Gelisah Menanti Lanjutan Baku Serang AS-Yaman

Houthi mengancam akan menyerang lagi kapal-kapal dagang dan kapal Angkatan Laut AS di Laut Merah.

18 Mar 2025 08:30 WIB · Internasional

Oleh Helena Fransisca Nababan

SANAA, SELASA — Amerika Serikat dan Houthi melanjutkan saling ancam selepas saling menembakkan rudal. Bedanya, Washington tak hanya mengancam Sanaa. Amerika Serikat juga mengancam Iran. Baku serang itu semakin menutup peluang Laut Merah kembali aman sepenuhnya.

”Kalau Amerika meneruskan agresi mereka terhadap negara kita demi mendukung Israel, maka (serangan) itu memaksa kita melawan balik,” kata Abdul Malik zl-Houthi, pemimpin kelompok Ansar Allah Yaman atau nama resmi kelompok Houthi, Senin (17/3/2025) malam waktu Sanaa atau Selasa dini hari WIB.

Jet-jet tempur AS menyerang Sanaa dan Saada di Yaman, Sabtu (15/3). Serangan itu menewaskan sedikitnya 53 orang dan melukai hampir 100 orang. Menurut Washington, Houthi melancarkan membajak dan menyerang kapal-kapal AS di Laut Merah, salah satu koridor pelayaran tersibuk di dunia.

Al-Houthi mengatakan, Houthi menyilakan kapal-kapal yang tidak terafiliasi ke Israel dan pendukungnya berlayar dengan aman di Laut Merah. Larangan berlayar untuk kapal Israel dan sekutunya disebut sebagai tahap awal. ”Kami tak akan ragu, kalau memang dibutuhkan, kami akan bersiap,” ujarnya sebagaimana dikutip Al-Mayadeen.

Panglima sayap militer Houthi, Yahya Saree, menyebut, kapal induk USS Harry Truman tak berani mendekati Yaman. Kapal induk pengangkut jet F/A-18 penyerang Yaman itu bertahan di ujung selatan Terusan Suez.

Merujuk pada data pergerakan kapal, sejak Jumat pekan lalu, sebenarnya kapal induk itu sudah di sana. Jet-jet F/A-18 terbang hampir 1.000 kilometer untuk menembakkan rudal ke sejumlah kota di Yaman.

Sementara Presiden AS Donald Trump tak cuma menyalahkan Houthi di Yaman. Trump menegaskan, Iran akan bertanggung jawab atas setiap serangan oleh Houthi.

”Setiap tembakan yang dilepaskan oleh Houthi akan dipandang, mulai saat ini, sebagai tembakan yang dilepaskan dari senjata dan pimpinan Iran. Iran akan bertanggung jawab dan menanggung akibatnya, dan konsekuensinya akan mengerikan!” tulis Trump di media sosial.

Kepala Operasi Kantor Staf Gabungan AS Letnan Jenderal Alex Grynkewich mengatakan, serangan AS kepada Yaman kali ini berbeda dibandingkan dengan periode sebelumnya. Pekan lalu saja, AS menyerang setidaknya 40 lokasi. Sasarannya para operator pesawat nirawak dan lokasi peluncuran rudal serta nirawak Houthi.

Ia mengklaim, puluhan operator senior pesawat nirawak Houthi tewas dalam serangan pekan lalu. Sebaliknya, Houthi menyebut 53 warga sipil tewas akibat serangan AS.

Seorang pejabat AS yang menolak identitasnya diungkap menyebut, serangan ke Yaman bisa berlangsung sampai beberapa pekan ke depan. Skala dan waktu bergantung keputusan Houthi.

Houthi supporters chant slogans during an anti-U.S. and anti-Israel rally in Sanaa, Yemen, Monday, March 17, 2025. (AP Photo/Osamah Abdulrahman)

Tak cuma Houthi, serangan AS ke Yaman pekan lalu ditanggapi oleh warga Yaman. Pada Senin di Sanaa, ribuan orang unjuk rasa untuk memprotes serangan tersebut.

Sementara kantor berita Iran, IRNA, menyiarkan pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi. ”Pemerintah AS tak berwenang atau punya urusan mendikte kebijakan luar negeri AS. Era itu selesai pada 1979,” tulisnya di media sosial.

Ia merujuk pada ancaman Trump agar Iran berhenti mendukung Houthi. Ia juga merujuk pada tahun revolusi Iran yang menggulingkan pemerintahan Shah Reza. Pemerintah itu dekat dengan AS.

Araqchi menyebut, AS seharusnya mawas diri dan memikirkan dampak dukungan tanpa syaratnya kepada Israel. Dukungan itu menjadi salah satu penyebab Israel terus melancarkan genosida di Gaza. ”Lebih dari 60.000 orang Palestina tewas dan warga dunia meminta pertanggungjawaban AS,” lanjut Araqchi.

Saling ancam AS-Iran-Houthi itu membawa kabar buruk bagi pebisnis pelayaran. Houthi berkeras, serangan ke kapal-kapal Israel dan pendukung untuk menekan Israel agar menghentikan aneka kekejaman terhadap Palestina.

Sejak November 2023, Houthi gencar menyerang aneka kapal Israel dan pendukungnya di ujung selatan Laut Merah. Ujung itu berupa Selat Bab al-Mandab yang sempit.

Serangan-serangan kelompok Houthi sudah memaksa perusahaan untuk mengubah rute kapal ke perjalanan yang lebih jauh dan lebih mahal di sekitar Afrika Selatan. Serangan Houthi mengganggu perdagangan global sejak saat itu hingga sekarang. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .