Melalui Indonesia AI Day for Mining Industry 2025, Indosat menargetkan sektor pertambangan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau AI.
23 Apr 2025 19:49 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Operator telekomunikasi seluler Indosat Ooredoo Hutchison terus menggarap sektor pertambangan. Salah satu upayanya dengan menggelar Indonesia AI Day for Mining Industry 2025, yang mempertemukan ratusan pengusaha industri tambang.
Indonesia AI Day for Mining Industry digelar di Jakarta pada Kamis (24/4/2025). Acara ini bakal menggali potensi penerapan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan internet of things (IoT), dalam sektor pertambangan di Indonesia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/23/2de726ac1b0c97ef8f97d935d3a7cf84-20250423_122847.jpg)
Kegiatan tersebut tidak hanya menampilkan berbagai produk AI dan IoT yang dikembangkan Indosat, tetapi juga menjadi ajang pertemuan pengusaha tambang dan berbagai pemangku kebijakan. Mulai dari pemerintah, lembaga riset, hingga pengembang teknologi akal imitasi.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Rosan Roeslani dijadwalkan hadir di acara itu. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Tri Winarno juga akan berbicara.
Ketua Umum Indonesia Mining Association yang juga Presiden Direktur PT Amman Mineral Nusantara Rachmat Makkasau serta Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia Anindya Bakrie turut dijadwalkan sebagai pembicara. Praktisi dan ahli teknologi AI pun bakal berbagi pengetahuan di depan sekitar 500 peserta. Sebanyak 200 orang di antaranya merupakan pengusaha industri tambang.
Selain itu, acara juga menghadirkan sesi pertemuan eksekutif perusahaan pertambangan serta sesi pleno terkait peluang dan tantangan pengembangan AI di industri pertambangan.
Selama ini, industri pertambangan menghadapi berbagai tantangan, terutama tentang isu lingkungan dan keselamatan.
”Selama ini, industri pertambangan menghadapi berbagai tantangan, terutama tentang isu lingkungan dan keselamatan. Kehadiran AI akan sangat membantu mengurangi risiko-risiko di tambang,” ujar Muhammad Buldansyah, Director and Chief Business Officer IOH, Rabu (23/4/2025).
Menurut Buldansyah, Indosat selama ini telah mengembangkan teknologi AI yang dapat menjawab sejumlah kendala di industri pertambangan. Ia mencontohkan, alat perimeter intrusion detection system yang dapat mendeteksi potensi bahaya, seperti api di area pertambangan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/11/d491f8e8-f57a-4d81-a57d-010ae1773146_jpg.jpg)
Pihaknya juga membuat alat yang dapat mengukur besaran emisi yang dikeluarkan perusahaan. Data itu penting untuk menjaga lingkungan sekaligus mengatur energi. ”Dengan begitu, AI dapat meningkatkan produktivitas sekaligus membuat perusahaan tambang lebih efisien,” ujarnya.
Dengan AI, katanya, perusahaan akan terbantu untuk memastikan keselamatan pekerja. Ia mencontohkan, produk IoT terkait pakaian keselamatan yang dapat mengetahui keberadaan pekerja saat di dalam tanah. ”Ingat, tanpa keselamatan, perusahaan tidak berproduksi,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/14/bcafec45-7b56-473f-babe-a7fa7f7b33fe_jpg.jpg)
Padahal, sektor pertambangan menyumbang 9,34 persen untuk produk domestik bruto atau salah satu yang tertinggi selain industri pengolahan dan perdagangan. Pangsa pasar teknologi informasi dan komunikasi (ICT) pada 2025 juga diprediksi mencapai Rp 4,2 triliun.
Menurut Yudhi Hadiwibowo, Vice President Head of Business to Business (B2B) Product and Marketing Indosat, dari Rp 4,2 triliun itu, sekitar 33,3 persen berasal dari sektor energi dan sumber daya alam. Itu sebabnya, katanya, kegiatan AI Day for Mining Industry relevan bagi industri tambang.
Penulis:
Abdullah Fikri AshriEditor:
Maria Susy BerindraPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul