PERANG TIMUR TENGAH

Gejolak Global Bisa Merambat ke Dompet Masyarakat

Rentetan dampak perang di Timur Tengah berisiko merambat hingga masuk ke dompet masyarakat. Bila tidak diantisipasi, daya beli masyarakat akan tergerus.

07 Mar 2026 17:58 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/NIKSON SINAGA

Oleh Agustinus Yoga Primantoro

Sepekan terakhir, perekonomian dunia bergejolak. Perang antara AS Israel-Iran sejak 28 Februari 2026 lalu telah meningkatkan ketidakpastian global. Serangkaian ini tak hanya terekam dalam berbagai indikator ekonomi, tetapi berisiko juga merambat hingga ke kantong masyarakat.

Ketegangan yang terjadi di Timur Tengah itu pun berujung pada penutupan Selat Hormuz oleh Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC). Akibatnya, distribusi minyak mentah dari kawasan Teluk pun terhambat. Padahal, Selat Hormuz menjadi jalur perdagangan bagi 26 persen kebutuhan minyak mentah dunia.

Penutupan tersebut mengakibatkan harga minyak mentah Brent menyentuh level tertingginya sejak November 2022. Pada Jumat (6/3/2026), harga minyak mentah Brent telah menyentuh 92 dolar AS per barel, melonjak 27,2 persen sejak konflik di Timur Tengah pecah.

Sejalan dengan perkembangan harga minyak dunia, pasar keuangan global pun ikut terguncang. Di AS, Indeks Dow Jones Industrial Average turun 2,65 persen dalam sepekan, begitu pula dengan Indeks S&P 500 yang turun 1,24 persen, sedangkan Indeks Nasdaq Composite turun 1,59 persen pada Jumat.

Perdagangan saham tsrpantau dari monitor di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (4/3/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun signifikan sebanyak 362,71 poin (4,57 persen) menjadi 7.577. Penurunan ini seiring meningkatnya kekhawatiran pasar global terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian perdagangan dunia. Kompas/Hendra A Setyawan

Sementara itu, indeks dolar AS terhadap mata uang utama (DXY) melonjak 141 basis poin ke level 98,99 selama sepekan terakhir. Lonjakan ini mengindikasikan investor mulai menghindari aset berisiko (risk-off) dan beralih ke kelas aset aman (safe haven), seperti dolar AS.

Mengutip kantor berita Reuters pada Sabtu (7/3/2026), kekhawatiran investor terhadap industri kredit swasta juga telah memicu pembatasan penarikan dana utang. Salah satunya oleh BlackRock, perusahaan manajemen investasi multinasional di AS. Ini dilakukan setelah terjadi lonjakan penarikan.  

Permintaan pengembalian dana, seperti HPS Corporate Lending Fund (HLEND) oleh investor ritel terus meningkat hingga 26 miliar dolar AS. Kini, permintaan penarikan dana telah melampaui batas 5 persen untuk pertama kalinya sejak dana tersebut didirikan.

”Hal ini seharusnya menjadi peringatan bagi industri dan regulator tentang risiko dana yang tidak likuid bagi investor ritel,” kata Greggory Warren, analis saham senior di Morningstar.

Infografik Tekanan Ekonomi Indonesia dan Gejolak Perang Iran

Dampak ke Indonesia

Salah satu dampak rambatan yang paling berpengaruh terhadap Indonesia adalah kenaikan harga minyak. Sebagai negara pengimpor bersih, lonjakan harga minyak dapat memicu dua skenario risiko bagi Indonesia, yakni menambah beban fiskal dan memicu inflasi.

Berdasarkan penghitungan dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), setiap kenaikan harga minyak mentah sebesar 10 dolar AS per barel di atas asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan membebani fiskal sebesar Rp 80 triliun.

Dalam asumsi makro APBN 2026, pemerintah menetapkan harga minyak mentah Indonesia (ICP) sebesar 70 dolar AS per barel. Dengan harga minyak mentah dunia saat ini menyentuh 92 dolar AS per barel, tambahan beban yang ditanggung oleh negara mencapai sekitar Rp 160 triliun.

Quote

Bila lonjakan harga minyak tertransmisi langsung ke harga BBM, biaya transportasi pun akan meningkat. Akibatnya, kenaikan harga tersebut juga akan mendorong lonjakan harga barang-barang kebutuhan pokok masyarakat.

Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Indef, Andry Satrio Nugroho, mengatakan, pemerintah perlu mengantisipasi risiko tersebut dengan menjaga disiplin fiskal. Apalagi, saat ini, beberapa lembaga pemeringkat internasional tengah menyorot pengelolaan fiskal Indonesia.

Di sisi lain, Indonesia akan memasuki momentum lebaran. Berkaca dari tahun-tahun sebelumnya, momentum ini akan diikuti oleh kenaikan harga kebutuhan pokok seiring dengan tingginya tingkat konsumsi masyarakat.

Mengutip laman resminya, PT Pertamina (Persero) telah mengumumkan kenaikan harga BBM nonsubsidi untuk wilayah dengan besaran Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) sebesar 5 persen per 1 Maret 2026.

Kendaraan mengisis bahan bakar di salah satu SPBU di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, Selasa (3/3/2026). Konflik di Timur Tengah yang dipicu oleh perang AS-Israel dan Iran dikhawatirkan akan mempengaruhi lonjakan harga minyak dunia yang juga akan berimbas pada harga BBM di Indonesia.

Bila lonjakan harga minyak tertransmisi langsung ke harga BBM, menurut Andry, biaya transportasi pun akan meningkat. Akibatnya, kenaikan harga tersebut juga akan mendorong lonjakan harga barang-barang kebutuhan pokok masyarakat.

”Kalau pada saat yang bersamaan biaya yang harus ditanggung atau dikeluarkan oleh masyarakat juga tinggi, mereka akan cenderung selektif dalam dalam konsumsi barangnya,” katanya saat dihubungi pada Jumat (6/3/2026).

Ia memperkirakan, aktivitas ekonomi selama momentum Ramadhan dan Lebaran cenderung masih menjadi penopang utama pada triwulan I-2026. Namun, pertumbuhan ekonomi pada 2026 kemungkinan tidak akan setinggi tahun lalu, lantaran masyarakat mulai mengerem belanja.

Maka dari itu, penting bagi pemerintah untuk kembali mempertimbangkan kebijakan efisiensi atau realokasi anggarannya dengan lebih memprioritaskan kepada belanja kesejahteraan, alih-alih program populis.

Infografik riset anggaran APBN terkait MBG.

Dihubungi secara terpisah, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal menyampaikan, pemerintah sejauh ini masih menahan harga BBM bersubsidi. Kenaikan harga masih sebatas pada BBM nonsubsidi.

Namun, tidak terutup kemungkinan pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi. Ini mempertimbangkan beban subsidi dan kompensasi oleh APBN seiring lonjakan harga minyak.

”BBM bersubsidi sebaiknya jangan dinaikkan karena itu sudah pasti akan semakin menekan kondisi daya beli masyarakat. Bukan hanya jangka pendek sampai dengan Lebaran, melainkan juga setelah Lebaran akan ada dampaknya,” ujarnya.

Quote

Yang kita khawatirkan adalah masyarakat yang paling rentan, yang sekarang ini sebetulnya sudah semakin turun daya belinya, yakni kelas menengah.

Menurut dia, pemerintah lebih baik mengevaluasi pos anggaran belanja yang selama ini membebani APBN. Salah satunya terkait dengan program prioritas pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), dan Koperasi Desa Merah Putih.

Realokasi berbagai pos anggaran belanja program tersebut setidaknya dapat memberikan ruang bagi fiskal untuk meredam dampak global bagi masyarakat. Selain itu, pemerintah juga dapat mengoptimalkan kebijakan pembatasan BBM bersubsidi, agar lebih tepat sasaran.

Peserta aksi membawa poster berisi tuntutan untuk mengevaluasi program Makan Bergizi Gratis di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu (1/10/2025). Massa aksi yang tergabung kedalam Suara Ibu Peduli Makan Bergizi Gratis (MBG) menuntut MBG harus efektif, tepat sasaran, dan berpihak kepada rakyat kecil. Mereka menyoroti banyaknya kasus siswa keracunan usai menyantap MBG di Indonesia. Menurut catatan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), korban keracunan MBG hingga 27 September 2025 mencapai 8.649 orang di 16 provinsi. Peserta aksi menuntut pemerintah untuk mengevaluasi total program MBG. Mereka juga meminta penyaluran MBG dilakukan bertahap mulai dari keluarga kelas bawah dan menengah.

Kelas menengah rentan

Faisal mengingatkan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau panjang (El Nino) akan datang lebih cepat pada semester II-2026. Kondisi ini akan berdampak terhadap produktivitas sektor pertanian.

Bila tidak diantisipasi, turunnya produktivitas sektor pertanian tersebut akan memicu inflasi pangan akibat berkurangnya pasokan. Faisal berpendapat, risiko tersebut pun saling berkelindan dengan tekanan dari sisi global yang mendorong kenaikan harga minyak.

”Yang kita khawatirkan adalah masyarakat yang paling rentan, yang sekarang ini sebetulnya sudah semakin turun daya belinya, yakni kelas menengah,” katanya.

Dalam tujuh tahun terakhir sejak 2018-2025, sebanyak 12,7 juta masyarakat kelas menengah Indonesia turun kelas. Penurunan ini mengindikasikan masih belum pulihnya daya beli masyarakat.

Infografik menunjukkan perubahan jumlah penduduk menurut kelasnya. Sumber: OCE Bank Mandiri

Risiko yang dihadapi masyarakat, terutama kelas menengah, tidak berhenti di situ. Gejolak yang  terjadi di pasar keuangan turut menambah daftar panjang risiko tergerusnya daya beli masyarakat.

Sejalan dengan kondisi global, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama lima hari perdagangan terakhir pun amblas 6,27 persen ke level 7.585,69. Ini diikuti dengan keluarnya investor asing yang mencatatkan jual neto sebesar Rp 2,48 triliun di pasar reguler.

Menurut Head of Industry and Regional Research PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Dendi Ramdani, penurunan IHSG tersebut secara tidak langsung turut memengaruhi belanja masyarakat. Ini terjadi seiring dengan bertambahnya jumlah investor individu (ritel).

Quote

Kalau harga saham turun kan kekayaan mereka turun. Kalau kekayaan turun, mereka akan lebih berhati-hati dalam berbelanja atau membeli barang-barang. Ujungnya ke daya beli masyarakat.

Mengutip data PT Bursa Efek Indonesia (BEI), jumlah investor pasar modal Indonesia pada 2025 meningkat 36,67 persen secara tahunan menjadi 20,3 juta investor. Dilihat dari porsi transaksinya, investor ritel masih mendominasi sebesar 49,9 persen.

”Kalau harga saham turun kan kekayaan mereka turun. Kalau kekayaan turun, mereka akan lebih berhati-hati dalam berbelanja atau membeli barang-barang. Ujungnya ke daya beli masyarakat,” tutur Dendi.

Di sisi lain, perkembangan dinamika global telah memicu kekhawatiran pasar. Lonjakan harga minyak mentah dunia dan kenaikan biaya logistik dikhawatirkan membuat inflasi meningkat. Akibatnya, arah penurunan suku bunga kebijakan oleh bank sentral cenderung berhati-hati.

Pengunjung antre membayar saat bazar busana muslim di mal Senayan City, Jakarta Selatan, Kamis (26/2/2026). Bazar ini diikuti oleh lebih dari 30 jenama Indonesia mulai dari hijab hingga asesoris dan tas jinjing. Bazar ini mengambil momentum kebutuhan belanja masyarakat menjelang perayaan Idul Fitri. Pengunjung membayar tiket untuk berbelanja di bazar tersebut. Sejumlah promo potongan harga ditawarkan oleh jenama-jenama yang ikut serta. Bazar ini juga menjadi momentum bagi para penyedia jasa titip belanja di tengah animo belanja warga yang masih tinggi.

Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Ekspektasi pasar terhadap arah pemangkasan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed) menurun, dari sebelumnya dua kali pada tahun ini menjadi hanya sekali. Perkembangan tersebut akan memengaruhi arah kebijakan Bank Indonesia (BI).

Di tengah tekanan nilai tukar dan risiko inflasi, otoritas moneter cenderung akan menahan tingkat suku bunga demi menjaga stabilitas ekonomi. Mengutip data Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah melemah 0,84 persen dalam sepekan terakhir menjadi Rp 16.919 per dolar AS.

Sementara itu, Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Februari 2026 mengalami inflasi sebesar 4,76 persen, di atas ekspektasi BI sebesar 1,5-3,5 persen. Dengan demikian, suku bunga acuan kemungkinan masih akan dipertahankan di level 4,75 persen.

”Walaupun di globalnya juga demikian juga karena ada risiko inflasi yang meningkat akibat dari perang dan trade war. Jadi, tidak mudah manage ekonomi ke depan,” ujar Dendi.

Pada akhirnya, kunci utamanya berada pada kebijaksanaan pemerintah dalam mengelola anggaran dan mengambil kebijakan di tengah situasi yang serba tidak mudah ini. Ujungnya ialah menjaga daya beli masyarakat mengingat perekonomian nasional sebagian besar ditopang oleh konsumsi rumah tangga.

Warga mengantre saat membeli nasi bungkus di Warteg di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (9/9/2025).  Warteg masih menjadi andalan masyarakat kelas menengah bawah karena harganya yang bersahabat.

Kerabat Kerja

Penulis:

Agustinus Yoga Primantoro
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase