Lebih dari 100 jurnalis Palestina tewas akibat serangan Israel. Mereka melaporkan kondisi riil dan kengerian yang dialami rakyat Palestina.
12 Agt 2025 16:15 WIB · Internasional
Ratusan warga Gaza berdiri di halaman Rumah Sakit Al-Shifa yang hancur, Senin (11/8/2025). Mereka memberikan penghormatan terakhir bagi Anas al-Sharif, jurnalis televisi Al Jazeera. Sharif dan empat jurnalis tewas, Minggu, akibat serangan militer Israel.
Melewati gang-gang sempit yang penuh debu, para pelayat berjalan mengiringi jenazah kelima jurnalis beserta asisten umum mereka menuju pemakaman mereka. Tempat peristirahatan terakhir mereka sederhana, tidak ada nisan. Hanya gundukan tanah dengan secarik kertas berisi nama keenam pewarta di atasnya.
Selain Sharif, serangan itu juga menewaskan Mohammed Qreiqeh, Ibrahim Zaher, Moamen Aliwa, dan Mohammed Noufal. Qreiqeh koresponden, sedangkan Zaher dan Aliwa juru kamera. Adapun Noufal menjadi asisten umum tim tersebut.
Kematian para jurnalis Gaza menyentak banyak pihak. Kantor pusat Al Jazeera mengatakan, mereka tewas karena tenda yang didirikan bagi para wartawan di luar gerbang utama RS Al-Shifa dihantam roket Israel.
Militer Israel mengakui pembunuhan itu. Sejak lama mereka menargetkan Sharif, yang dicap sebagai bagian dari Hamas. Israel menuding pekerjaan jurnalis hanya sebagai kedok. Klaim itu diamplifikasi oleh sejumlah media Barat, salah satunya media Jerman, Bild.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/12/3d55812f131da04dc79ebb9f4d094567-Israel_Palestinians_131797114.jpg)
Manajemen Al Jazeera membantah tudingan itu. ”Dia bekerja selama perang di Gaza, melaporkan setiap hari tentang situasi rakyat dan operasi militer yang terjadi di Gaza,” kata Salah Negm, Direktur Pemberitaan Al Jazeera.
Banyak jurnalis Palestina kerap terpisah dari keluarga mereka. Sharif terakhir kali bertemu istri dan kedua anaknya pada Januari 2025 setelah hampir 15 bulan terpisah.
Mohamed Moawad, Pemimpin Redaksi Al Jazeera yang berpusat di Qatar, menggambarkan Sharif sebagai satu-satunya suara yang tersisa Gaza.
Kecaman mengalir dari berbagai penjuru dunia atas pembunuhan para jurnalis Palestina di Gaza. Al Jazeera mengatakan, pembunuhan itu upaya rezim yang putus asa untuk membungkam suara dan kejujuran dari lapangan selama operasi militer Israel.
Mereka melaporkan kondisi rakyat Palestina di Gaza yang tidak berdaya akibat gempuran Israel sejak Oktober 2023. Dari merekalah dunia menyaksikan penderitaan warga Gaza.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/11/188e0c451f5dc27af29f8b8d2690f454-AP25223263276081.jpg)
Al Jazeera menyatakan tidak akan berhenti meliput dan tidak akan keluar dari Gaza. Mereka mendorong media-media di dunia untuk merekrut dan mengirim lebih banyak jurnalis meliput wilayah Gaza.
Menurut data Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ), sebanyakk 184 jurnalis dan pekerja media Palestina tewas akibat serangan militer Israel sejak Oktober 2023. Dibanding perang Rusia-Ukraina, jumlah kematian jurnalis di Gaza 10 kali lebih banyak.
Angka ini berbeda dengan penghitungan RSF (Reporters Without Borders). Mereka menungkapkan, hampir 200 jurnalis Palestina tewas sepanjang operasi militer Israel.
CPJ menuding Israel menerapkan pola tertentu untuk membungkam kerja-kerja jurnalistik di Gaza. Militer Israel menuding para jurnalis itu bagian dari kelompok perlawanan tanpa memberikan bukti-bukti kredibel. Tudingan kerap dilayangkan kepada para jurnalis Al Jazeera yang berbasis di Qatar karena Doha memberikan tempat tinggal bagi sejumlah pemimpin Hamas dan kelompok perlawanan lainnya.
Pembunuhan jurnalis dalam perang tidak dibenarkan, kecuali bisa dibuktikan mereka kombatan aktif. ”Hukum internasional dengan jelas menyatakan, kombatan aktif adalah satu-satunya target yang dibenarkan dalam situasi perang,” ujar Jodie Ginsberg, Kepala Eksekutif CPJ.
Kematian Sharif dan rekan sejawatnya adalah bagian dari upaya Israel untuk menutupi kondisi riil di Gaza. Bukan hanya karena mereka melaporkan warga yang menjadi korban perang maupun kelaparan, melainkan karena Israel hendak mengambil alih Gaza.
Sejak awal operasi militer, Israel melarang jurnalis internasional memasuki Gaza, kecuali dipandu oleh mereka. Perjalanan jurnalis-jurnalis ini biasanya difasilitasi militer dan lokasinya pun telah ditentukan. Saat jurnalis internasional dilarang meliput, militer dan Pemerintah Isarel menggunakan pola kontra atas pemberitaan yang muncul, terutama dengan mempertanyakan afiliasi jurnalis peliput.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/12/b9d9eb0a3d89161ab37c9c76d895fd4c-TOPSHOT_PALESTINIAN_ISRAEL_CONFLICT_GAZA_AL_JAZEERA_131791790.jpg)
Sejumlah kantor berita asing, seperti Agence France-Presse, The Associated Press (AP), BBC News, dan Reuters, menjadi kantor berita yang setiap saat mengeluarkan laporan tentang situasi di Gaza. Sebuah laporan AP pada 7 Agustus dengan gamblang menggambarkan kelaparan yang dialami banyak warga Gaza.
Dalam laporannya, jurnalis AP mendeskripsikan keluarga Sally Muzhed yang harus bertahan hidup di hari itu dengan semangkuk terong rebus dan jus tomat yang encer. Makanan itu pun harus dibagi untuk enam orang.
”Semangkuk terong yang direbus dalam jus tomat encer pasti tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga Sally Muzhed yang beranggotakan enam orang seharian. Ia menyebutnya moussaka, tetapi rasanya seperti bayangan samar dari hidangan daging dan sayuran yang harum dan kaya rasa yang pernah memenuhi dapur-dapur Gaza dengan aromanya,” sebut laporan AP.
Laporan lain menceritakan tentang bagaimana seorang calon doker berusaha bertahan hidup dengan berlindung di dalam tenda pengungsi. Semua orang tahu tidak ada tempat yang aman di Gaza. Tempat-tempat pengungsian adalah sasaran empuk roket, rudal, meriam, dan persenjataan lain militer Israel. Gereja pun tak luput dari sasaran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/12/6ea3768959666fc28cbf8c1aeca2d6c5-PALESTINIAN_ISRAEL_CONFLICT_GAZA_AL_JAZEERA_131791626.jpg)
Proses pengiriman bantuan kemanusiaan dari pesawat pengangkut milik Angkatan Udara Jordania pun dibatasi dan disensor Israel. Lorenzo Tondo dari The Guardian menulis, ”Dilihat dari udara, Gaza tampak seperti reruntuhan peradaban kuno, yang terungkap setelah berabad-abad kegelapan.”
Sensor yang sama dihadapi media asing yang berkantor di Tel Aviv atau kota-kota utama di Israel. Kala Iran menyerang Israel, mereka merasakan pisau sensor militer dan pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Akan tetapi, tidak ada organisasi berita yang menandingi kekuatan dan kedekatan Al Jazeera di Gaza. Mereka juga telah membayar harga terberat. CPJ memperkirakan 11 jurnalis dan pekerja media yang berafiliasi dengan stasiun televisi ini tewas dan menjadi sasaran pembunuhan sepanjang operasi militer Israel di Gaza.
Negm dari Al Jazeera mengatakan, tidak mudah membawa orang ke Gaza. Namun, Gaza penuh dengan orang-orang terpelajar dan mereka yang terlatih dalam jurnalisme yang dapat membantu menyebarkan berita.
Ia meminta organisasi berita lain untuk turun tangan. ”Kami mendapatkan berita dari beberapa sumber di lapangan di Gaza, tidak hanya jurnalis, tetapi juga dokter, rumah sakit, pegawai negeri sipil, pekerja bantuan,” kata Negm. ”Banyak orang di Gaza berbicara kepada kami.”
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/18/6f0a1836-f046-4a4d-aafd-9d69c85ae140_jpg.jpg)
Lapora Al Jazeera dari dalam wilayah Gaza diakui kualitasnya. ”Anda benar-benar terkagum-kagum ketika karya jurnalistik (Al Jazeera) muncul,” kata Jane Ferguson, koresponden perang veteran dan pendiri Noosphere, pelantar independen untuk jurnalis.
Ia tidak ingat konflik yang lebih sulit untuk diliput oleh jurnalis. Dia telah berpengalaman meliput sejumlah konflik, antara lain Sudan Selatan, Suriah, dan Afghanistan.
Perang bukan satu-satunya perjuangan yang harus dihadapi jurnalis di Palestina. Seperti warga biasa lainnya, mereka juga berjuang mencari makanan untuk diri mereka sendiri dan keluarga mereka.
Sama halnya dengan orang-orang yang mereka liput. Ferguson belum pernah bertanya kepada reporter apakah dia punya cukup makanan untuk dirinya dan anaknya.
Tak semuanya mampu bertahan dengan kengerian yang mereka hadapi di Gaza. Abubakar Abed (22), jurnalis Palestina, saat berbicara di ”Democracy Now!” pada Mei, mengungkapkan, dirinya harus membuat keputusan yang sangat sulit. Dia harus memilih tinggal di Gaza dan melanjutkan kerja-kerjanya dalam kondisi yang sangat berat atau melanjutkan pendidikannya di Irlandia.
Ia mengalami malanutrisi. Ibundanya khawatir pekerjaan Abed sebagai jurnalis akan menjadikan dia dan keluarganya sebagai sasaran. ”Jika saya tetap tinggal, saya akan mati,” ujar Abed.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/03/199205cf87c77a2bbf5a833470ef2bcb-000_68JB2KE.jpg)
Ginsberg prihatin apabila kejadian yang menimpa jurnalis yang meliput di Gaza berlanjut tanpa kecaman atau impunitas. Bisa saja hal itu terus berulang.
”Mereka pada dasarnya mengakui di depan umum bahwa hal itu merupakan kejahatan perang. Mereka bisa melakukan itu karena tidak ada serangan lain terhadap jurnalis yang berdampak, baik dalam perang ini maupun sebelumnya. Tidak mengherankan Israel bisa bertindak dengan tingkat impunitas seperti ini karena tidak ada pemerintah internasional yang benar-benar menindaklanjutinya,” kata Ginsberg.
”Bagi saya, hal yang paling luar biasa adalah para jurnalis masih meliput (Gaza),” ujar Ginsberg, mengingat semua hal yang mesti mereka hadapi. (AP/AFP)
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto