Megawati Soekarnoputri mengenang perjuangannya memulihkan nama baik Sukarno yang distigma lewat Tap MPRS No 33/MPRS/1967. Ia bersyukur ketetapan itu kini dicabut.
01 Nov 2025 18:32 WIB · Politik & Hukum
ANTARA FOTO/MONANG SINAGA
BLITAR, KOMPAS — Putri Presiden pertama Sukarno, Megawati Soekarnoputri, mengungkapkan pernah berulang kali mendatangi Sekretariat Negara hanya untuk menanyakan kejelasan atas tuduhan terhadap ayahnya yang tercantum dalam Ketetapan MPRS Nomor 33/MPRS/1967 tentang Pencabutan Kekuasaan Pemerintahan Negara dari Presiden Soekarno. Ia menyayangkan sosok proklamator sekaligus pendiri bangsa itu sempat tidak dihargai oleh bangsanya sendiri.
Dalam pidatonya di seminar internasional ”Commemorative Seminar of The 70th Anniversary of The 1965 Bandung Asian-African Conference: Bung Karno in a Global History” di Perpustakaan Bung Karno, Blitar, Jawa Timur, Sabtu (1/11/2025), Megawati mengenang masa ketika Sukarno masih sebagai presiden seumur hidup. Saat itu, banyak orang datang ke Istana untuk menemuinya. Ia bahkan mengibaratkan suasana Istana seperti pasar malam.
Namun, Presiden ke-5 RI itu mengaku, dirinya menjadi kecewa karena pada 1967 justru terbit Ketetapan (Tap) MPRS No 33/MPRS/1967 yang mencabut kekuasaan Sukarno. Dalam ketetapan itu, Sukarno distigma melakukan kebijakan yang secara tidak langsung menguntungkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan melindungi tokoh-tokohnya.
”Coba, masya Allah, yang namanya pendiri republik ini. Bukan karena saya putrinya, yes. Tetapi saya juga anak ideologinya. (Selama) 57 tahun 7 bulan (mendapatkan stigma itu), dan Bung Karno tidak menunjukkan sikap cengeng, dia (malah) diam,” ujar Megawati pada peringatan 70 tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA) yang dihadiri puluhan akademisi dan peneliti dari 32 negara.
Megawati mengatakan pernah bertanya kepada Sukarno alasan ayahnya memilih diam atas berbagai tuduhan tersebut. Jawaban yang ia terima, Sukarno tidak ingin melawan karena khawatir akan terjadi perang antarsesama anak bangsa.
”Pakai hati nuranimu. Kalau orangtuamu dibegitukan, apa rasanya? Tetapi, karena bapakku sendiri bilang, jangan melawan. Kalau nanti melawan, pasti yang terjadi perang saudara. Pasti (negara) yang luar akan datang! Lupa sejarah!” tegasnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/09/13/66c06b2e-739f-42c0-82f4-2ebeb74cf52f_jpg.jpg)
Menurut Megawati, bahkan keluarga pun tidak diperbolehkan membicarakan persoalan itu kepada siapa pun. Ia mengaku menolak banyak permintaan wawancara dari wartawan luar negeri yang ingin mengetahui peristiwa sesungguhnya.
”Pikirkan! Hanya demi negara yang dia buat. Hanya demi rakyatnya tidak perang satu sama lain, dia korbankan dirinya. Cerita, tidak boleh ngomong ke luar. Ada banyak waktu itu yang mau meng-interview dari luar negeri, apa kejadiannya Bung Karno? Kami semua tutup mulut demi republik ini, tahu?” katanya.
Megawati tak bisa membayangkan seorang proklamator bangsa mendapat stigma sedemikian rupa. Ironisnya, selama puluhan tahun, bangsa sendiri terkesan tidak ada yang membela Sukarno, sementara Tap MPRS tersebut justru disembunyikan.
Ada banyak waktu itu yang mau meng-interview dari luar negeri, apa kejadiannya Bung Karno? Kami semua tutup mulut demi republik ini.
Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) itu juga membantah tuduhan bahwa Sukarno melindungi PKI. Menurut dia, hal itu tidak mungkin terjadi karena ayahnya pasti memahami PKI sebagai partai terlarang.
”Bayangkan lho, seorang putra bangsa dibegitukan hanya karena cap. Enggak masuk akal. Tetapi tidak ada yang membela dia! Tidak ada yang berani mengatakan bahwa itu tidak benar! Nih, di situ dia (Sukarno) dengar apa yang saya katakan. Saya minta yang namanya keadilan dari rakyat Indonesia yang telah memperlakukan kamu seperti itu, kamu diam beribu bahasa. Ini adalah kebenaran dari sebuah kehidupan manusia. Jangan sampai, my friend, my best friend, (situasi ini) terjadi dengan your leader,” tuturnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/02/06/98542092-6447-4298-a4c2-b3d5b0ab8d75_jpeg.jpg)
Megawati bersyukur kini Tap MPRS itu telah dicabut. Menurut dia, pencabutan tersebut terjadi setelah dirinya terus-menerus mendatangi Sekretariat Negara untuk meminta kejelasan atas tuduhan terhadap ayahnya.
”Itu baru dicabut karena saya nggeremet, bergerilya. Dia (Sukarno) itu mau diapain? Ha? Udah meninggal, lho. Mosok ini Tap mau diterusin terus, enggak tahu isinya, tidak di-clear-kan, betulkah kesalahannya apa? Bayangkan, logika berpikir, dia presiden seumur hidup, tetapi Tap-nya bunyinya seperti dia mau mengudeta, kudeta siapa?” ujarnya.
Megawati menilai, seandainya Sukarno dianggap bersalah, seharusnya demi keadilan perkara itu dibawa ke pengadilan. Namun, kenyataannya, hal itu tidak pernah terjadi dan justru dibiarkan menggantung.
”Tetapi saya terus berjuang, akhirnya MPR membatalkan. Lho, Bung Karno dibegitukan oleh rakyatnya sendiri katanya, tetapi tanpa pengadilan, ha? Itu keadilankah?” ucapnya.
Megawati juga meminta maaf kepada para delegasi yang hadir karena bersikap emosional dalam pidatonya. Ia menilai, penjelasan tersebut penting agar para tamu dari luar negeri memahami siapa sebenarnya Sukarno.
”Saya cerita bahwa itulah Bung Karno. Coba, masa enggak ada hati nurani sama sekali kalian, hah? Hanya lip service, hanya di mulut saja. Tidak ada saya lihat orang yang matanya terang benderang sekarang. Kalau sudah kelihatan tatap matanya terang benderang, itu berarti jiwanya pun terang benderang. Coba saja lihat Bung Karno, matanya bersih, enggak burem,” ungkapnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/01/52d13600bd4ba07f2e2cd9460547c602-ff067602_c561_4106_976c_6e9b2cdcbfe0.jpeg)
Seusai menjadi pembicara kunci di seminar internasional, Megawati melanjutkan kegiatan dengan berziarah ke makam Sukarno yang terletak sekitar 100 meter dari Perpustakaan Bung Karno. Ziarah berlangsung khidmat.
Megawati yang mengenakan batik merah tampak didampingi Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto, Puti Guntur Soekarno, Romy Soekarno, serta jajaran DPP PDI-P lainnya. Sebelum ziarah, cuaca cukup cerah. Tak lama setelah doa dimulai, hujan deras mengguyur kawasan makam.
Seusai menjadi pembicara kunci di seminar internasional, Megawati melanjutkan kegiatan dengan berziarah ke makam Sukarno.
Dalam suasana khusyuk, Megawati menaburkan bunga di pusara sang ayah serta di makam kakek dan neneknya. Hujan yang kian deras tidak mengganggu kedalaman renungan dan doa yang dipanjatkannya bersama rombongan.
Di sekitar kompleks makam, tampak berderet karangan bunga dari 32 delegasi negara dan akademisi peserta peringatan 70 tahun KAA. Di antara karangan bunga itu tertulis nama negara seperti Brasil, Jerman, Rusia, India, dan China.
Selama hampir dua jam, Megawati dan rombongan berada di kompleks makam. Hujan deras pun menjadi saksi perjalanan ziarah putri sang proklamator itu.
Penulis:
Nikolaus HarbowoEditor:
Madina NusratPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul