeli tiket Singapore Airlines dengan jadwal penerbangan Selasa (3/3/2026) seharga 3.620 dolar Australia (Rp 43,2 juta) untuk satu kursi sekali jalan. Malam sebelumnya harga tiket masih di kisaran 2.300 dolar Australia (Rp 27,4 juta) untuk sekali jalan.
Mereka memilih untuk memesan ulang dengan penerbangan lain yang dianggap lebih aman lewat Singapura untuk kembali ke Australia. ”Kami tinggal di Australia yang jauh dari tempat konflik. Keadaan ini membuat kami merasa terdampak dan takut,” kata Kennard.
Pusat Layanan Perjalanan Udara Australia mengalami lonjakan panggilan darurat melalui telepon hingga 75 persen sejak Sabtu (28/2/2026). Staf harus bekerja 24 jam melayani para pelanggan yang cemas.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/01/bdc95715038196c20f7b44c84e436a82-AP26059504775792.jpg)
Konsultan penerbangan Alton menyebutkan, sejumlah maskapai menyediakan penerbangan jarak jauh dengan hub alternatif di luar Timur Tengah, seperti Cathay Pacific di Hong Kong; Turkish Airlines di Istanbul, Turki; dan Singapore Airlines di Bandara Changi, Singapura. Mereka diperkirakan mengalami lonjakan penumpang karena pelanggan menghindari maskapai milik negara-negara Teluk.
Maskapai penerbangan yang menawarkan penerbangan langsung Asia-Eropa tidak perlu melintasi wilayah konflik di Teluk Persia. Mereka terbang melintasi jalur utara via Pegunungan Kaukasus, Afganistan, atau melalui jalur selatan melintasi Mesir, Arab Saudi, dan Oman.
Namun, penerbangan tersebut menempuh jarak lebih jauh dengan biaya bahan bakar tambahan. Harga minyak dan gas melonjak akibat serangan AS-Israel ke Iran.
”Saat ini seluruh Timur Tengah terputus dari layanan dan itu memukul sejumlah maskapai di wilayah,” ujar Subhas Menon, Direktur Asosiasi Maskapai Asia Pasifik.
”Jika layanan penerbangan ke Eropa bisa disediakan dengan harga tinggi, keuntungan bagi maskapai akan dikesampingkan karena yang lebih penting adalah tersedianya konektivitas penerbangan,” imbuhnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/05/2173942743aa8e9de60e257bf371fc98-TOPSHOT_UAE_IRAN_US_ISRAEL_WAR_136594736.jpg)
Pemerintah Uni Emirat Arab mengumumkan, sudah ada 60 kali penerbangan darurat melalui koridor udara darurat. Selanjutnya dijadwalkan 80 penerbangan darurat.
Pemerintah Amerika Serikat juga mengadakan penerbangan carter untuk mengungsikan warga AS dari Timur Tengah. Departemen Luar Negeri AS di akun X, Selasa (3/3/2026), mengumumkan evakuasi setidaknya 3.000 warga AS.
Deplu AS dikecam para senator dan anggota kongres karena tidak memberikan peringatan terlebih dahulu kepada warga AS untuk mengungsi sebelum menyerang Iran.
Maskapai AS, Delta Airlines, Selasa, menunda penerbangan New York-Tel Aviv hingga 22 Maret 2026. Mereka menawarkan penjadwalan ulang hingga 31 Maret 2026.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/03/0a535f10-b14f-48c0-b408-40d404b00a15.jpg)
Harga saham beberapa maskapai dunia jatuh dalam sesi perdagangan Selasa (3/3/2026). Terganggunya kegiatan operasional maskapai karena perang berdampak pada keuangan mereka.
Kepala Riset Infrastruktur, Industri, dan Transportasi Asia pada JP Morgan, Karen Li, mengatakan, ada perbedaan strategi antarmaskapai dalam menyikapi perkembangan yang terjadi di Timur Tengah. ”Mengalihkan rute penerbangan akan berdampak lebih lanjut setelah konflik Timur Tengah. Kenaikan harga minyak mentah akan berdampak pada biaya operasional dan keuntungan maskapai,” kata Li.
Saham sebagian besar maskapai AS turun. Maskapai Southwest turun 1 persen, sementara Alaska Air turun 2 persen.
Di Eropa, saham Wizz Air dan British Airways yang dimiliki IAG turun 5 persen, sedangkan Lufthansa dan Air France-KLM turun 8 persen.
CEO Ryanair Michael O’Leary mengatakan sudah melakukan hedging pembelian minyak pada 67 dolar AS per barel hingga setahun. Namun, saham Ryanair tetap turun 2,2 persen, Selasa.
Qatar Airways yang kebanjiran pesanan tiket Australia-Eropa tetap mengalami penurunan nilai saham sebesar 1,8 persen.
(Reuters/AP)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Nur Adji