Gennaro Gattuso telah menanamkan mental pemenang di timnas Italia. Namun, karakter bertahan ”Gli Azzurri” justru memudar.
09 Sep 2025 10:41 WIB · Olahraga
DEBRECEN, SELASA — Gennaro Gattuso dikenal publik sepak bola dunia sebagai sosok pemain dan pelatih yang urakan, serba tidak teratur, dan emosi meledak-ledak. Gaya itu mulai terlihat di tim nasional sepak bola Italia, terutama ketika ”Gli Azzurri” menaklukkan Israel, 5-4, Selasa (9/9/2025) dini hari WIB, di Stadion Nagyerdei, Debrecen, Hongaria.
Identitas Gattuso atau kita sebut saja, ”Gattusoisme”, meluruhkan filosofi sepak bola Italia yang mengagungkan keteraturan. Segalanya harus dalam kontrol dan terencana. Hal itu menjadi alasan catenaccio kekal di ”Negeri Pizza” karena gaya permainan yang teratur berlandaskan pertahanan kokoh.
Gattuso yang memulai debut menangani Italia pada September ini sepertinya sudah muak dengan serba keteraturan itu. Apalagi, perjalanan Italia tersendat menuju Piala Dunia 2026.
Sebagai anggota skuad Gli Azzurri yang menjadi juara di Piala Dunia 2006, martabat Gattuso dipertaruhkan. Ia tentu tidak ingin Italia kembali gagal menembus pentas sepak bola terakbar di dunia seperti edisi 2018.
Ia memainkan taktik 4-2-3-1 yang bertransformasi 4-4-2 di atas lapangan ketika menghadapi Estonia. Alih-alih langgeng dengan formasi itu, Gattuso menginstruksikan anak-anak asuhannya menjalani formasi 3-5-2 pada laga tandang kontra Israel.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/09/9bf11549-8e38-40cd-b6a0-cadf9f85ea98_jpg.jpg)
Pendekatan pola dua penyerang tengah yang dicanangkan Gattuso menunjukkan Italia butuh serangan lebih baik. Duet penyerang Moise Kean dan Mateo Retegui adalah andalan Gattuso di lini ofensif. Hasilnya, dua pemain yang menghuni daftar dua teratas pencetak gol terbanyak Liga Italia musim 2024-2025 itu memperbaiki produktivitas Italia.
Pada kemenangan kontra Israel, Kean mencetak dua gol dan Retegui menyumbang tiga asis. Khusus Kean, pemain Fiorentina itu mampu menjaga konsistensi mencetak gol setelah ikut menyumbang sebuah gol saat Italia melibas Estonia 5-0, Minggu (7/9/2025) WIB. Adapun Retegui tercatat menghasilkan dua gol ke gawang Estonia.
Bersama Kean dan Retegui, Italia mengoleksi rekor baru. Sebab, Italia pertama kali mampu mencetak lima gol pada dua laga beruntun sejak menjalani pertandingan perdana pada 15 Mei 1910.
”Mateo (Retegui) dan saya bekerja keras hari ini. Kami memberikan dampak dan berkolaborasi dengan baik. Jadi, kami ingin melanjutkan itu,” tutur Kean kepada Sky Sport Italia.
Meskipun demikian, Kean mengakui, kohesinya dengan Retegui belum pada tingkat terbaik. Ia menyadari duet Kean-Retegui masih dalam tahap awal untuk menjadi harapan baru timnas Italia demi merebut tiket ke Piala Dunia 2026.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/09/f8b9691b-2d03-4e2b-97e4-ddb624b0987e_jpg.jpg)
”Saya percaya mulai perlahan memahami karakter Mateo. Saya sudah mengenal arah bola yang diberikannya dan tinggal mengikuti itu,” ucap Kean tentang dua umpan berbuah gol yang disodorkan Retegui untuknya.
Ketajaman Kean dan Retegui membantu Italia bermain efektif dalam menyerang. Kualitas peluang Italia memang hanya berbuah 1,81 expected goals (xG). Akan tetapi, dalam realitasnya, mereka mampu mencetak empat gol.
Selain Kean, Matteo Politano (58’), Giacomo Raspadori (81’), dan Sandro Tonali (90+1’) juga ikut mencatatkan nama di papan skor. Gol Tonali membantu Italia mengunci tiga poin setelah Israel sempat menyamakan skor menjadi 4-4 ketika waktu normal babak kedua tersisa satu menit.
Hanya gelandang klub Maccabi Tel Aviv, Dor Peretz, pemain Israel yang mampu menaklukkan kiper Italia, Gianluigi Donnarumma. Momen itu tercipta pada menit ke-52 dan ke-89. Dua gol Israel lainnya disumbangkan lewat gol bunuh diri pemain Italia, yaitu Manuel Locatelli (16’) dan Alessandro Bastoni (87’).
Empat gol bersarang di gawang Donnarumma menunjukkan kekacauan di lini pertahanan Italia. Bukan karena buruknya kualitas pemain, para bek Gli Azzurri terlihat mudah panik ketika Israel mampu memasuki sepertiga akhir pertahanan mereka.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/09/53ec441e-8c49-4f31-b068-01bfd4f4664b_jpg.jpg)
Padahal, Israel hanya menghasilkan dua peluang besar. Israrel pun hanya mencatatkan 1,41 xG. Dua hal itu menunjukkan permainan menyerang Israel tidak istimewa.
”Laga ini seperti pembunuhan. Ini adalah pertandingan paling gila selama saya sebagai pelatih. Ini merupakan masalah saya, bukan pemain,” kata Gattusso kepada RAI Sport.
”Jika ingin memainkan cara bermain tertentu, kami harus lebih baik. Kami sangat gila secara sistematis dalam menyerang, itu yang ditunggu Israel. Mereka menerjang kami dengan serangan balik setiap saat. Kami seharusnya bertahan lebih dalam ketika unggul,” ujarnya.
Di luar kemasukan yang terlampau banyak, Italia membuktikan ”Gattusoisme” telah dirasakan seluruh anggota skuad.
Gli Azzurri tampil dengan mentalitas yang tangguh. Walaupun sempat dua kali tertinggal, kemudian disamakan skor pada menit akhir, pemain Italia mampu memberikan respons positif yang berujung gol penentu kemenangan dari Tonali.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/09/c71dc544-55e0-4860-ab65-d3143c90c177_jpg.jpg)
”Mentalitas adalah bagian terbaik meskipun kami tidak memiliki malam yang bagus. Kami menunjukkan hati dan hasrat untuk bereaksi. Dengan lebih baik pengalaman dan sedikit peningkatan, saya yakin kami bisa menangani keunggulan lebih baik,” tutur Gattuso.
Locatelli sepakat dengan Gattuso. Menurut gelandang Juventus itu, kemenangan sejatinya tujuan utama dari setiap laga, tetapi Italia harus meningkatkan performa demi bisa meraih hasil positif dengan nyaman.
”Saya pikir kami menegaskan karakter dari tim ini. Meskipun demikian, kami membuat banyak kesalahan yang harus dianalisis. Kami tidak memiliki pendekatan yang tepat sejak sepak mula dan itu tidak boleh terjadi lagi,” ucapnya. (AFP/REUTERS)
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto