Erupsi Semeru kembali memperlihatkan alam yang terus berubah dan gagapnya sebagian masyarakat meresponsnya di tengah kemajuan teknologi. Semua perlu dimitigasi.
21 Nov 2025 16:17 WIB · Lingkungan
Kompas/Bahana Patria Gupta
Video warga yang terus merekam gumpalan awan panas Gunung Semeru ”memakan” Jembatan Gladak Perak di Lumajang, Jawa Timur, tidak lepas dari mata Dwi Setiadi, warga Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (21/11/2025).
Meski Bandung berjarak 600 kilometer dari Gladak Perak, Dwi kesal. Dia geregetan dengan ulah perekamnya yang tak segera angkat kaki saat awan panas semakin besar. Kamera handphone masih saja terus merekam kejadian langka itu.
”Dikira awan panas itu gunsmoke dangdutan. Untungnya si perekam tidak apa-apa. Tapi, bagaimana kalau nanti dampaknya lebih besar atau ulahnya ditiru orang lain dengan kondisi atau karakter wilayah berbeda,” kata Dwi.
Awan panas akibat erupsi Semeru kali ini memang mudah bikin orang terpana. Gumpalannya menjulang tinggi. Besi-besi Jembatan Gladak Perak seperti terbenam didekapnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/19/c9a377bffdb7b7d2d73a258acf541916-acf42b05_d034_4365_a9af_49b1e70f8a22.jpeg)
Tidak seperti sebelumnya, awan panas kali ini lebih jauh, mencapai 13 kilometer (km). Dua tahun lalu, jarak awan panas dari kawah tercatat 11 km.
Video itu lantas viral. Tidak hanya sampai ke warga sekitar Lumajang, tetapi menyebar ke banyak tempat berkat kecanggihan teknologi. Ada yang suka karena mendapat informasi heboh. Namun, sejumlah kalangan menyayangkannya. Dwi di Bandung jadi salah satu yang kesal dengan ulah itu.
Tidak hanya Dwi, Badan Geologi juga menyayangkan hal itu. Instansi pemerintah ini membawahkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). PVMBG berwenang menentukan status aktivitas gunung api, termasuk jarak aman untuk manusia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/20/be53f479c040aa8f900ad0d6a8af7987-20251120BAH45.jpg)
Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid mengingatkan agar jangan pernah mencobai awan panas. Lebih dari kabut biasa, awan panas sangat berbahaya.
Kecepatannya bisa mencapai 300 km per jam. Suhunya bisa lebih dari 400 derajat celsius. Tidak hanya gas dan abu, awan panas juga membawa bongkahan material berbahaya.
”Hindari segala aktivitas hanya untuk konten. Sebaiknya tetap mencari informasi yang benar terkait apa yang mesti dilakukan saat erupsi gunung api,” katanya.
Ke depan, kewaspadaan itu mesti tetap dijaga. Apalagi, dalam beberapa kejadian erupsi, Semeru tidak mudah diprediksi. Hal ini rawan memicu tidak idealnya proses mitigasi.
Tahun ini, misalnya, durasi peningkatan status Semeru terjadi cepat dan singkat. Setelah Semeru memuntahkan awan panas pada Selasa (18/11/2025) pukul 14.31 WIB, PVMBG menaikkan status gunung dari Level II atau Waspada ke Level III atau Siaga. Saat itu, erupsi sudah terjadi.
Hanya berselang sejam kemudian, statusnya kembali naik. Pukul 17.00 WIB, status Semeru naik dari Siaga ke Level IV atau Awas. Saat itu, awan panas sudah meluncur belasan kilometer.
Ahli vulkanologi Surono mengatakan, penetapan kenaikan status Awas di Semeru sebenarnya bisa dilakukan lebih dini. Merujuk pada data kegempaan dalam 90 hari terakhir, penetapan status Awas sebaiknya dilakukan paling cepat tanggal 15 November 2025 dan paling lambat 17 November 2025.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2017/06/17/4dfd878c-c136-449d-bb2e-fa548bc743d1_jpg.jpg)
Pada periode itu, katanya, jumlah gempa letusan sudah meningkat tajam, dari biasanya 100-150 kali per hari menjadi di atas 150 kali hingga lebih dari 200 kali per hari.
Artinya, ada tekanan di Semeru yang naik tajam, menumpuk, dan terakumulasi. Dengan data seperti itu, kemungkinan 90 persen Semeru akan meletus.
Ditanya apakah erupsi yang terjadi mirip dengan tahun 2021, mantan Kepala PVMBG dan Badan Geologi ini mengatakan, mekanisme letusan kala itu dengan kejadian sekarang berbeda.
Pada tahun 2021, erupsi diiringi kubah yang gugur akibat terkena air hujan. Hal itu lantas memicu keluarnya gas, material halus dan kasar, kerikil, hingga bongkahan yang berujung awan panas guguran.
”Hal itu tidak ada hubungannya dengan proses peningkatan aktivitas tubuh gunung api. Tidak ada tekanan aktivitas vulkanik berujung erupsi besar di Semeru. Saat ini, awan panas terbentuk karena letusan. Proses ini terkait erat dengan aktivitas gunung api, gempa, temperatur, hingga emisi gas,” tuturnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/12/07/e9db1a07-b48c-4e01-991e-f9ad966fe88c.jpg)
Meski tak terkait dengan peningkatan aktivitas gunung api, dinamika yang terjadi di Semeru ini berujung fatal. Sebanyak 22 orang meninggal. Mayoritas adalah warga Pronojiwo, Lumajang. Sejumlah korban ditemukan terkubur di rumah.
Berkaca dari kejadian ini, Surono mengatakan, jalan terbaik berhadapan dengan potensi erupsi Semeru adalah tidak ”melawannya”. Dia mengimbau warga untuk tidak memaksakan diri merekam erupsi demi konten.
”Bisa saja, potensi letusan akibat erupsi akan semakin tinggi di kemudian hari. Telat sedikit, nyawa bisa menjadi taruhannya,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/21/38f7a65f69fec7125e078d50067f9e20-20251121BAH26.jpg)
Ia juga berharap semua permukiman di kawasan terlanda awan panas di kawasan rawan bencana III seharusnya segera direlokasi. Daerah itu seperti Desa Supiturang dan Desa Oro-oro Ombo di Kecamatan Pronojiwo serta Desa Sumberwuluh di Kecamatan Candipuro. Keduanya berada di Lumajang.
Dia yakin, peristiwa serupa atau bahkan lebih parah akan datang kembali. Meski belum diketahui kapan datangnya, dampaknya pasti akan dirasakan warga yang tetap ingin bertahan di daerah rawan.
”Intinya, jangan melawan alam,” ucap Surono.
Sementara itu, tren warga yang nekat merekam atau sengaja berlama-lama di daerah bencana juga diwaspadai. Dampaknya bisa jadi tidak akan lebih ringan ketimbang peristiwa alam.
Ranny Rastati, peneliti media di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menyatakan, fenomena warga kerap mendekati dan merekam bencana bisa disebabkan beberapa hal.
Pertama, adanya kedekatan emosional warga dengan lingkungan tempat tinggalnya. Dalam konteks erupsi Gunung Semeru, misalnya, warga bisa jadi merasa fenomena guguran awan panas adalah peristiwa langka yang jarang terjadi.
Mereka merasa jadi bagian ”netizen journalism” yang merekam sesuatu yang ekstrem, menarik, sehingga dia mendapat perhatian dan validitas sosial.
Dengan perasaan demikian, mereka ingin menjadi saksi mata dan berkeinginan menjadi perekam utama kejadian langka bersejarah (first-hand documentation).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/06/02/2cde516f-044a-4041-941d-a760aa373889.jpg)
Fenomena itu didukung dengan banyaknya kanal media sosial yang bisa menyebarluaskan dokumentasi yang diambil. Dorongan itu lebih kuat sehingga aspek keamanan pribadi di tengah bencana dikesampingkan.
”Mereka merasa jadi bagian netizen journalism yang merekam sesuatu yang ekstrem, menarik, sehingga dia mendapat perhatian dan validitas sosial,” ujar Ranny.
Kedua, ada istilah bystander risk perception. Secara sederhana, ini adalah persepsi bahwa seseorang menjadi penonton terhadap sesuatu, termasuk bencana, dan merasa terpisah dari bahaya.
Alih-alih menyelamatkan diri sendiri, persepsi itu membawa seseorang untuk diam dan menonton bencana yang terjadi karena memosisikan diri sebagai penonton.
Dalam konteks tsunami, misalnya, seseorang tanpa sadar diterjang gelombang air laut sebelum sempat menyelamatkan diri.
Menonton, mendekati, dan mendokumentasikan bencana pada jarak tak aman tidak hanya berisiko bagi satu orang. Ranny mencontohkan, pernah ada eksperimen sosial seseorang berhenti di tepi jembatan dan melihat ke bawah jalan.
Tindakan tersebut lama-lama diikuti orang yang melintas, mulai satu orang sampai banyak orang berkerumun sehingga menimbulkan kemacetan. Eksperimen tersebut menunjukkan, tindakan menonton, mendekati dan mendokumentasikan bencana pada jarak tidak aman bisa diikuti orang lain di sekitar yang penasaran.
Dalam konteks bencana, hal ini bisa mengganggu proses evakuasi tim penyelamat. Risiko lebih besarnya ialah berpotensi menambah korban dari bencana yang sedang terjadi.
”Saat terjadi sesuatu yang berbahaya, itu bisa membahayakan orang lain yang ikut-ikutan,” katanya.
Dalam catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, kegiatan ikut-ikutan ini malah menambah bencana baru. Hal ini terjadi pada banjir bandang di Kecamatan Padang Guci Hulu, Kabupaten Kaur, Bengkulu, 19 Januari 2020.
Sedikitnya 30 warga menonton banjir bandang dari atas jembatan gantung Cawang. Tiba-tiba jembatan putus karena tak kuat menahan beban. Bencana baru muncul. Sembilan jiwa tewas dan satu hilang.
Saat terjadi sesuatu yang berbahaya, itu bisa membahayakan orang lain yang ikut-ikutan.
Oleh karena itu, Ranny merekomendasikan pemangku kepentingan untuk kreatif dalam sosialisasi penyelamatan diri saat bencana melanda. Ia menekankan hal ini dilakukan berkala di institusi pendidikan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/02/02/bc926668-1c6c-482b-bc3f-ccdcc111670b.jpg)
Selain itu, ia menyarankan agar ada imbauan berbasis audiovisual, bukan hanya imbauan tertulis atau pengumuman melalui pengeras suara. Melalui video, misalnya, seseorang bisa membayangkan bahaya dan dampak dari bencana yang melanda.
”Konten edukasi ke masyarakat ini bisa juga menggunakan platform digital, seperti media sosial, bisa juga melibatkan influencer yang tepat,” katanya.
Potensi bahaya bisa datang dari mana saja. Jika tidak waspada, alam atau ulah manusia menyediakan ancaman serupa.
Penulis:
Sucipto, Cornelius HelmyEditor:
Irma TambunanPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti