Gennaro Gattuso tetap gugup, meskipun menghadapi Estonia yang kualitasnya jauh di bawah Italia. Sistem pertahanan empat bek akan digunakannya, alih-alih tiga bek.
04 Sep 2025 18:30 WIB · Olahraga
BERGAMO, KAMIS — Laga menghadapi Estonia di Stadion Gewiss, Bergamo, Italia, Sabtu (6/9/2025), pukul 01.45 WIB, akan terasa menegangkan bagi Gennaro Gattuso. Pelatih baru Italia itu akan memulai misi penyelamatan Italia dari kegagalan lolos Piala Dunia ketiga secara beruntun. Gattuso sedikit gugup lantaran melatih Italia adalah pengalaman pertamanya di level internasional.
”Saya tegang seperti pegas. Saya sudah melakukannya sejak hari pertama. Saya juga merasakan beban tanggung jawab karena saya sendiri yang mengenakan jersei ini,” kata Gattuso dalam sesi konferensi pers pertamanya sebagai pelatih Italia, Senin (1/9/2025).
Mantan gelandang AC Milan tersebut ditunjuk menjadi pelatih Italia pada Juni lalu. Ia menggantikan Luciano Spalletti yang dipecat seusai kalah 0-3 dari Norwegia. Kekalahan itu membuat tim ”Azzurri” agak trauma dengan kegagalan lolos ke Piala Dunia pada edisi 2018 dan 2022. Demi mencegah petaka serupa terulang, Gattuso dipercaya untuk mengambil alih tim kendati Spalletti sanggup mempersembahkan kemenangan atas Moldova di laga berikutnya.
Penunjukan Gattuso sedikit mengejutkan mengingat ia tidak memiliki rekam jejak bagus semasa melatih sejumlah klub. Prestasi tertingginya sebagai pelatih adalah saat membawa Napoli memenangi Piala Italia pada 2020. Selebihnya, kinerja Gattuso tidak terlalu bersinar saat menangani Milan, Valencia, dan Marseille.
Lebih dari 10 tahun berkarier sebagai pelatih, Gattuso minim pengalaman di level internasional. Belum sekali pun ia pernah dipercaya memimpin timnas. Dengan demikian, tiket Piala Dunia 2026 menjadi satu-satunya cara bagi Gattuso untuk membuktikan bahwa penilaian publik yang meragukan kemampuannya menangani timnas adalah keliru.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/02/07/Italy-Soccer-Serie-A_94382315_1612704001_jpg.jpg)
Mengalahkan Estonia adalah tujuan pertama dari misi penyelamatan Italia oleh Gattuso. Italia jauh lebih diunggulkan karena menempati peringkat ke-11 dunia. Adapun Estonia terpaut jauh, yaitu di peringkat ke-126.
Jurang perbedaan kedua tim yang sedemikian besar rupanya tidak membuat Gattuso bisa leluasa. Ia tetap merasa gugup lantaran tekanan besar publik terhadap Azzurri di tengah risiko absen tiga kali secara beruntun ke Piala Dunia. Apalagi, Italia kini tercecer di posisi ketiga Grup I, di bawah Norwegia dan Israel.
Pertama dan terpenting, Anda harus membuat mereka (para pemain) merasa nyaman bersama. - Gennaro Gattuso -
Hanya juara grup yang berhak atas tiket lolos secara otomatis ke babak utama Piala Dunia. Adapun tim runner-up harus mengikuti kualifikasi ronde berikutnya. Kekalahan dari Norwegia memperberat peluang Italia lolos otomatis, meskipun punya dua laga yang belum dimainkan. Merebut posisi runner-up menjadi target paling realistis bagi Gattuso saat ini.
”Estonia kemungkinan bermain dengan serangan balik. Tetapi, ketika menguasai bola, mereka akan memainkannya. Jadi, kita harus pintar memaksa mereka melakukan kesalahan karena mereka juga pandai membangun serangan dari belakang,” kata Gattuso.
Gattuso banyak terpengaruh resep kesuksesan Marcello Lippi ketika membawa Italia menjuarai Piala Dunia 2006. Mantan anggota skuad Italia itu merasakan bagaimana Lippi mampu membentuk tim tangguh. Langkah pertama Lippi adalah membangun kohesivitas antarpemain.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/24/a854a40f-bf9a-4527-b2cb-8e20b13df25f_jpg.jpg)
Hal itulah yang mendorong Gattuso mengumpulkan semua pemain sejak beberapa pekan sebelum pertandingan di pusat latihan timnas di Coverciano, Firenze. Pemain yang cedera dilarang kembali ke klub. Mereka diminta untuk tetap tinggal di kamp pelatihan.
”Pertama dan terpenting, Anda harus membuat mereka (para pemain) merasa nyaman bersama. Anda tidak perlu membebani mereka dengan terlalu banyak kata atau hanya berbicara tentang taktik dan sepak bola. Kuncinya terletak pada menemukan keseimbangan yang tepat,” katanya.
Mengumpulkan pemain sejak jauh-jauh hari seperti itu bukanlah cara yang biasa dilakukan Spalletti. Selain mewajibkan pemain berkumpul di Coverciano, perbedaan metode antara Gattuso dan Spalletti juga tampak dari sistem pertahanan yang mereka anut.
Spalletti cenderung lebih menyenangi sistem tiga bek. Sementara itu, Gattuso kerap menggunakan empat bek. Dalam sistem tiga bek, suatu tim akan bertahan dengan lima bek ketika diserang. Hal inilah yang dirasa kurang cocok bagi Gattuso yang menerapkan permainan menekan dengan garis pertahanan tinggi.
”Dengan formasi lima bek, Anda harus menjaga ketat dan bermain agresif, atau Anda harus turun terlalu dalam dan membiarkan lawan bebas sepanjang waktu. Hal ini menyulitkan untuk menekan, terutama karena dengan penjaga gawang, Anda hampir selalu kalah jumlah. Anda berisiko terjebak dalam blok yang sangat rendah, hal yang tidak saya sukai. Saya pernah mencobanya sebelumnya, tetapi itu tidak cocok untuk saya,” ujar Gattuso.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/07/38a6f3f5-ca3e-4acd-974b-eec476aa3c3c_jpg.jpg)
Selama ini, Gattuso menggemari formasi 4-2-3-1. Dengan begitu, posisi empat bek kemungkinan besar akan diisi oleh Giovanni Di Lorenzo, Riccardo Calafiori, Alessandro Bastoni, dan Federico Dimarco. Adapun posisi gelandang jangkar bisa diisi Sandro Tonali dan Nicolo Barella.
Kemudian, tiga pemain di belakang penyerang kemungkinan ditempati Matteo Politano di sayap kanan, Giacomo Raspadori sebagai penyerang lubang, dan Mattia Zaccagni di sayap kiri.
Posisi penyerang barangkali membuat Gattuso menghadapi dilema. Italia kini punya empat penyerang yang bisa dimainkan bersamaan, yaitu Moise Kean, Mateo Retegui, Pio Esposito, dan Gianluca Scamacca. Hanya saja, perkembangan terbaru menyebutkan Scamacca masih mengalami cedera ringan dan mungkin tidak akan diturunkan.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto