Sekurangnya 30 persen dari 2,1 juta penduduk Gaza hidup tanpa makan sekali sehari. Pengepungan yang mengakibatkan kelaparan warga sipil adalah kejahatan perang
31 Jul 2025 19:30 WIB · Internasional
JAKARTA, KOMPAS — Dari tiga indikator kelaparan, dua telah terpenuhi di Gaza. Inilah kelaparan pertama di abad ke-21. Sudah lebih dari 100 penduduk Gaza tewas karena kelaparan. Para korban didominasi perempuan dan anak-anak.
Berdasarkan Integrated Food Security Phase Classification (IPC), dua indikator yang terpenuhi adalah konsumsi makanan di Gaza anjlok dan kasus malanutrisi meningkat di Gaza. Sementara indikator ketiga, tewas akibat kelaparan, masih menanti verifikasi lebih lanjut. Akan tetapi, bukti di Gaza terus menunjukkan kematian akibat kelaparan, gizi buruk, dan penyakit yang timbul akibat kelaparan.
Demikian disampaikan dalam siaran pers Kantor Informasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIC) Indonesia, Kamis (31/7/2025). UNIC menyiarkan paparan, antara lain, dari Program Pangan Dunia (WFP).
”Ini bukan lagi ancaman di kejauhan, melainkan bencana yang sedang berlangsung di depan mata kita, di layar televisi kita. Ini bukanlah peringatan, tetapi seruan nyata untuk bertindak. Situasi ini belum pernah terjadi sebelumnya di abad ini,” kata Direktur Penanganan Program Darurat WFP Ross Smith.
Ia juga menyebut, pengiriman bantuan dari udara sebagai langkah terakhir apabila tak ada pilihan lain. Pasokan bantuan udara terlalu mahal dan tidak efisien. Ada risiko tinggi jika dikirimkan ke lokasi padat. Setidaknya 11 warga Gaza terluka dalam distribusi bantuan udara pada Minggu lalu.
Lembaga-lembaga PBB menegaskan bahwa akses darat secara penuh sangat dibutuhkan untuk menjangkau kelompok paling rentan. ”Kami menyambut baik adanya jeda kemanusiaan. Namun, kami ingin niat baik ini dijalankan dengan sepenuhnya hingga ke titik distribusi bantuan, agar kami bisa bergerak lebih cepat dan efisien,” kata Smith.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/29/947e56bfe29d2dcd66241f5cd9f99903-TOPSHOT_PALESTINIAN_ISRAEL_CONFLICT_GAZA_AID_130130382.jpg)
”Selama masih ada penundaan, hambatan izin, dan ketegangan antara pasukan bersenjata dan warga sipil, kami belum akan melihat perubahan yang cukup untuk memperbaiki situasi kemanusiaan di Gaza,” lanjut Smith.
Tanpa makanan
Hingga sepertiga penduduk Gaza kini harus bertahan hidup tanpa makanan selama beberapa hari berturut-turut. Rumah sakit pun kewalahan, dengan lebih dari 20.000 anak-anak dirawat karena malanutrisi akut sejak April. Sedikitnya 16 anak di bawah 5 tahun meninggal sejak pertengahan Juli dengan penyebab kematian terkait kelaparan.
Laporan ini keluar setelah analisis IPC pada Mei lalu, yang memperkirakan bahwa seluruh populasi Gaza akan mengalami tingkat krisis pangan terparah pada September. Setidaknya 500.000 orang diperkirakan akan berada di level IPC Fase 5, yakni tahap paling ekstrem yang ditandai dengan kelaparan, kemelaratan, dan kematian.
Dari sekitar 2,1 juta penduduk Gaza, sekitar 90 persen telah mengungsi dan banyak yang sudah beberapa kali berpindah tempat. Sejak gencatan senjata terakhir berakhir pada 18 Maret, terdapat lebih dari 762.500 orang yang terusir dari tempat tinggalnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/26/2f6fe5471e3ab49d5f8b8b98d7d2368c-000_63EV3KE.jpg)
Sementara itu, akses bantuan kemanusiaan tetap sangat terbatas. Banyak konvoi bantuan dihalangi atau dijarah. Israel baru-baru ini mengumumkan ”jeda kemanusiaan harian”, dan lebih dari 100 truk bantuan berhasil masuk pada Minggu lalu.
Namun, PBB menegaskan bahwa Gaza membutuhkan pasokan besar makanan, bahan bakar, dan obat-obatan—bukan hanya aliran kecil bantuan. ”Bantuan yang masih mengalir sedikit ini harus berubah menjadi sebuah arus besar. Keadaan tragis ini harus segera berakhir. Kita butuh upaya maksimal dari semua pihak sekarang juga,” ujar Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.
Guterres mengatakan, laporan IPC membenarkan kekhawatiran Gaza berada di tepi jurang kelaparan. ”Fakta-faktanya sudah jelas dan tidak terbantahkan. ”Warga Palestina di Gaza menghadapi krisis kemanusiaan yang luar biasa parah. Ini bukan lagi sekadar peringatan, melainkan kenyataan pahit yang sedang berlangsung di depan mata kita,” ujarnya.
Laporan terbaru menyebutkan bahwa sekitar 60.000 warga Gaza telah tewas sejak perang pecah pada Oktober 2023. ”Perempuan dan anak perempuan di Gaza menghadapi pilihan yang sangat kejam: tetap di tempat perlindungan dan mati kelaparan, atau keluar mencari makanan dan air dengan risiko terbunuh,” ujar Sofia Calltorp, Direktur UN Women, di Geneva.
Ia kembali menegaskan seruan UN Women agar perempuan dan anak perempuan mendapatkan akses penuh terhadap bantuan kemanusiaan, pembebasan semua sandera, dan gencatan senjata segera.
”Kami juga berharap bahwa Konferensi Tingkat Tinggi Internasional pekan ini tentang penyelesaian damai atas isu Palestina bisa menjadi titik balik menuju solusi dua negara—di mana Israel dan Palestina bisa hidup berdampingan dengan damai dan aman,” tambahnya, merujuk pada inisiatif yang dipimpin Perancis dan Arab Saudi di markas besar PBB di New York. (REUTERS)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul