Kampung boleh lenyap. Sekolah bisa hancur. Namun, semangat belajar siswa penyintas bencana di Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, tetap menyala.
09 Des 2025 19:53 WIB · Lingkungan
KOMPAS/PANDU WIYOGA
Di sebuah ruang kelas, siswa mengerjakan soal ujian semester ganjil dan para guru mengawasi. Berbeda dengan ujian biasanya, siswa dan guru di sana sama-sama tak mengenakan seragam. Siswa dari kelas I sampai kelas VI bahkan tercampur di satu ruang kelas.
”Kami dari SD (Sekolah Dasar) Negeri Garoga. Sekolah kami sudah enggak ada bentuknya,” kata guru kelas I, Henripay Nasution (34), Selasa (9/12/2025).
Desa Garoga adalah salah satu titik yang paling parah terdampak banjir bandang di Sumatera Utara. Secara administratif, desa ini masuk Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan. Lokasinya sekitar 400 kilometer dari Kota Medan. Hingga 9 Desember, tim pencari dan penyelamat (SAR) gabungan telah menemukan sedikitnya 22 korban meninggal di desa itu, masih ada belasan korban yang belum ditemukan.
Warga sekitar kini menyebut Garoga sebagai desa yang hilang. Sebab, dari ratusan rumah yang ada di desa itu, hanya segelintir yang kini masih dapat terlihat bentuknya. Rumah yang tersisa pun dalam kondisi rusak amat berat sehingga tak bisa dipakai lagi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/09/3d652ee2ba87478810f7cd024d1879e1-2.DSC09431.jpg)
Ada 110 anak-anak yang tadinya bersekolah di SD Negeri Garoga. Setelah gedung sekolah hancur, mereka menumpang belajar di SD Negeri Batu Hula yang jaraknya sekitar tiga kilometer.
”Hati saya hancur betul-betul, harusnya kami tidak belajar-mengajar di sini,” ujar Henripay yang mulai meneteskan air mata.
Henripay tinggal di mes SD Negeri Garoga bersama istrinya. Sekitar pukul 10.00, sang istri berteriak menyuruh dia segera lari dari rumah. ”Waktu mengunci rumah, aku berdoa dalam hati, ya, Allah jagai rumah ini karena hanya ini yang kami punya,” ujarnya.
Henripay dan istri kemudian menyelamatkan diri ke lantai 3 toko bangunan yang berjarak sekitar 100 meter dari sekolah. Tembok bangunan itu bergetar setiap kali dihantam potongan pohon-pohon besar yang hanyut terbawa banjir.
”Waktu air sudah surut, aku lihat ternyata fondasi toko itu udah menggantung di beberapa sisi. Kalau seandainya banjir itu lebih lama sedikit aja, aku kira kami enggak bakal selamat,” tuturnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/09/1a22f9ea3099117bc46aef8d474c3cdb-4.DSC09485.jpg)
Setelah mengungsi ke Posko Batu Hula, Henripay mendengar bahwa ada satu guru SD Negeri Garoga yang meninggal akibat banjir bandang. Adapun nasib murid-muridnya, sampai sekarang dia belum mendengar kabar yang lengkap apakah mereka semua selamat.
Selain siswa dari SD Negeri Garoga, ada pula siswa dari SD Negeri Huta Godang yang kini harus pindah belajar di SD Negeri Batu Hula. Kondisi SD Negeri Huta Godang masih tertutup lumpur dan potongan-potongan kayu. Tembok sejumlah ruang kelas juga bolong dihantam banjir bandang dua minggu lalu.
Guru kelas II, Astuti Pandiangan (30), mengatakan, siswa maupun guru dari SD Negeri Huta Godang kini seluruhnya harus mengungsi akibat bencana. Dari sebelas murid kelas II, ada tiga orang yang tidak masuk pada Selasa (9/12) itu.
”Para guru sudah mendatangi murid yang belum bisa masuk sekolah, soal ujian semester ganjil sudah kami berikan untuk nanti dikumpulkan pada Sabtu (13/12/2025). Kami (guru) juga menjadi korban bencana, jadi kami paham kondisi anak-anak,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/09/0edc919a6341b9e382b6895ab85c3df5-6.DSC09376.jpg)
Pantauan Kompas pada Senin (8/12/2025) di Pusat Kesehatan Masyarakat Batang Toru, ada sejumlah siswa SD yang masih harus dirawat karena mengalami luka akibat terseret banjir pada 25 November. Salah satunya adalah Cahaya Simatupang asal Desa Garoga yang duduk di kelas V.
Cahaya menderita sobek di tumit kaki kiri akibat tertancap potongan pohon sawit yang tersapu banjir. Bocah 10 tahun ini tersapu banjir yang melanda rumahnya di Desa Garoga lalu ditemukan di Desa Aek Ngadong yang berjarak sekitar dua kilometer.
”Kemarin kakinya bengkak dan satu minggu dia nangis kesakitan,” kata ibu Cahaya, Reni Panggabean (48).
Reni menuturkan, saat gemuruh banjir bandang terdengar sekitar pukul 10.00 pada 25 November, ia dan suami serta lima anak mereka lari ke Jembatan Garoga. Namun, air meluap melebihi tinggi jembatan dan menyapu mereka semua. Bencana itu merenggut nyawa anak sulung Reni.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/09/95d450a9273e34f38179925a74a83301-9.DSC09533.jpg)
”Itulah aku rasa kiamat. Enggak ingat lagi sama anak, enggak ingat lagi semuanya. Cuma berusaha menyelamatkan diri sendiri. Setelah surut, baru sadar anakku hilang semua,” ujarnya.
Serupa dengan Reni, Henripay juga merasa banjir bandang yang menyapu Garoga adalah pengalaman paling mengerikan dalam hidupnya. Tidak pernah terbayang sebelumnya, kampung masa kecil itu bakal lenyap hanya dalam beberapa menit.
”Aku pun heran bisa selamat. Aku rasa inilah kesempatan kedua yang dikasih Tuhan untuk orang-orang yang selamat. Istilahnya ini lahir kedua, jadi hidup yang sekarang harus dimanfaatkan dengan lebih baik,” ujarnya.
Data Badan Nasional Penangggulangan Bencana, hingga pukul 19.00 pada 9 Desember, ada 85 korban meninggal dan 30 jiwa masih hilang akibat banjir bandang di Tapanuli Selatan. Total ada 338 orang meninggal di delapan kabupaten/kota yang terdampak bencana di Sumatera Utara, dan 138 orang masih hilang.
Penulis:
Pandu WiyogaEditor:
Johanes Galuh BimantaraPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase