”Gaza Sound Man”, Detak Suara Kehidupan dan Kematian di Palestina

”Gaza Sound Man” menjadi film dokumeter menyetuh tentang konflik di Palestina. Semua terekam lewat suara.

04 Agt 2025 14:07 WIB · Internasional

Oleh Saiful Rijal Yunus

Suara drone tempur mengaum tidak kenal waktu. Rudal menukik. Suaranya menggelegar. Semua yang ada di sekitarnya hancur. Anak-anak menangis. Banyak warga histeris kehilangan orang tersayang.

Lewat film dokumenter Gaza Sound Man, suara-suara itu terekam. Semua mengisahkan genosida di Gaza, Palestina. Harapannya, semua bisa memicu kekuatan dan harapan di kemudian hari.

Film yang disutradarai Hossam Hamdi Abu ini tayang untuk umum di jaringan Al Jazeera sejak Februari 2025. Tidak butuh waktu, film mendapat perhatian luas penonton. Pada Festival Film Hak Asasi Manusia Karama Ke-15 di Jordania pada akhir 2024, film ini menerima Penghargaan Anhar yang bergengsi untuk Film Dokumenter Terbaik.

Mohamed Yaghi, penata suara yang mengisahkan genosida di Gaza melalui rekaman suara yang intim dan mengguncang. Kisah itu dirangkum dalam dokumenter Gaza Sound Man sepanjang 43 menit.

Tokoh utama dalam film ini adalah Mohamed Yaghi. Dia penata suara (sound engineer) di Gaza. Dengan keahliannya menata suara, ia membawa suara kepedihan di Gaza untuk dunia.

Saat merekam, ia selalu membawa mikrofon bertangkai panjang, lebih dari dua meter. Dia tak gentar berjalan di antara reruntuhan puing bangunan dan permukiman yang hancur lebur. Di setiap langkahnya, ia merekam kehidupan dan kematian di Gaza untuk dokumenter sepanjang 43 menit.

”Monster yang tidak pernah meninggalkan kami adalah suara drone tempur. Itu telah menjadi bagian hidup. Tidak ada satu pun suara yang kami rekam tanpa adanya dengung drone yang mengiringi,” kata Yaghi.

Menanam ketakutan

Film berfokus pada kisah empat orang yang mewakili pengalaman berbeda. Mereka bertahan hidup, kehilangan, dan tetap menuai harapan. Mulai dari anak yang kehilangan pendidikan hingga ibu yang melahirkan di tengah pembantaian.

Dalam satu potongan kisah, seorang anak ditanya oleh Yaghi mengenai apa yang dialaminya. Anak perempuan itu bercerita bagaimana suara rudal memorak-porandakan bangunan.

Tidak hanya menghancurkan bangunan, ledakannya juga menanam ketakutan dalam dirinya. Ia selalu bertarung dengan rasa takut tiada henti.

Mohamed Yaghi, penata suara yang mengisahkan genosida di Gaza melalui rekaman suara yang intim dan mengguncang. Kisah itu dirangkum dalam dokumenter Gaza Sound Man sepanjang 43 menit.

Penjelasan tim pembuat film seperti dikutip dari shortyawards.com, lembaga yang memberikan penghargaan kepada kreator konten media sosial, menuturkan, perjalanan film ini dimulai sebulan sebelum perang. Pendudukan di Tepi Barat telah berlangsung bertahun-tahun. Saat itu, Yaghi telah mulai merekam suara-suara di Gaza.

Ketika perang meletus pada 7 Oktober 2023, Yaghi melanjutkan karyanya, menangkap kontras tajam antara suara kehidupan dan kematian.

Merekam dalam kondisi ekstrem di dalam tenda di tengah gempuran tembakan artileri yang terus-menerus, tim tidak hanya menghadapi tantangan fisik, tetapi juga ruang kreativitas yang rapuh di tengah kehancuran. Lingkungan inilah yang menjadi latar belakang utama film ini.

Asap naik setelah ledakan di dekat bangunan yang hancur di dalam Jalur Gaza, Minggu, 6 Juli 2025.

Film ini memadukan momen-momen kehidupan sehari-hari dengan suara-suara perang yang menggelegar. Tidak hanya itu, juga menggarisbawahi perubahan drastis dalam lingkungan suara di Gaza sekaligus menyampaikan beban emosional perang.

Suara tersebut berfungsi sebagai jembatan menuju empati penonton. Mengubah suara-suara kasar yang mengganggu menjadi narasi tentang ketahanan dan keberlangsungan hidup.

”Sepanjang proses, kami menghadapi berbagai tantangan. Komunikasi antara tim di Qatar dan Gaza terhambat seringnya pemadaman listrik di Gaza,” tulis tim itu.

Asap mengepul dari sebuah ledakan di Jalur Gaza utara, pada hari Minggu, 27 Juli 2025.

Tidak hanya itu, Yaghi dan tim menghadapi tekanan psikologis. Mereka menyaksikan langsung kengerian perang dan hilangnya banyak keluarga.

”Terlepas dari kesulitan-kesulitan ini, kami terus maju, memanfaatkan tantangan-tantangan ini untuk membentuk inti emosional film. Kami memadukan urgensi dengan keterampilan untuk menciptakan cerita yang sangat berkesan bagi penonton,” kata keterangan itu

Setiap adegan, kata tim itu, dikonstruksi untuk mencerminkan ketangguhan masyarakat Gaza, dengan suara memainkan peran penting dalam mengungkapkan kisah mereka. Suara memiliki kekuatan unik membangkitkan empati dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh visual saja.

Dengan melibatkan penonton dalam pengalaman pendengaran Gaza, harapannya trauma menjadi narasi harapan. Semua diharapkan bisa memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang kekuatan jiwa manusia pada masa-masa sulit.

Dukungan dunia

Selain Gaza Sound Man, sebelumnya juga ada film No Other Land. Film ini bahkan meraih Piala Oscar untuk kategori Best Documentary Feature Film pada pergelaran 2025.

Dokumenter sepanjang 95 menit ini bercerita tentang penggusuran, perampasan, dan pembunuhan di Tepi Barat, Gaza, sejak 2019 hingga 2023. Tepat beberapa saat sebelum perang besar meletus pada Oktober 2023.

Film kolaborasi sutradara dari Palestina Basel Adra dan Yuval Abraham dari Israel ini menyampaikan kepada publik bahwa generasi muda kedua bangsa sudah muak dengan berbagai pertikaian.

”Dua bulan lalu, saya menjadi ayah. Saya berharap anak perempuan saya tidak mengalami segregasi seperti yang saya alami. Segala ketakutan bahwa hidup selalu diawasi, ditekan, dan digusur,” kata Adra (Kompas, 3 Maret 2025).

Basel Adra dan Yuval Abraham dalam salah satu adegan di No Other Land.

Pada akhir Juli lalu, Awdah Hathaleen, jurnalis, aktivis, yang turut membantu film ini, tewas ditembak pemukim ilegal dari Tepi Barat. Sebelumnya, produser film ini, Hamdan Ballal, juga ditangkap dan dipukuli pihak Israel.

Apa yang terjadi di Gaza, dan seluruh tempat di Palestina, telah menjadi salah satu bencana kemanusiaan terbesar akibat perang abad ini.

Setelah kematian warga sipil Palestina di Jalur Gaza melewati 60.000 jiwa, para pengambil kebijakan di negara-negara besar baru mulai bergerak. Warga sipil meninggal tidak hanya akibat senjata, tetapi juga kelaparan karena blokade bantuan kemanusiaan oleh Israel.

Anak-anak Palestina menunggu makanan di dapur amal di daerah Mawasi, Khan Yunis, Jalur Gaza bagian selatan, Selasa (22/7/2025). Kepala rumah sakit terbesar di Gaza mengatakan, 21 anak telah meninggal dunia akibat kekurangan gizi dan kelaparan di wilayah itu dalam tiga hari terakhir.

Di berbagai media beredar foto dan video warga Gaza dengan tubuh kurus kering, tulang menonjol, pipi cekung, dan mata membesar.

Memburuknya situasi di Gaza yang disebut di ambang kelaparan parah mendorong puluhan negara berkumpul di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Amerika Serikat, Senin (28/7/2025).

Dimotori Perancis dan Arab Saudi, mereka berupaya merumuskan jalan bagi penyelesaian konflik Palestina-Israel. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres membuka Konferensi Internasional untuk Penyelesaian Damai Masalah Palestina dan Implementasi Solusi Dua Negara.

Dua orang anak mengibarkan bendera Palestina dan bendera merah-putih di Masjid Raudatul Jannah, di Kendari, Sulawesi Tenggara, Rabu (19/5/2021). Aksi kemanusiaan menentang serangan Israel terhadap Palestina berdengung di banyak tempat, termasuk di Bumi Anoa, Sulawesi Tenggara.

”Konflik sudah tidak bisa dikelola lagi. Konflik ini harus diselesaikan. Dunia harus bertindak sebelum terlambat,” katanya (Kompas, Sabtu, 2/8/2025).

Suara dan dukungan untuk Palestina terus mengalir dari penjuru dunia. Donasi, film, musik, puisi, lahir dan menjadi bentuk empati atas apa yang terjadi di negara tersebut. Di Kendari, Sulawesi Tenggara, seorang bocah tujuh tahun membacakan puisinya dengan lantang.

”Aku percaya, suatu hari nanti

Tawa kami akan kembali

Bermain layang-layang di udara

Di bawah pelangi Palestina tercinta”


Kerabat Kerja

Penulis:

Saiful Rijal Yunus
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji