Garuda Indonesia Berencana Datangkan Puluhan Pesawat Boeing, Untung atau Buntung?

Pesawat yang didatangkan menurut rencana bertipe Boeing 737 Max dan Boeing 787.

04 Jul 2025 17:26 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Dimas Waraditya Nugraha, Yosepha Debrina Ratih Pusparisa

JAKARTA, KOMPAS — PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk berencana mendatangkan 50-75 pesawat baru dari Boeing. Detail seputar pengadaan itu belum diungkap. Maskapai berjanji akan mengumumkan rinciannya setelah perjanjian disepakati.

Rencana itu disoroti sejumlah pihak, khususnya terkait kinerja keuangan PT Garuda Indonesia. Pada tahun 2024, maskapai itu mencatat kerugian bersih 69,78 juta dollar AS atau Rp 1,13 triliun (kurs Rp 16.180 per dollar AS).

Baru-baru ini, Garuda Indonesia mendapat shareholder loan atau pinjaman dari pemegang saham dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) sebesar Rp 6,65 triliun.

Adapun rencana pengadaan pesawat Boeing saat ini masih dijajaki Garuda Indonesia dengan Boeing, perusahaan manufaktur pesawat asal Amerika Serikat. Garuda berencana memesan 50-75 pesawat bertipe 737 Max dan 787.

”Kami masih penjajakan untuk kemungkinan pembelian pesawat Boeing, bukan (dari) lessor (perusahaan penyewa). Beli sama pabrik. Ini masih dalam pembicaraan,” ujar Direktur Utama Garuda Indonesia Wamildan Tsani Panjaitan di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (3/7/2025) sore.

Direktur Utama PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney) Maya Watono menjelaskan persiapan bandara menyambut libur Natal dan Tahun Baru 2024/2025 di Gedung Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Jakarta, Jumat (6/12/2024). Ia didampingi Direktur Utama Garuda Indonesia Wamildan Tsani Panjaitan (tengah) dan Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga.

Ketika ditanya soal target dan biaya yang perlu disiapkan, Wamildan enggan menjabarkan. Ia berjanji akan mengumumkannya ketika hasil pembicaraan dengan pihak Boeing sudah disepakati.

Lebih untung mana?

Secara terpisah, pakar penerbangan Alvin Lie menjelaskan, harga Boeing 737 Max berkisar 100 juta dollar AS hingga 135 juta dollar AS per unit. Angka itu setara dengan Rp 1,62 triliun sampai Rp 2,19 triliun dengan kurs Rp 16.209 per dollar AS.

Sementara itu, harga Boeing 787 berkisar 248 juta dollar AS hingga 340 juta dollar AS. Nominalnya sama dengan Rp 4,2 triliun sampai Rp 5,51 triliun. Harga bisa berubah bergantung varian, sistem elektronik pesawat, interior, dan kelengkapannya. Konsumen bisa menerima diskon besar jika membeli dalam jumlah banyak.

Quote

Secara finansial, ia menilai maskapai akan lebih ringan dan diuntungkan jika menyewa, alih-alih membeli unit baru.

Di sisi lain, lanjut Alvin, harga sewa untuk sebuah armada Boeing 787 berkisar 800.000 dollar AS hingga 1,25 juta dollar AS per bulan. Jumlahnya sama dengan Rp 12,97 miliar sampai Rp 20,26 miliar. Artinya, secara finansial, maskapai akan lebih ringan dan diuntungkan jika menyewa, alih-alih membeli unit baru.

”Selain tidak perlu modal besar terikat, juga lebih mudah bagi maskapai untuk upgrade ke pesawat yang lebih muda atau bertipe baru. Lazimnya, maskapai hanya menyewa dari lessor (penyewa) sehingga yang membeli pesawat adalah lessor,” ujar Alvin.

Pesawat Boeing 737 MAX sedang diproduksi di fasilitas produksi Beoing di Renton, Washington, Amerika serikat. Foto diambil 27 Maret 2019.

Di sisi lain, tingginya tingkat pesanan pesawat yang tertunda (backlog) selama ini membuat pemesanan hingga distribusi memakan waktu lebih lama. Backlog disebabkan oleh rantai pasok yang terganggu, terutama setelah meletusnya perang Rusia-Ukraina sejak 2022.

Jika pesawat dipesan sekarang, antrean bisa memakan waktu minimal tiga tahun. Kapasitas produksi bulanan 737 Max dibatasi hanya 38 unit per bulan, sedangkan tipe 787 kurang dari 10 unit per bulan.

”Pembatasan kapasitas ini merupakan perintah Administrasi Penerbangan Federal (FAA) dalam rangka penjaminan mutu pesawat Boeing, yang belakangan sering bermasalah karena manajemen Boeing mengejar angka produksi dan abai terhadap aspek quality and safety,” tutur Alvin.

Secara terpisah, konsultan aviasi sekaligus pakar penerbangan Gerry Soejatman mengatakan, Boeing dan Airbus mengalami backlog yang panjang. Alhasil, maskapai penerbangan tidak memiliki banyak pilihan.

Opsi lain memesan dari Comac, perusahaan manufaktur pesawat asal China. Namun, levelnya dinilai masih jauh dibandingkan dua perusahaan manufaktur Barat tersebut.

”Kalau mau ambil Comac juga kapasitas produksinya masih sedikit dan belum cukup usia produk untuk dinyatakan barang andal selevel Boeing dan Airbus,” kata Gerry.

Praktisi dan konsultan industri aviasi, Gerry Soejatman saat ditemui seusai konferensi pers oleh Boeing yang akan menindaklanjuti pengadaan pesawat tempur F-15EX pada Pemerintah Indonesia di Jakarta, Selasa (15/4/2025).

Untuk membeli pesawat, Garuda Indonesia perlu mengeluarkan biaya yang besar. Gerry memperkirakan, perusahaan pelat merah ini dapat memanfaatkan Danantara. Caranya adalah membeli pesawat, kemudian menjual dan menyewakan kembali (sale and lease back) dengan Danantara atau penyewa. Jaminan dananya dari Danantara.

Jika skema ini digunakan, maka Garuda Indonesia akan membeli kemudian menyewakan kembali armadanya. Dana dari penjualan pesawat akan digunakan untuk membeli pesawat berikutnya. Kemungkinan lain, Garuda Indonesia dapat meminjam uang dengan pesawat sebagai jaminan atau asset backed finance.

”Pastinya bagaimana, belum tahu, tetapi skema-skema seperti ini lumrah di (industri) penerbangan. Banyak skema yang bisa diambil kok,” ujar Gerry.

Hal serupa diutarakan pengamat penerbangan lain, Gatot Raharjo. Saat ini, hampir tidak ada maskapai yang melakukan pembelian ke pabrik tanpa melibatkan perusahaan penyewa. Memang memungkinkan maskapai bernegosiasi dengan pabrik, nanti akan ”dijual” oleh maskapai kepada penyewa. Kemudian, maskapai akan menyewa dari penyewa.

”Itu yang common sense di industri penerbangan saat ini karena biaya dan risikonya lebih rendah bagi maskapai. Apalagi pesawat narrow body seperti B737 itu termasuk pesawat yang sangat laris. Kemungkinan besar, kalau mau cepat, Garuda Indonesia akan menyewa ke lessor (penyewa), bukan beli ke pabrik,” kata Gatot.

single

Dalam laporan kinerja Boeing triwulan I-2025, perusahaan manufaktur tersebut secara perlahan meningkatkan kuantitas produksinya. Pada tahun ini, Boeing menargetkan akan memproduksi 38 pesawat per bulan.

Tren serupa akan diupayakan dalam produksi pesawat bertipe 787. Awalnya, Boeing hanya memproduksi lima unit per bulan. Ke depan, perusahaan itu mengharapkan dapat menghasilkan tujuh unit per bulan pada tahun 2025.

Meski demikian, persoalan backlog belum dapat teratasi. Secara finansial, backlog Boeing hingga triwulan I-2025 telah mencapai 460 miliar dollar AS atau Rp 7.456,1 triliun. Kondisi ini terjadi karena ada lebih dari 5.600 pesawat yang dalam status mengantre untuk diselesaikan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Dimas Waraditya Nugraha, Yosepha Debrina Ratih Pusparisa
 | 

Editor:

Budi Suwarna
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti